Posts by category
- Category: Artikel BIL Fest
- Category: Artikel Populer
- Category: Cakrawala
- Category: Cerita
- Category: Cerita Perjalanan BIL Fest
- Category: Cerpen
- Category: Esai
- Mencatat May Day 2026 di Monas
- Tabiat Asbun
- Menagih Keamanan di Balik Riuhnya Perayaan
- Fenomena Seni Sebagai Gaya Hidup Baru di Kalangan Generasi Z
- Perjuangan Gen Z Menghadapi Quarter-Life Crisis di Tengah Tekanan Sosial dan Ketidakpastian Masa Depan
- Di mana Kartini Ketika Hari Perayaannya?
- Pertanyaan Orang Luar Banyumas: Kenapa yang Lebih Terkenal Purwokerto?
- Seperti Utang, Nikmat Harus Dibayar Tuntas
- Di Luar Pusat: Seni Rupa Banyumas sebagai Praktik Bertahan
- Marwah Seorang Penulis
- Kambing Hitam itu Bernama Minat Baca
- Membungkam Imajinasi Sosial “Jadi Gus”
- Paradoks Ketegasan: Mengapa Pemimpin Perempuan yang Tegas Justru Dilabeli “Bossy”?
- Seputar LWAPS
- Pendidikan dan Fakultas Kebahagiaan
- Tentang “Nilai Seni”
- Kebebasan di Dunia Kuliah: Antara Peluang dan Jebakan Rasa Malas
- Organisasi Instruksi dan Bayang-bayang Feodalisme
- Event Budaya, Konser Besar, dan Cara Kita Menilai Dampak
- Di Bawah Cahaya Obor: Tradisi Menyambut Kemenangan di Desa Klahang, Sokaraja
- Ngapak: Bahasa yang Lebih Cepat Ditertawakan daripada Didengarkan
- Kepungan dan Ruang Kehangatan Masyarakat Gumelar
- Kita Pernah Lebaran Minimalis
- Benarkah Ada Islam di Jepang?
- Sapaan Kita, Identitas Kita
- Dua Wajah Ramadan
- Jika Semua Manusia Berasal dari Jawa, Perintah Puasa Tak Lagi Perlu Sebagai Syariat
- Saat Hafalan Al-Qur’an Menjadi Branding, Di situ Saya Malah Melihatnya Semakin Terasing
- Bukan Salah Jurusan, Tapi Salah Strategi: Seni Mengembangkan Diri dalam Belajar Matematika
- Menulis dari Rintik yang Luruh: Proses Kreatif Rintik Hujan di Atas Buku Harian
- Pendidikan yang Pelan: Menemukan Kembali Makna Belajar di Era Serba Cepat
- Zakat: Membersihkan Diri Melalui Refleksi Sosial
- Memahami “Survival Mode”: Menarik Diri dari Dunia
- Menjadi Minoritas di Tengah Tuli
- Pemerintah Harus Sedikit Lebih Punk
- Ganja Medis Bukan Hanya Soal Obat Melainkan Kebebasan dari Penderitaan yang Kita Abaikan
- Kyai Ahmad Muta’alim Merawat Islam dari Akar: Menjadi NU Jalur Pelosok
- Ramadan Sebagai Katalisator dan Penggeser Paradigma
- Siapa yang Menentukan Nilai Sebuah Karya?
- Kematian dan Absennya Kekuasaan
- Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar di Bulan Ramadan dalam Proses Pelayanan Publik
- Generasi Baru Peranakan di Tengah Perkawinan Lintas Etnis
- Bahasa Isyarat Indonesia: Nyawa Literasi bagi Komunitas Tuli
- Risalah Sepulang Juguran Syafaat ke 155
- Burisrawa Gandrung, Cinta Buta: Sebuah Ketulusan atau Kebodohan?
- Solidaritas Perjuangan Kawan Tuli di Terminal Bulupitu Purwokerto
- Gentrifikasi Sosial Generasi Muda dalam Bayang-bayang Perubahan Lanskap Kota
- Prostitusi Jurnalisme
- Pahatan Karya Seni Tuhan
- Mayoran di Kalangan Pesantren: Tradisi Penguat Kebersamaan
- Pergeseran Ekologi Informasi dan Matinya Kepakaran
- Aktivisme Tanpa Kesadaran Kelas sebagai Omong Kosong Perubahan
- Affiliator : Mungkin Bisa Kaya tapi Pasti Dapat Dimiskinkan Oleh Platfrom
- Manusia dan Sebuah Perjalanan Menuju Tuhan
- Tubuh dan Pikiran yang Didisiplinkan
- Perubahan Datang Tanpa Permisi: Jalan Hidup Tetap Personal
- Menghidupkan Rodat Aksimuda Banyumas
- Paradoks Usia: Budaya yang Muda disalahkan, Apakah Menjadi Tua Jaminan Lebih Arif
- Bahasa, Konsensus, dan Dimensi Eksperimental dalam Puisi
- Narapati Basukarna: Sebuah Kehormatan, Kesetiaan dan Pengorbanan
- Disrupsi AI yang Tersesat: Ketika Intelektualitas Kalah oleh Filter Viral
- Membela Hak untuk Mencintai dan Dicintai Tanpa Syarat dari Negara
- Apa yang Sebaiknya Dipahami Sebelum Turun ke Jalan
- Tentang Film Jawa Ngapak dan Sudut Pandang Fangirl Bayu Skak
- Meski di Balik Jeruji Besi, Suara-Suara yang Dikriminalisasi Semakin Kuat Membungkam Ketidakadilan
- Di Balik Gerak Sejarah: Kekuasaan, Pengorbanan, dan Konflik Kelas
- Tuhan, Kucing, Kapitalisme Lahan
- Dunia yang Terdistorsi: Refleksi Konflik Attack on Titan dalam Realitas Demonstrasi dan Kekuasaan di Indonesia
- Surat untuk Gadis Mandailing
- Suara Maneh Maulu yang Saya Dengar saat Menutup Halaman Terakhir Novel “Tak Ada Embusan Angin” Karya Aveus Har Pasca Bencana Aceh-Sumatra 2025
- Finna, Keluarga Caca, dan Bencana-Bencana
- Dera dan Perjuangan Atas Lingkungan Hidup
- Membaca Krisis Petani Muda Di Tengah Program Ketahanan Pangan
- Hukum Profetik sebagai Jalan Alternatif dalam Membangun Paradigma Hukum Berkeadilan
- Mengapa Revolusi Tahun Baru Terasa seperti Omong Kosong?
- Mengapa Gen Z Merindukan Keterbatasan Jaringan? Sebuah Catatan Batas Desa dan Layar
- Isu Ekologi, Kastrasi, setelah Dengkuran Kucing Tak Ada Lagi
- Demam Sukuisme Digital: Bom Waktu di Panggung Virtual
- Rabi’ah Adawiyah: Romansa Ilahi Tanpa Kepentingan
- Media Sosial: Jembatan Literasi atau Jurang Disinformasi?
- Indonesia dan Inflasi Pendidikan
- Tan Malaka dan Kita: Menuju Perubahan Cemerlang
- Perempuan dalam Karya Sastra: Kecantikan yang Dinarasikan
- ‘Dalan Anyar’ di Purwokerto: Berisik, Ramai, tapi Anehya Bikin Betah
- Mengapa Purwokerto Terlalu Nyaman untuk Dibenci, tapi Terlalu Sepi untuk Dicintai?
- Ketika Kebersamaan Hanya Menjadi Bahasa
- Tantangan Mempopulerkan Buku Islami VS Popularitas Buku Ateisme
- Indonesia dalam Bahaya atau Menuju Reformasi Sipil yang Berwibawa?
- Menyoal Kembali Sastra dan Pendidikan
- Jejak Kampung dan Panggung Global Bertemu dalam Keprihatinan yang Sama
- Mengapa Banyak Sarjana Pendidikan Meninggalkan Profesi Guru?
- Ebeg di Pusaran Waktu
- Jon Snow Sebagai Personifikasi Amor Fati
- Terjebak Keindahan Sastra: Ketika Korban Pedofilia Menjadi Komoditas Budaya
- Desa dan Kota
- TPA BLE Banyumas: Laboratorium Pengolahan Sampah yang Mendunia
- Krisis Lingkungan: Saat KLHK Tidak Lagi Berfungsi Optimal
- Menyusuri Warisan Sejarah Pendopo Si Panji di Banyumas
- Tradisi Mitoni dan Arti Kelahiran yang Lebih dari Sekadar Seremoni
- Paradoks Banyumas: Ironi Sungai di Pusat Kota
- Banjir Bukan Sembarang Banjir: Ketika Hutan Digilas, Air Membalas
- Bangunan Baru, Pertanyaan Baru: Purwokerto dalam Lensa Perubahan Kota
- Kolotisme dalam Keluarga dan Narasi Sukses yang Membebani Mahasiswa
- Frasa “dan Sastra”: antara Sekadar Pelengkap dan Kesadaran Panjang tentang Masa Depan
- Paradoks Riba dalam Aspek Kepemilikan di Era Kehidupan Post-Modern
- Gandalia
- Ruwatan Sukerta: Ajakan Merawat Budaya dan Kearifan Lokal Banyumas
- Kesaksian Seorang Ayah Kepada Anaknya
- Tari Lengger Lanang dalam Merawat Harmoni Ekologi
- Wisata Religi Lemah Wangi
- Menemukan Kembali Barakah di tengah Kerapuhan Ekonomi Dunia
- Saat Begalan Bicara Kehidupan: Tradisi Banyumasan dalam Pernikahan
- Bonokeling Tidak Sekadar Ritual: Menjaga Bumi dan Warisan Leluhur
- Di bawah Bayang-bayang Janji dan Ilusi yang Serba Instan
- Kisah Menangkal Bala dan Asal Muasal Desa Karangwangkal
- Badai Menghantam Kelir: Wayang Banyumasan Bertahan di Tengah Krisis Iklim
- Sumber Kehidupan dari Telaga Kumpe
- Sebelum Berpisah Bertukar Cerita
- Mimiti Pari: Tradisi Syukur Petani dalam Menjaga Alam dan Warisan Pengetahuan
- Naik, Tertimpa, Redup
- Menelusuri Jejak Syekh Makdum Wali: Ajakan Merawat Alam, Budaya, dan Literasi Banyumas
- Penyatuan Alam, Budaya, dan Literasi di Bhumi Bambu
- Ekokritik dan Kearifan Lokal Banyumas dalam Sajak “Di Antara Rerumputan” Karya Wanto Tirta
- Tradisi Nulak Banyumas: Jejak Kearifan Lokal dalam Menyapa Alam
- Karena Punya Tempat untuk Pulang adalah Kelegaan
- Putri Ayu Limbasari: Kecantikan Berujung Petaka
- Jemblung Banyumas: Ketika Suara Menjadi Irama
- Palguna Palgunadi: Sebuah Bakti dan Kesetiaan
- Cloud Computing untuk Banyumas 4.0: Menjaga Tradisi dan Alam di Era Digital
- Dakwah Ekologi: Mengajak Merawat Alam, Budaya, dan Literasi di Banyumas
- Batik Banyumas: Filosofi Daun Talas pada Motif Lumbon
- Takbir Kasepuhan Komunitas Adat Kalitanjung Banyumas
- Gandalia: Harmoni Nada Slendro dan Angklung Banyumas
- Beasiswa Muda Purbalingga: Menantang Status Quo Melalui Pendidikan
- Merti Bumi di Lereng Gunung Slamet: Menjaga Alam Lewat Tradisi
- Kehidupan yang Miris di Negara yang Tragis
- Begalan: Dari Upacara Pernikahan ke Cermin Kehidupan Orang Banyumas
- Tamanku yang Masih Sepi
- Gelar Pahlawan Bisa Diperdebatkan, Tapi Kepahlawanan Ayah itu Fakta Tak Terbantahkan
- Filosofi Gender dalam Tari Lengger Banyumas
- Menulis: Diriku dan Perihal Hasrat yang Datang Terlambat
- Ebeg Banyumas: Saat Kesenian Bicara Alam dan Kehidupan
- Merawat Identitas Ngapak Di Era Digital
- Fenomena LGBT di Banyumas: Saat “Cablaka” Diuji oleh Zaman
- Gudril Banyumasan: Warisan Budaya untuk Harmoni Alam dan Sosial
- Gelar Pahlawan Nasional dan Penghinaan atas Penderitaan Marsinah
- Junet, Kepakaran, Logika Kapitalisme Akhir
- Konsumerisme, Hukum Rimba, Masyarakat Literat
- Fenomena Thrifting: Gaya Hidup Ramah Lingkungan atau Menambah Masalah Baru?
- Mendoan dan Budaya Ngapak: Cita Rasa Literasi Lokal Banyumas
- Bahasa Ngapak Adalah Aset
- Menakar Ulang Peran Legislatif Mahasiswa di Era Dominasi Eksekutif Kampus
- Imajinasi Penggemar Olahraga: Baik atau Buruk?
- Paradoks Media Sosial: Titik Gamang Sebuah Amal di Panggung Digital
- Integrasi Alam dan Budaya dalam Pengelolaan Wisata Curug Song
- Penjamasan Jimat Kalisalak: Saat Tradisi Menyapa Zaman
- Pondok Modern: Melestarikan Tradisi, Menyemai Modernitas
- Warna dan Waktu: Narasi Banyumas di atas Kanvas
- Dalang Jemblung: Suara Alam dan Budaya Banyumas dalam Sastra Lisan
- Calung Banyumas: Nada-nada yang Menjaga Alam dan Tradisi
- Ketika Wakil Rakyat Lupa Siapa yang Diwakilinya
- Menyibak Keterkaitan Ekologi dan Budaya di Desa Cikakak, Wangon, Banyumas
- Gejala Kehilangan Fokus Kolektif
- Kritik Ekologi dan Resiliensi Budaya dalam Karya Ahmad Tohari
- Jejak Kearifan Lokal Adat Bonokeling Kabupaten Banyumas
- Guru: Cahaya yang Hampir Menjadi Rasul
- Menelusuri Dua Dunia dalam Folklor Pancuran Pitu
- Tradisi Sedekah Bumi: Dari Alam untuk Kehidupan
- Pesantren dan Perang Narasi di Balik Sorot Media
- Cowongan: Representasi Ekologi Budaya dan Literasi Masyarakat Banyumas
- Apakah Hasil Riset Mendalam Bisa Gugur Karena Satu Unggahan Sosial Media?
- Wayang Bebek Banyumas: Inovasi Ekologi, Budaya, dan Literasi
- Rahasia dan Proses Kreatif di Balik Novel GUIWU
- Sastrawan Kultural vs Sastrawan Siberpunk
- Labeling: Ruwetnya Realita, Tak Semudah Kata-kata
- Beginilah Pemilu Baru Suriah
- Dari Draf ke Buku: Perjalanan GUIWU Menerima Ahmad Tohari Awards 2025 di BIL Fest
- Mengenal Wajah Sastra Seno Gumira Ajidarma
- Mengobrol dengan Mantan Narapidana: Menemukan Lagu “Membasuh” dalam Wujud Manusia
- Persepsi Masyarakat Indonesia yang Masih Keliru Tentang Pendidikan
- Masa Depan Hamas Setelah Gencatan Senjata
- Palestine: The Twin Crimes of Genocide and Ecocide
- Antara Gizi dan Risiko: Menelisik Polemik Program MBG
- Empty Diplomacy: President Prabowo, the Two-State Solution, and Palestine’s Dead End
- Dari Tombak Menjadi Kontrak
- Serat Tripama: Mahfud MD Sang Senopati Pelindung Negara
- Stop Buru-buru! Hidupmu Bukan Lari Marathon
- Perempuan Berhak Memilih
- Palestina, Genosida dan Ekosida
- Urgensi Esensi dan Sosialisasi Suatu Budaya dalam Pelestariannya
- Aturan Membuat Kita Bahagia?
- Dua Wajah Tembakau
- Kalau Baca Pram Jadi Anarkis, Baca Komik Doraemon Jadi Tukang Sulap?
- Holding Ekonomi Rakyat, Meneladani Semangat dan Cita-cita untuk Perekonomian Indonesia
- Rumah Dewan Makin Nyaman, Rakyat Cari Pinjaman
- Tot Tot Wuk Wuk: Ketika Jalan Umum Menjadi Panggung Kekuasaan
- Tren The Winner Takes It All: Sebuah Refleksi Sosial
- Melestarikan Budaya Leluhur: Antara Pakem dan Inovasi
- Menjadi Jemaah Zainal Arifin Mochtar
- Menjadi Warga Ferry Irwandi
- Delapan Puluh Tahun Palang Merah Indonesia: Dedikasi Untuk Kemanusiaan
- Aktivis Hijau dan Elit Pemuka Agama
- Menjaga Pertemanan dengan Berebut Salah
- Charlie Kirk Semoga Bendera Setengah Tiang Mengantarkanmu Ke Neraka
- Sri Mulyani dan Loyalitas yang Tidak Berjalan Dua Arah
- Analisis Asosiasi dan Persepsi Publik Terhadap Menteri Keuangan Baru, Purbaya Yudhi Sadewa
- Patriarki Berselimut Tradisi
- Membaca Buku di Langit
- Pestapora 2025: Pesan Musisi Tidak Tunduk pada Perusak Alam
- Tetap Mencintai Allah dalam Keadaan Paling Mengecewakan Sekalipun
- Pandangan Alam Islam: Manusia dan Lingkungan
- 4 Life Hack Kreatif
- Bagaimana Nasib Pekerja Kreatif Era AI?
- Kesadaran Kolektif Masyarakat Akar Rumput dan Persaudaraan Antar Bangsa
- Bertemu Elizabeth D. Inandiak: Penggubah Centhini Abad 21
- Sandal Jepit Masjid: Ujian Keikhlasan yang Selalu Terulang di Hari Jumat
- Mulai IP-mu dengan Membuat Mini Project
- Kondangan ‘Kebarat-baratan’ Khas Daerah Solo Raya
- Bisik Serayu 2025: Definisi ‘Dengan Rendah Hati Mempersembahkan’
- Teruslah Menulis: Setiap Karya akan Menemukan Pembacanya
- Tujuh Asas Akhlak Konservasi yang Perlu Diaktivasi
- 4 Cara Membuat IP: Belajar dari Proses Wayang Bebek Banyumas
- Islam Berkemajuan & Indonesia Berkemajuan: Menyusun Masa Depan Indonesia
- First Principles Thinking: Memecahkan Masalah Judol dan Pemblokiran Rekening Dorman
- Diam Bukan Emas: Fenomena Kuburan di Ruang Kelas
- Hilangnya Romantisme Foto Cetak dalam Kehidupan Kita
- Dari Narasi dan Dialog ke Bubble Chat
- Menyintas Batas Formalitas Perkenalan Mahasiswa Baru
- Enam Prinsip Konservasi dalam Pandangan Islam
- Tirakatan, Relasi Kuasa, dan Kebudayaan yang Diciptakan
- Ketika Hidup Memberimu Lemon, Buatlah Jus Jeruk dan Biarkan Dunia Bertanya-tanya Bagaimana Kamu Melakukannya
- Melihat Aksi Massa di Pati dan Sejarah Aksi Massa di Indonesia
- Dakwah Gus Mus via Jumat Calling: Genre dan Konsistensinya
- Ramah dan Santun: Napas Baru Dunia Pendidikan Kita
- PKKMB Singkatan Pengenalan Kuliah Kritis Mahasiswa Baru
- Label “Malas” di Balik GEN Lay Z
- Tauhid Ekologi
- Saatnya Kepala Daerah Study Banding ke Pati Sebelum Membuat Kebijakan
- Menjadikan Publik Sebagai Guru
- Kalender Aboge: Tradisi yang Tak Lekang
- Wahai Penguasa, Dengarkan Suara Literasi dari Desa!
- Merenungkan Ulang Pendidikan di Hari Kemerdekaan
- Gibran yang Suka Baca Buku
- Mahasiswa, Artificial Intelligence, Digitalisasi Buku
- Gotong Royong Musiman
- Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Menyelami Nafas Budaya Banyumas Lewat Laku Adat Banokeling
- Bagaimana Islam Memandang Lingkungan Hidup?
- Perempuan dalam Sudut Pandang Kalitanjung: Ras Terkuat di Bumi
- Festival Literasi Jawa Tengah 2025 Panggung Kata-Kata
- Monetisasi dan Eksploitasi: Kedok Dakwah Podcaster
- Yogya, Purwokerto, Literasi di “Buku Harian” Struktural (II)
- Revolusi Senyap Jurnalisme
- Sekolah itu Beragam Bukan Seragam
- Dari Langit ke Piring: Renungan Ekologis
- Grebeg Suran Tambaknegara: Napak Tilas Memori Baik Bersama Masyarakat Adat
- Mengapa Slow Journalism Menjadi Senjata Alternatif Melawan Disinformasi?
- Purwokerto Katanya Kota Healing, Tapi Wisatawan Turun di Stasiun Langsung Bingung?
- Poster Nobar Timnas Out Of Touch
- Siapa yang Diuntungkan dari Transisi Energi?
- Menulis Ulang Sejarah: Ada Upaya Tersembunyi Apa?
- Do’a Sunyi
- Dilema Barber di Tengah Situasi yang Tak Menghargai
- Kehendak Kebangsaan Kita
- Ihsan: Etika Laku dan Kesadaran Ekologis
- (Hantu) Sapardi, Fiksi, Coffee at Home
- Antasena, Ksatria Pemberani Tanpa Basa-Basi
- Paradoks Pembangunan Berkelanjutan
- Untuk Kakak yang Tabah dan Adik yang telah Menjadi Doa
- Menggali Lubang Sendiri
- Lagu Pop Jawa Membawa Budaya Adiluhung ke Atas Panggung
- Category: Mozaik
- Mozaik Kanon: Cinta dalam Tiga Kacamata
- Mozaik Pekanan: Mereka Memulainya Dari yang Dekat
- Mozaik Kanon: Duka-Suka dan Doa
- Mozaik Pekanan: Eksistensi Ala Pelampung Suar
- Mozaik Kanon: Perihal Luka, Kesadaran, dan Kepulangan
- Mozaik Pekanan: Label dari Publik
- Mozaik Kanon: Ingatan, Wejangan, dan Senyuman
- Mozaik Pekanan: Membedah
- Mozaik Kanon: Usaha Dikenang, Mengenang, dan Segelas Kenangan
- Mozaik Pekanan: Budaya Kita
- Mozaik Kanon: Aphantasia, Catatan Rihlah Batiniah, dan Tubuh Sebagai Kitab
- Mozaik Pekanan: Ziarah Batin
- Mozaik Kanon: Surat Peringatan untuk Negara, Sekeranjang Harapan, dan Segelas Kerinduan
- Mozaik Pekanan: Notulen Zaman
- Mozaik Kanon: Romantisme, Tuhan dalam Tubuh, dan Tragedi Kekuasaan
- Mozaik Pekanan: Bangsa Altruisme
- Mozaik Kanon: Makhluk Pungutan dan Tubuh sebagai Medan Spiritual
- Mozaik Pekanan: Tentang Mereka yang Mencari Makna
- Mozaik Kanon: Kesederhanaan Cinta dan Ruang Spiritual
- Mozaik Pekanan: Menenun Harmoni Imlek-Ramadhan dalam Pelayanan Publik
- Mozaik Kanon: Abang Kurir dan Tukang Zikir
- Mozaik Pekanan: Menjadi Manusia Di Tengah Kemajuan Zaman
- Category: Puisi
- Category: Resensi
- Category: Sosok
- Category: Tak Berkategori
- Category: Ulasan Event
- Nasihat ‘Guru-Murid’, Lagu “Pikiran yang Matang”, dan Pertanyaan “Apakah Moderator itu Moderat?”
- Meramu Peluncuran Buku, Ketika Lebih Lama Mencari Moderator daripada Pengulas
- Satu Napas Perubahan: Manifesto Satu Tahun Forum Insan Cendikia
- Ketika Tubuh Menjadi Teks dalam Pementasan Drama Nyumbang oleh Teater Sandhya
- Utopia Spirit Jalanan, Munajat Jalanan 5
- Mengulas dengan Gaya: Pementasan “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” Oleh Teater Samastha
- Aveus Har: Saya Jadi Pembicara di sini Seperti Kucing Masuk Kandang Macan
- Dari Pelatihan ke Buku, Antologi Drama Puisi Pertama Banyumas Terbit
- Apresiasi Sejarah: Jalan Melawan Krisis Identitas
- Juara Tanpa Piala
- Sulitnya Tantangan Bukan Berarti Tidak Bisa Ditaklukkan
- Peluncuran Novel Maetala Land of Gods: Awal Perjalanan Menuju Dunia Para Dewa
- Launching Buku “Hidup Sebagai Orang-orang Biasa”: Agak Lain dan Anti Mainstream
- Mengunjungi Peken Banyumasan: Semacam Bernostalgia ke Masa Kecil
- Menemukan “Rumah Sejati” di Pekan Literasi: Pelajaran dari “Buku Hidup”
- Festival, Santri, dan UMKM
- Sebuah Cerita Merawat Budaya Lokal dari Gedung Arpusda Lantai 2
- Human Library Resmi Dibuka, Warnai Pekan Literasi Masyarakat Banyumas
- Menyulam Literasi dari Buku Nonteks
- Peluncuran Buku Guiwu: Horor, Nasionalis, dan Unik
- Mengunjungi Pameran Kie Art Projects The World of Happiness: Bagaimana Model Pegiat Seni Purbalingga Unjuk Karya?
- Mengangkat Panggilan Jum’at Call Gus Mus
- Menyaksikan “Resep Bahagia” Dibedah
- Selasar Bhaca: Tumbuhkan Cinta Literasi dengan Kegiatan Interaktif di Pemalang
- Wayang Bebek Banyumas Dolan Kebumen
- Senja di Bawah Pohon Mangga, Midori Merayakan “Kaki Matahari”
- Program “1 Kid 1 Book”: Revolusi Kecil, Dampak Besar!
- TBTC: Meyalakan Semangat Literasi Lewat Tukar Buku Tukar Cerita di Purwokerto