Serat Tripama: Mahfud MD Sang Senopati Pelindung Negara

Banyak nilai tersirat dalam cerita wayang kulit untuk menjadi alat pembelajaran dalam menjalani hidup. Baik dari etika, moral, membangun tatanan dan kecintaan terhadap tanah air yang menjadi tempat membangun karya hidup. Salah satu babak cerita adalah Serat Tripama yang dikarang oleh KGPAA Mangkunagara IV. Istilah Tripama berarti tiga keteladanan, alur cerita yang mengisahkan tentang ksatria yang siap menegakkan keadilan dan mentalitas seorang pejuang yang berani menghadapi hambatan dan teguh dalam sebuah tatanan negara.

Tokoh-tokoh dalam Tripama adalah Bambang Sumantri (Patih Suwanda) yang mengabdi kepada Raja Arjuna Sasrabahu di negara Maespati, kedua Senopati Alengka Kumbakarna adik dari Rahwana (Dasamuka) dan yang ketiga adalah Narapati Basukarna Senopati Astina periode Duryudana. Ketiga nama tersebut memiliki karakter dan pola yang sama dalam kekuatan menjaga keberlangsungan kedamaian dan keamanan negara.

Sumantri mengabdi ke Maespati, dalam pertemuan awal, Sumantri diminta melamar putri dari negara Magada, Dewi Citrawati, namun setelah berhasil memboyong sang putri, Sumantri terbesit untuk memiliki Dewi Citrawati dan menantang Arjunasasra, dengan tangan terbuka Arjunasasra menerima tantangan Sumantri, dengan pertempuran yang sengit, Sumantri dikalahkan oleh Arjunasasra dan bersedia memohon maaf dan siap mengabdi. Kemudian Arjunasasra mengajukan syarat untuk dipenuhi, yakni Sumantri diminta memboyong taman Sriwedari dari kahyangan untuk dibawa ke Maespati. Dalam suasan bingung Sumantrai didatangi adiknya yang bermuka raksaasa Sukrasana, kemudian berhasil membantu memindahkan taman Sriwedari. Setelah selesai Sukrasana tertidur di taman.

Saat Citrawati berkeliling taman secara tidak sengaja melihat Sukrasana, melaporkan kepada sang raja bahwa ada raksasa yang menyusup ke taman Sriwedari. Sang raja memerintahkan Sumantri untuk membunuh raksaksa tersebut. Betapa kagetnya Sumantri ketika mengetahui bahwa raksasa yang dimaksud adalah adiknya sendiri. Dengan keikhlasan, Sukrasana meninta Sumantri untuk segera membunuh adiknya agar keinginan mengabdi kepada Arjunasasra diterima. Akhirnya dengan berat hati mengakhiri hidup sang adik. Kematian Sumantri berakhir tragis ketika Maespati diserang oleh Alengka pimpinan Dasamuka. Dari Sumantri kita belajar bagaimana mengentaskan sebuah permasalahan dengan penuh tanggung jawab dan berani.

Kumbakarana, adik dari Dasamuka, kesetiaannya kepda negara tidak tergadaikan, Di mana dia sebegai orang yang mengingatkan Dasamuka dari sikapnya yang arogan dan keras kepala. Meskipun pimpinan negaranya orang yang tidak beretika, namun dia tetap mempertahankan agar tatanan negara tidak rusak oleh buruknya para punggawa (pemerintah) yang semena-mena. Dari Kumbakarna dapat diambil nilai bahwa seburuk apapun kondisi pimpinan suatu negara, ia tetap berjuang untuk meluruskan. Tidak hanyut dalam keburukan yang dilakukan orang di sekitarnya. Keteguhan dan cinta negara menjadi watak Sang Kumbakarna.

Ketiga Adipati Karna (Basukarna), Raja Ngawonggon (Angga) yang sudah bersumpah membela Astina dibawah kepemimpinan Duryudana. Apapun dan siapapun yang akan merusak negara Astina ia akan maju pertama untuk menyelamatkan negara. Namun di satu sisi menjelang akhir hidupnya, Basukarna diapit dua pilihan sulit. Di mana ia akan tetap membela Astina di bawah Duryudana yang telah membesarkan namanya atau akan membantu saudara-saudaranya (pandawa) dalam merebut kekuasaan di Astina. Namun mengingat sumpah yang ia ucapkan, akan tetap berdiri di barisan Astina, siapapun yang dia hadapi. Keteguhan, pantang menyerah, dan rela berkorban dari Basukarna menjadi teladan.

Tripama dari Seorang Mahfud MD

Mahfud MD, yang merupakan sosok teguh dalam menegakkan kebenaran dan mengawal jalannya hukum yang lurus. Akademisi yang idealis dalam mensikapi setiap fenomena sosial-hukum yang sedang berjalan di negara Indonesia. Gerakan Civil Society yang dibangun menjadi sarana untuk memperkuat intelektualitas (terutama masyarakat sipil), memberikan pendidikan karakter yang bisa diterima dengan baik, kesederhanaan, dan loyalitas hidup kita lihat dari cara bicara yang elegan, tidak menghujat dan solutif menjadi khas mantan pejabat publik satu ini.

MD (Ministry of Defense) benteng pertahanan kewarasan ditengah pragmatism sekelompok elit yang berkuasa dalam membuat kebijakan pengelolaan negara, beliau selalu lantang untuk mengingatkan dan memberikan solusi yang diupayakan untuk tatanan negara tidak disalahgunakan. Kalau menurut Rocky Gerung, dalam pembukaan sebuah podcas nyeletuk singkatan MD adalah Manusia Demokrat, memiliki jalan tengah dalam menghadapi bermacam gejolak dan peselisihan di tengah keruhnya politik, penyalahgunaan hukum yang berdampak pada terganggunya kehidupan bernegara.

Pendekar yang tidak kenal lelah dengan terus menyuarakan untuk menjaga kejernihan dalam menyikapi dinamika yang muncul di ranah hukum, sosial, dan politik. Civil Society yang dibangun menjadi jalan tengah untuk mencerdaskan rakyat, sosok yang tidak gentar seperti Basukarna, berani bersikap tegas dan lugas tanpa tedeng aling-aling, membuktikan kejujuran dan tanpa ada sandra terhadap dirinya (manusia bebas).

Kami sebagai anak bangsa dari daerah menaruh pengharapan kepada beliau, Mahfud MD dengan gerakan intelektual yang dibangun untuk kemaslahatan manusia Indonesia terutama memberikan pelajaran dengan nalar yang sehat dan cerdas kepada genenrasi muda.

Rahayu Rahayu Rahayu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top