Membincangkan Kembali Isu 65 Melalui Bincang Buku “Telunjuk dan Pelatuk”

Minimnya tingkat baca buku menjadi isu krusial setiap tahunnya. Kekhawatiran akan generasi muda yang tak berminat membaca menjadi perhatian bersama. Apalagi buku bacaan yang mengangkat sejarah Indonesia yang kian terlupakan. Membuat permasalahan ini menjadi lebih kompleks, lebih dari sekadar persoalan membaca. Bagaimana kemudian merawat ingatan sejarah bangsa Indonesia pada generasi muda.

Read More »

Bincang Buku Telunjuk dan Pelatuk: Narasi Sejarah Kelam dalam Wujud Sastra

Pada hari Rabu (30/09) Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) bersama Laboratorium Sastra dan Budaya Universitas Jenderal Soedirman (Labasdaya Unsoed) sukses menggelar peluncuran dan bincang buku kumpulan cerpen berjudul “Telunjuk dan Pelatuk” karya Ikrom Rifa’i. Naskah ini merupakan salah satu karya terbaik yang meraih penghargaan BIL Awards 2026 dari proses Inkubasi Penulis Banyumas.

Read More »

Teater Gethek Swaraning Banyumas 2026: Menertawakan Negara, Menangisi Sepi

Ulasan ini tentang pentas Teater Gethek “Swaraning Banyumas 2026: Berita Lelayu Edhon”. Pentas terselenggara hari Rabu 23 September 2026. Bertempat di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman. RABU malam, 23 September 2026. Ratusan pasang mata menjadi saksi. Sebuah berita lelayu tersiar di udara dingin. Membelah keheningan ruangan. Sebuah ‘jasad’ tergeletak. Aula FISIP Unsoed berubah menjadi alam barzakh. Di bawah sorot lampu yang temaram, Edhon terbaring. Ia bukan lagi aktor kawakan malam itu. Ia telah mati. Ia adalah sesosok korban tragedi tenggelamnya bus Teater Gethek di Sungai Serayu.

Read More »

“Bismillah. . .” dari Kang Nasirun di Bisik Serayu Festival 2026

“Saya jadi merinding nih kalau nyeritain beliaunya,” ujar Kang Lawe. Sehari sebelum Bisik Serayu Festival ke tiga, saya sempat berbincang dengan Kang Lawe Samagraha. Ia seniman musik tradisional dari Banten. Sore itu, di Pendopo Gayatri, Rianto Dance Studio (RDS) kami berbincang. Seperti tahun lalu, ia yang menggawangi set artistiknya. Beberapa helai bambu di depannya dipersiapkan untuk membuat replika besar bunga Wijayakusuma. Di belakang kami, ada lukisan Lengger. Lukisan itu dibuat oleh Alm. Nasirun saat live painting di Bisik Serayu Festival 2025. Di bawahnya, ada sepincuk mendoan yang sudah dingin. “Sebenarnya

Read More »

Melankolia di Kolong sebagai Manifesto Kehidupan di Tengah Badai Kebisuan Negara

Di tengah hiruk-pikuk politik yang kian memanas dan kebijakan publik yang sering kali terasa seperti tembak buta yang mengabaikan denyut nadi rakyat, sebuah gerakan seni muncul dari ruang-ruang yang terpinggirkan. Band Dongker asal Bandung, dengan inisiatifnya yang brilian, menggelar konser bertajuk “Melankolia di Kolong”, sebuah peristiwa budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggetarkan kesadaran kolektif masyarakat Indonesia.

Read More »

Menonton “Megalomania” Dipentaskan dan Kemunculan Sederet Pertanyaan

Sewaktu Mas Fikri mengabari bahwa Om Logo Situmorang akan menyediakan tiket pementasan monolog “Megalomania” seandainya kami (tim BIL Fest) hadir, aku langsung melihat tanggal pementasannya, 16 dan 17 Juli 2026. Lalu seperti ada kembang api di batinku setelah menyadari kalau aku dan ibuku di tanggal yang berdekatan akan ke Jakarta untuk sebuah agenda.

Read More »

Satu Napas Perubahan: Manifesto Satu Tahun Forum Insan Cendikia

Tanggal 9 Januari ​2025 sampai 9 Januari 2026 adalah satu tahun waktu yang cukup untuk sekadar merayakan seremonial, namun ia adalah durasi yang sangat singkat untuk merombak struktur kesadaran yang telah berkarat selama berdekade-dekade. Forum Insan Cendikia (FIC) Maluku Utara lahir bukan di dalam ruang hampa yang steril, melainkan lahir dari rahim keresahan atas mandegnya nalar kritis di tengah gemuruh eksploitasi dan banalitas politik di Bumi Moloku Kie Raha.

Read More »
Scroll to Top