Membincangkan Kembali Isu 65 Melalui Bincang Buku “Telunjuk dan Pelatuk”

Minimnya tingkat baca buku menjadi isu krusial setiap tahunnya. Kekhawatiran akan generasi muda yang tak berminat membaca menjadi perhatian bersama. Apalagi buku bacaan yang mengangkat sejarah Indonesia yang kian terlupakan. Membuat permasalahan ini menjadi lebih kompleks, lebih dari sekadar persoalan membaca. Bagaimana kemudian merawat ingatan sejarah bangsa Indonesia pada generasi muda. 

Akan tetapi kekhawatiran tersebut dapat ditepis melalui kegiatan bincang buku “Telunjuk dan Pelatuk”. Bertempat di Ruang B 105, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman pada 30 September 2026. Bersama Ikrom Rifa’i selaku penulis buku, Mas Abe selaku pengulas buku, dan Mbak Kiki selaku moderator acara. Pada kegiatan tersebut tak hanya mengenalkan buku terbaru Ikrom Rifa’i saja. Tapi juga sebagai upaya merawat sejarah, salah satunya peristiwa tahun 1965 melalui pendekatan karya sastra. 

Buku “Telunjuk dan Pelatuk” merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) fiksi sejarah yang mengangkat latar peristiwa sejarah di Indonesia. Ini menjadi angin sejuk bagi para pembaca yang bosan dengan tema buku mainstream. Kita tetap bisa menikmati jalan cerita yang dibangun, sekaligus belajar sejarah yang menjadi sumber referensinya.

Diawali dengan musikalisasi puisi dan monolog

Acara tidak langsung pada sesi bincang buku, tapi diawali dengan penampilan musikalisasi puisi. Terdapat 2 puisi yang dibawakan yakni puisi berjudul “Kepada Partai” dan “Potret Seorang Komunis” karya Sabar Anantaguna. Puisi dibacakan oleh Aryunda Sitta Nuril Aulia, Mahin Al Hasan, dan diiringi alunan gitar.

Pembawaan dua judul tersebut dapat dibilang cukup berani, hal ini dikarenakan kedua puisi tersebut mengangkat tentang komunis. Mengingat sampai hari ini baik Partai Komunis Indonesia (PKI) maupun ideologi komunisme dilarang di Indonesia. 

Selain penampilan musikalisasi puisi, ada juga penampilan monolog yang mengundang decak kagum penonton. Monolog yang berjudul “Wasiat Puisi Kamarawai” ini mengangkat cerita seorang tokoh yang hidup ketika tahun 1965. Baik musikalisasi puisi maupun monolog, keduanya dapat menghantarkan penonton untuk mengenal lebih sebelum sesi bincang buku dilaksanakan.

Yang menarik dari fiksi sejarah

Bila mengacu pada peristiwa sejarah tak lepas dari pertanyaan apa, kapan, siapa, dimana, mengapa, bagaimana peristiwa sejarah tersebut dapat terjadi. Sehingga pembaca hanya mengetahui dari sisi kronologis tanpa benar-benar merasakan ketika peristiwa itu terjadi. 

Tapi fiksi sejarah menawarkan sebuah pendekatan yang berbeda dalam melihat sejarah. Sebagai pembaca kita diajak merasakan kehidupan tokoh secara lebih personal dalam menjalani kesehariannya. Hal itu yang tak terdapat pada bacaan sejarah pada umumnya, ada sisi emosional yang dapat dirasakan oleh pembaca. 

Hal ini juga ditegaskan oleh Ikrom Rifa’i bahwa fiksi sejarah mampu mengisi perasaan (feel) yang tidak ada pada bacaan sejarah umumnya. Begitu pula Mas Abe yang mengungkapkan bahwa biasanya sejarah dipelajari dari dokumen maupun arsip yang ada. Hal yang dapat dipelajari merupakan runtutan peristiwa seperti siapa, dimana, kapan, dan bagaimana. Tapi sisi emosional dan mampu merasakan bagaimana seandainya hidup pada peristiwa itu, itu yang kemudian dapat diisi karya fiksi sejarah. 

Beberapa Pertanyaan yang terlontar

Bayu Rizqi Sutanto, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) selaku peserta mengajukan pertanyaan terkait buku yang dibahas. Pertanyaan yang diajukan pada Ikrom Rifa’i terkait ketakutan dalam menuliskan peristiwa sejarah yang dapat dikatakan masih tabu untuk dibahas. Ia mengungkapkan bahwa ketakutan tersebut tidak benar-benar dirasakan langsung karena tidak hidup di zaman tersebut. Sehingga penulis tidak ragu untuk mengangkat beberapa peristiwa sejarah.

Selain itu pertanyaan juga diajukan pada Mas Abe terkait seberapa jauh kita dapat membuat karya sastra yang mengangkat isu atau peristiwa sejarah yang dianggap tabu seperti peristiwa 1965. Justru Mas Abe kembali melontarkan pertanyaan balik kepada penanya tersebut. Sebenarnya dia ingin menjadi sastrawan yang seperti apa bila masih takut untuk menulis.

Selain itu terdapat penanya lain yang menanyakan bagaimana membangkitkan semangat menulis yang hilang. Ikrom Rifa’i mengungkapkan bahwa kita perlu membangkitkan rasa ingin tahu dan selalu mempertanyakan. Ketika pikiran sudah merasa cukup dengan apa yang dimiliki, maka pikiran akan mandek.

Selain itu ia juga mengungkapkan bahwa kita perlu memperbanyak membaca. Melalui membaca, hal tersebut akan memperbanyak sumber inspirasi dalam menulis. Kombinasi antara pertanyaan dan membaca menghasilkan dampak besar untuk menulis. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top