“Gotong royong adalah pembeda utama antara masyarakat Indonesia dan Barat. Di Barat, ‘aku’ lebih utama. Di sini, ‘kita’ yang pertama.”— M. Nasroen, filsuf Indonesia Setiap Agustus datang, jalan-jalan kampung mendadak ramai. Cat tembok diperbaharui. Bendera merah putih dikibarkan serempak. Gapura dicat ulang. Anak-anak lomba makan kerupuk, ibu-ibu menyiapkan hadiah, bapak-bapak kerja bakti. Seolah ada denyut gotong royong yang kembali hidup, meski hanya sesaat. Tapi, usai upacara 17-an, suasana kembali seperti sedia kala. Tiang bendera diturunkan, cat-cat kembali pudar, dan gotong royong menghilang seperti tamu undangan yang pulang terlalu cepat. Apa