Lukisan

Udara Leiden membawa aroma tanah basah, bercampur dengan kopi hangat. Gang sempitnya lama dilalui waktu dan sepatu para pemikir dan penyair dan orang-orang biasa.

Read More »

Tangisan Seekor Monyet

Edo pun ikut bergabung bersama monyet-monyet lain. Mereka semua terlihat sangat mahir melakukan berbagai atraksi. Edo mencoba mengikuti salah satu atraksi. Ia mencoba mengambil tiga bola lalu berlatih melemparnya, tetapi karena tidak terbiasa, Edo jadi kesusahan. Bola-bola itu terus berjatuhan ke lantai.

Read More »

Menggantung Babi di Pohon

Oh, Ya aku hampir lupa bahwa ada seekor babi yang mengikutiku dari tadi.  Entah mengapa semenjak aku melemparkan sepotong daging busuk kepada babi dan babi itu memakannya dengan sangat lahap mendekati rakus, melalui mulutnya yang mengeluarkan air liur bercampur debu-debu yang menempel di wajah sang babi. 

Read More »

Sisa Senja di Saku Kiri

Sebelum aku sempat menyusun ulang diriku sendiri, ia sudah lebih dulu menarikku. Dan tanpa banyak gerak yang bisa kuingat jelas, jarak itu hilang begitu saja. Pelukannya tidak erat. Tapi cukup untuk membuatku berhenti menahan apapun. Dadaku menabrak tubuhnya. Wajahku jatuh ke bahunya. Rambutnya yang basah menyentuh pipiku.

Read More »

Dongeng Peri Kapuk

Angin sepoi melambaikan rambut Peri Androgini yang keperakan. Mereka bukan lelaki, bukan pula perempuan. Badan mereka yang ramping serupa tangkai bunga, berwajah kelopak dandelion yang kuning cerah, sekilas mirip dandelion asli di taman mereka. Hanya saja mereka memakai jarik yang dirajut apik dari daun-daun rumput.

Read More »

Bekal untuk Sephia

Rasa rempah itu akan masuk dengan sopan ke tenggorokanmu. Membangkitkan reseptor glutamat setelah kau memakannya. Meninggalkan kelembutan sebagai rasa sisanya. Ini benar-benar tanpa vetsin, aku merebusnya dengan telaten sampai kaldu-kaldu itu keluar.

Read More »

Pulanglah Kartam Si Anak Hilang

Tarjo menyelinap di antara kerumunan manusia yang terburu-buru. Kartam mengawasi dari jauh. Gerakan Tarjo seperti belut, begitu halus. Tarjo sengaja menjatuhkan korek apinya di dekat pria itu, menunduk, lalu bangkit dalam sebuah gerakan yang mulus. Tubuh Tarjo nyaris menembus koper pintar yang berjalan otomatis mengikuti pemiliknya. Dalam hitungan detik, Tarjo sudah kembali ke sisi Kartam. 

Read More »

Hati yang Tak Dikehendaki

Melihat realita yang ada, Naimah pantas kecewa. Apa kurangnya ia? Tergolong cantik, tubuhnya tanpa cela. Kulitnya kinyis-kinyis, bedaknya paling mahal di pasar. Ia rajin merawat diri luar dalam. Ditambah lagi Naimah tidak sudi untuk mandi di sungai, sudah disediakan sumur agar ia tidak mandi bercampur tahi tetangga. Ataukah mungkin masalah ini bukan bersumber padanya? Bagaimana jika yang loyo adalah suaminya?

Read More »

Tersandera di Balik Bilik

Malam itu, Gardu Ronda RT 4 riuh oleh asap rokok dan denting sendok pada gelas kopi. Namun, bagi Suryono, suasana terasa lebih panas dari biasanya. Di hadapannya duduk Kardiman, seorang tim sukses salah satu calon lurah petahana yang belakangan ini gayanya sudah mirip ajudan menteri.

Read More »

Kesenjangan

Pagi hari, hujan kembali datang. Kali ini lebih deras dari kemarin, beberapa pohon roboh, tanah longsor, ruang kelas kembali tergenang air. Seorang anak laki-laki dengan tatapan sedih berdiri mematung di depan pintu rumahnya.

Read More »
Scroll to Top