
Kesenjangan
Pagi hari, hujan kembali datang. Kali ini lebih deras dari kemarin, beberapa pohon roboh, tanah longsor, ruang kelas kembali tergenang air. Seorang anak laki-laki dengan tatapan sedih berdiri mematung di depan pintu rumahnya.

Pagi hari, hujan kembali datang. Kali ini lebih deras dari kemarin, beberapa pohon roboh, tanah longsor, ruang kelas kembali tergenang air. Seorang anak laki-laki dengan tatapan sedih berdiri mematung di depan pintu rumahnya.

Oke. Saya siap-siap menjemputnya di Stasiun Caridea dengan sepeda motor. Sebelumnya memang kami tidak bertukar foto, tapi saya tahu bagaimana wujud Clarida. Dari mana lagi kalau bukan dia sendiri yang mengirimkan foto-foto randomnya sehari-hari.

Wisrawa meniup permukaan buku tebal tersebut, sambil membayangkan serpihan waktu beterbangan di bawah sorotan lampu yang menggantung rendah di atas meja kerjanya seperti saat dia menemukan buku itu untuk pertama kali. Ruangan itu hening. Tinggal dengungan mesin penstabil gravitasi stasiun yang menjaga mereka tetap mengapung di orbit cincin Saturnus.

“Kamu tuh ya Tom, imajinasimu gak ada tanding, kalo udah ngerancang dunia. Dari konstelasi, hingga pola daun pun kau pikirkan!” Seperti arsitek yang tahu menahu kerangka bangunan, konsep dari dalam hingga luarnya, sampai ke material yang dibutuhkan. Tanpa perlu melihat wujud aslinya.

Dosa bukan hanya milik keadaan.
Dosa adalah ketika struktur dibiarkan timpang.
Dosa adalah ketika angka lebih penting daripada manusia.
Dosa adalah ketika anak sepuluh tahun merasa hidupnya terlalu mahal untuk dipertahankan.

Bulan menampakan diri lebih awal dengan lancip sabitnya, seperti sabit yang dipakai petani untuk menebas tanaman untuk menyelamatkan hidup dan keluarganya. Suara kendaraan terdengar sayup-sayup masuk ke dalam Coffee Shop dengan konsep slow bar sekaligus roastery ini.

…KAMU perempuan dan aku laki-laki, atau kamu laki-laki dan aku perempuan, atau aku tidak laki-laki tidak juga perempuan dan kamu laki-laki atau perempuan, atau kamu tidak laki-laki dan tidak perempuan, sedangkan aku laki-laki atau perempuan, atau aku dan kamu sama-sama tidak laki-laki juga tidak perempuan.

“Kalau besok kita ke sini lagi… jangan lewat jalan licin tadi ya”

Pagi yang sibuk di gudang penyimpanan barang. Seperti biasa, truk kargo berlalu lalang, datang dan pergi, bongkar dan angkut muatan paket ekspedisi disortir sebelum diserahkan kepada kurir yang akan mengantarkannya dari pintu ke pintu pelanggan.

Darah mengalir di depan rumah Tiara. Tidak ada yang tahu kalau saja pagi ini berbeda dari pagi-pagi biasanya. Darah segar dan berbau amis beradu dengan udara dan embun pagi yang segar pula.