Istana

Peringatan hari kemerdekaan. Semua lapisan masyarakat mengadakan upacara hari kemerdekaan. Antusiasme sangat terlihat dari wajah mereka. Setelah upacara selesai, mayoritas masyarakat langsung mengadakan perlombaan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Makan kerupuk, balap karung, estafet karet, hingga panjat pinang menjadi lomba-lomba yang banyak digemari oleh masyarakat.

Read More »

Suara yang Tak Pernah Tersampaikan

Di sebuah kamar pondok bernomor empat memiliki penghuni dua anak santri, yaitu aku dan kakak tingkat yang bernama Lani. Berbeda dengan aku yang masih mahasiswi, sedangkan Kak Lani sudah lulus kuliah dan bahkan sudah memiliki pekerjaan menjadi guru IPA. ia tetap tinggal di pondok, mungkin Kak Lani merasa nyaman tinggal di sini dan masih ingin dekat dengan lingkungan pondok.

Read More »

Rahasia di Balik Roll Film

Sejujurnya, aku bukan orang yang mudah untuk bergaul dengan orang-orang baru. Tapi di tempat itu, aku jadi mengenal banyak orang termasuk Esha, anggota divisi dokumentasi yang tidak bisa dipisahkan dengan kamera analog yang selalu dibawanya. Dirinya sudah lebih dulu masuk Unit Kegiatan Mahasiswa Seni ini sebelum aku masuk, oleh karena itu dia sering membantu dan mengarahkan anggota-anggota baru dalam kegiatan.

Read More »

Dari Langit ke Bumi

“Tapi kok ceritanya agak berbeda dengan yang biasanya diceritakan oleh pak guru di sekolah ya” Aku mencoba berpendapat. Adikku, Rusdi yang baru kelas tiga SD hanya manggut-manggut seolah memahami semua yang kami katakan.

Read More »

Lukisan

Udara Leiden membawa aroma tanah basah, bercampur dengan kopi hangat. Gang sempitnya lama dilalui waktu dan sepatu para pemikir dan penyair dan orang-orang biasa.

Read More »

Tangisan Seekor Monyet

Edo pun ikut bergabung bersama monyet-monyet lain. Mereka semua terlihat sangat mahir melakukan berbagai atraksi. Edo mencoba mengikuti salah satu atraksi. Ia mencoba mengambil tiga bola lalu berlatih melemparnya, tetapi karena tidak terbiasa, Edo jadi kesusahan. Bola-bola itu terus berjatuhan ke lantai.

Read More »

Menggantung Babi di Pohon

Oh, Ya aku hampir lupa bahwa ada seekor babi yang mengikutiku dari tadi.  Entah mengapa semenjak aku melemparkan sepotong daging busuk kepada babi dan babi itu memakannya dengan sangat lahap mendekati rakus, melalui mulutnya yang mengeluarkan air liur bercampur debu-debu yang menempel di wajah sang babi. 

Read More »

Sisa Senja di Saku Kiri

Sebelum aku sempat menyusun ulang diriku sendiri, ia sudah lebih dulu menarikku. Dan tanpa banyak gerak yang bisa kuingat jelas, jarak itu hilang begitu saja. Pelukannya tidak erat. Tapi cukup untuk membuatku berhenti menahan apapun. Dadaku menabrak tubuhnya. Wajahku jatuh ke bahunya. Rambutnya yang basah menyentuh pipiku.

Read More »

Dongeng Peri Kapuk

Angin sepoi melambaikan rambut Peri Androgini yang keperakan. Mereka bukan lelaki, bukan pula perempuan. Badan mereka yang ramping serupa tangkai bunga, berwajah kelopak dandelion yang kuning cerah, sekilas mirip dandelion asli di taman mereka. Hanya saja mereka memakai jarik yang dirajut apik dari daun-daun rumput.

Read More »

Bekal untuk Sephia

Rasa rempah itu akan masuk dengan sopan ke tenggorokanmu. Membangkitkan reseptor glutamat setelah kau memakannya. Meninggalkan kelembutan sebagai rasa sisanya. Ini benar-benar tanpa vetsin, aku merebusnya dengan telaten sampai kaldu-kaldu itu keluar.

Read More »
Scroll to Top