
Yans dan Yannay: Obrolan Senja di Pinggir Sungai
“Kalau besok kita ke sini lagi… jangan lewat jalan licin tadi ya”

“Kalau besok kita ke sini lagi… jangan lewat jalan licin tadi ya”

Pagi yang sibuk di gudang penyimpanan barang. Seperti biasa, truk kargo berlalu lalang, datang dan pergi, bongkar dan angkut muatan paket ekspedisi disortir sebelum diserahkan kepada kurir yang akan mengantarkannya dari pintu ke pintu pelanggan.

Darah mengalir di depan rumah Tiara. Tidak ada yang tahu kalau saja pagi ini berbeda dari pagi-pagi biasanya. Darah segar dan berbau amis beradu dengan udara dan embun pagi yang segar pula.

Memori-memori tadi meredup. Dada lelaki itu terasa sesak. Kata aset dan utilitas menjadi jarum yang menusuk jantung, tetapi dirinya segera lupa rasa sakit yang berdenyut sebentar itu. Dia menarik napas panjang, menghirup aroma udara yang memisahkan mereka.

“Mohon hadapkan wajah Anda pada panel sensor,” kata mesin itu, “dan pastikan tingkat ketulusan Anda berada di atas ambang batas tujuh puluh persen.”

Layaknya sebuah apel yang dipetik empunya, diusap untuk memastikan agar apel ranum itu bersih. Lalu ditancapkannya pisau itu untuk menuju puncak kenikmatan. Santi adalah apel. Dibelainya penuh belas kasih oleh tetangganya, namun ia tahu bahwasanya hidup itu telah berhenti sejak suaminya pamit meninggalkan rumah. Perlakuan tetangganya bukan menjadikan dia lebih baik namun sebaliknya. Ia merasa hidupnya terlalu sedih untuk dilihat hingga mereka turut bersimpati.

Petang lalu Timore berjanji akan memberiku sebuah kalung cantik dari batuan langka yang ia cari di Sungai Deak. Ibu Tesso berkali-kali meledekku kalau Timore merangkai kalung batu indah itu semalaman hanya untukku. Tapi hari ini, hari di mana aku semestinya berjumpa dengan Timore dan menerima kalung istimewa itu, aku justru melihat lelaki terkasihku pergi dengan cara mengerikan yang tak pernah kubayangkan terjadi.

‘Mulai lagi nih Si Yans.’ Yannay membatin. Yannay sudah hafal ritme Yans yang suka ngelantur kesana kemari saat ngopi berdua bersamanya. Terutama kalau sedang cerita perkara mbahnya, Mbah Markesot. Dan ketika saat itu datang, Yannay harus bersiap untuk menggali lebih jauh, ilham apa yang masuk ke kepala Yans. Karena terkadang Yans sendiri tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan.

“Of holier love. Nor wilt thou then forget. That after many wanderings, many years. Of absence, these steep woods and lofty cliffs. And this green pastoral landscape, were to me. More dear, both for themselves and for thy sake!” (William Wordsworth)

“Turun kamu! Mau kabur?” Suara dari luar sudah tidak terdengar samar karena masuk dari retakan kaca mobil.