Pohon Trembesi

“Of holier love. Nor wilt thou then forget. That after many wanderings, many years. Of absence, these steep woods and lofty cliffs. And this green pastoral landscape, were to me. More dear, both for themselves and for thy sake!” (William Wordsworth)

Laporan ini membuat tubuh seperti fondasi yang tidak mampu menopang dirinya sendiri. Memaksa langit menurunkan hujan serupa granit-granit tajam. Meruntuhkan seluruh harga diri, bahkan kebanggaan paling sunyi sebagai seorang civil engineer.

Aku tidak pernah lupa menjadi bagian proyek pembangunan jembatan itu. Hari ini sebuah laporan menghadap sebagai manifestasi hasil pekerjaan di masa lalu. Potongan-potongan kejadian bergerak cepat tersusun dalam pikiran. 

Bagaimana bisa waktu itu begitu mudah terperdaya untuk langsung memberikan persetujuan dalam pembangunan. Meskipun baru dilakukan sekali titik bor pada satu sisi abutment jembatan. Mengapa tidak berpikir meminta investigasi mendalam, padahal tanah di sisi lain ternyata memiliki lapisan tanah liat lunak yang dalam. Aku baru menyadari banyak kebohongan tersembunyi dariku.  

Tampaknya takdir memang sedang mempermainkan. Setelah menyajikan keruntuhan jembatan yang pernah aku bangun di masa lalu. Ia seperti memilihku kembali untuk mempertanggungjawabkannya. Padahal mereka di tempatku bekerja dulu, ialah yang seharusnya paling bertanggung jawab. Sulit menerima kenyataan bahwa aku yang akan memimpin proyek perbaikan jembatan ini. Dengan mengingatnya, seperti menyadari kegagalan dan kejahatan di masa lalu. 

“Apa ada masalah dengan laporan kerusakan jembatan ini, Pak?” tanya Tomy, asistenku. Nada suaranya hati-hati. Mungkin setelah melihatku terdiam lama menatap laporan ini.

“Hmm… Enggak, nggak ada,” aku berusaha tenang. Tapi jemari ini mencengkeram kuat sampul laporan. “Tom, sepertinya aku nggak bisa mimpin proyek ini.”

“Maaf, Pak Alim? Bapak bilang tidak bisa? Bapak selalu jadi pilihan pertama di perusahaan ini untuk mengatasi kerusakan masif seperti itu. Bapak juga biasanya paling bersemangat memimpin proyek jembatan di desa-desa. Mengapa tiba-tiba menolak?” 

Aku diam. Tidak mungkin mengatakan pada Tomy. Tidak hanya jembatan itu yang mengalami kerusakan. Setelah membaca laporan yang ia bawa, hatiku terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil dalam mesin stone crusher. Tidak mungkin mengatakan, pria di hadapannya pernah menjadi bagian sekumpulan orang mengerikan. Sangat mengerikan, sampai merencanakan ‘pembunuhan’ kepada masyarakatnya sendiri. 

Tomy masih kuat mempertahankan pendapatnya. Ia mengajak untuk meninjau sendiri jembatan tersebut sebelum kembali memutuskan kebersediaan mengambil atau tidak. Aku meredam perasaan dan menyetujui permintaannya. Sambil berharap menemukan alasan rasional untuk kembali menolak. Hati ini benar-benar menentang dan merasa tidak berhak mengambil tanggung jawab tersebut. 

Kami menyusuri bawah jembatan. Reruntuhan beton masih terlihat berserakan. Semua tampak senada dengan laporan. Dan masih belum menemukan alasan meski telah mengitari tempat itu beberapa kali. Sampai aku tidak sengaja memandang sebuah pohon trembesi berjarak beberapa meter dari tempat kami berdiri. Pohon ini seperti memiliki kekuatan magis. Entah ia sedang menarik dekat ke depan atau melempar jauh ke belakang. 

Perempuan itu sedang duduk bersila dan bersandar pada batang pohon trembesi sambil menulis. Terkadang aku iri melihatnya. Ia dapat membenci, mengutuk, dan berteriak tanpa takut melukai hati siapapun. Ia bisa mudah memberontak pada ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya. Tulisan menjadi ruang paling kedap menyimpan segala perasaan. Semua yang berdesakan dalam jiwa bisa berlabuh di sana. 

Aku melepas helm putih dan rompi hijau yang melekat pada tubuh, tiap berada di sampingnya jiwa ini merasa terlindungi.

“Bagaimana hari ini, Mas?” tanyanya membuka percakapan kami. 

“Tidak ada yang menarik, kecuali kedatanganmu.” 

Kami saling menelanjangi perasaan dan berbagi cerita di bawah teduhnya pohon trembesi. Sambil menatap pemandangan sebuah proyek pembangunan jembatan desa yang sedang berlangsung. Aku menceritakan semua rasa lelah menghadapi kerasnya watak orang-orang. Setiap hari seperti ada bongkahan-bongkahan batu menabrak tubuh. Rasanya mustahil apakah bisa menjadi civil engineer yang baik di masa depan. Kadang kala berpikir untuk menyerah dan keluar dari kehidupan yang menjerat ini. 

“Mas Alim, lihat mataku! Apa kamu lupa?” Perempuan itu mendekat. “Kamu selalu bilang ingin menjadi civil engineer yang tidak hanya bertanggung jawab pada profesi. Tapi akan bertanggung jawab pada rapuhnya kehidupan masyarakat kecil. Pada anak-anak yang setiap pagi harus memutar jalan puluhan kilometer untuk tiba di sekolah. Pada orang tua yang melewati derasnya sungai untuk mencari nafkah di seberang. Bagaimana bisa melupakan mimpi besar itu hanya karena satu kerikil kecil menggores langkahmu. Lalu siapa yang membantu mereka mengobati luka-luka kehidupan yang sama sekali tidak pernah dipedulikan pemimpinnya?” 

“Pak Alim sedang apa?” teguran Tomy mengejutkan. Seperti menikmati pertunjukan teater dan sebuah tirai merah tiba-tiba menutup.

“Tom, aku sudah menemukan alasan untuk mengambil proyek ini. Makasih ya, sudah membawaku ke sini.” 

“Apa alasannya, Pak?” Tomy mendekat dengan nada tanya begitu bersemangat.

“Mereka,” jawabku sambil menunjuk rumah-rumah warga yang tampak dari kejauhan seperti balok-balok lego tersusun rapi.

Setelah menyampaikan persetujuan memimpin proyek ini. Aku bisa melihat pahatan kebahagiaan terbentuk sempurna di wajah Tomy. Namun, saat ini tidak ada yang menguasai pikiran selain bayangan perempuan yang duduk di dekat pohon trembesi tadi. 

“Bagaimana hari ini, Mas?” suara perempuan yang sama terdengar dari ponsel. 

“Dek, hari ini Mas pulang lebih awal.” 

Aku tidak peduli cekikikan Tomy di samping kemudi. Rompi dan topi keselamatan mungkin tidak mampu melindungi dari dunia yang ingin menghancurkan rapuhnya jiwaku. Tapi cinta… rasanya ingin segera berteduh di pangkuan kekasihku. 

Semarang, 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top