Banyumas International Literacy Festival Berani atau Nekat?
Banyumas International Literacy Festival 2025
Ketika saya mendengar gagasan mengenai Bilfest (Banyumas International Literacy Festival), saya membayangkan sebuah kegiatan aktif yang melibatkan banyak orang, lintas generasi, dan bersifat menyenangkan. Namun dibalik itu semua, ada satu kata lain yang berselimut sekaligus menunggu seseorang untuk membukanya dan mengakui secara tegas: berat. Sebuah kata yang selalu menjadi momok bagi para penggiat event, khususnya di Banyumas.
Perkenalkan, saya Miranti Rohmanda. Penulis untuk Bilfest perdana ini. Sebuah kebanggaan bagi saya untuk mendapatkan kesempatan ini. Adalah Rahmi Wijaya, seseorang yang memanggil saya untuk berperan sebagai salah satu aktor di balik Bilfest yang (kami semua harap) akan terwujud pada pertengahan 2025. Ketika ide terkait Bilfest dicetuskan dan dibocorkan pada saya, saya menyambutnya secara antusias dan bersemangat, sebelum saya sendiri tersadar bahwa ini akan menjadi tantangan berat bagi siapapun yang mau menjadi bagian di Bilfest itu sendiri.
Sebelum saya didapuk menjadi penulis Bilfest, terlebih dahulu saya tergabung dalam divisi acara. Pikiran saya pun menjalar pada kegiatan-kegiatan eksis yang serupa. Ubud Writers Festival, Makassar International Writer Festival, Patjar Merah, hingga Indonesia Dramatic Reading Festival, beberapa acara yang erat kaitannya dengan “literasi”. Sebuah frasa yang amat memancing seseorang untuk membaur karena konsep penyatuan pemahaman dari keadaan yang sebelumnya berselisih. Tapi tak jarang juga, literasi menjadi batas yang amat jelas bagi macam-macam kalangan. Yang mengerti dan yang tidak mengerti, yang tahu dan yang tidak tahu, yang punya dan yang tidak punya. Yang terakhir itu, juga memiliki banyak sekali tafsiran. Mmm izinkan saya menelusuri satu akar pikiran saya terkait ini.
Literasi, sebuah pemahaman atas suatu konsep. Ketika manusia menciptakan gestur untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya, saat itulah peradaban berkembang. Gestur-gestur itu terbatas oleh daerah, suku, ras, agama, hingga yang paling krusial saat ini: kemajuan teknologi. Perbedaan gestur setiap kelompok manusia menjadikan adanya perbedaan makna dan pemahaman satu sama lain. Awal mula terciptanya perpecahan. Awal mula ketimpangan. Gestur itu kini juga merambah ke dunia digital. Munculnya emoji dan singkatan, hingga tata cara bertutur yang kemudian dipraktikkan juga di ruang-ruang fisik, makin menunjukan adanya ketimpangan yang ada di sekitar kita–apalagi jika kita berbicara dalam cakupan negara, hehehehe–
Adanya akses pengetahuan yang bisa dijangkau oleh sebagian orang, akan membatasi mereka dengan orang lain yang tidak memiliki akses sama. Menurutku, itu masih terlihat di Banyumas. Pernyataan ini mungkin tidak memiliki dasar data secara statisik dan sangat mampu diperdebatkan. Kita lihat saja, beberapa acara “literasi” yang didirikan di Banyumas hanya ramai dan diramaikan oleh kaum-kaum terpelajar saja. Saya bersyukur sudah ada lingkaran-lingkaran yang tercipta. Kelompok-kelompok pecinta buku yang suka nongkrong sambil berdiskusi, kelompok pertunjukan yang juga punya andil dalam memberikan wadah pengetahuan baru bagi masyarakat, hingga kelompok taman baca di berbagai pelosok daerah yang masih terus berusaha bertahan di tengah pacekliknya kontinuitas kemauan masyarakat untuk mau menambah pengetahuan. Namun, setelah itu apa?
Setelah para kaum terpelajar ini lulus, kembali ke daerah asalnya, atau merantau ke luar Banyumas, sisanya apa? Tontonan hanyalah jadi tontonan yang selesai dalam satu malam. Taman baca menjadi gudang yang dipenuhi sarang laba-laba, literasi kembali menjadi jauh dari jangkauan. Kembali pada televisi, video singkat lima belas detik, dan Banyumas kembali sepi.
Saya coba mencari akarnya lagi. Apa yang sebenarnya Banyumas tidak punya? Kenapa ekosistem literasi Banyumas, yang katanya menjadi kota idaman di waktu-waktu ini, tidak memiliki kekuatan untuk mengukuhkan dirinya dalam bertahan lama dan bermanfaat secara kontinuitas? Apa yang Ubud punya dan Banyumas tidak punya? Apa yang Makassar punya dan Banyumas tidak punya? Apa yang Jogjakarta punya dan Banyumas tidak punya?
Dua tahun lalu, ketika saya dan Rahmi Wijaya mengupayakan Liga Literasi bagi kalangan pelajar SMA/SMK dan sederajat, kami berujung pada suatu titik hampa yang kami sendiri tidak tahu sampai saat ini, apakah itu menjadi titik penyerahan atau penundaan semata hingga kami tahu apa yang seharusnya kami inovasikan dalam pelaksanaannya.
Hari ini, tulisan ini adalah salah satu upaya untuk mencari jawaban tersebut. Menemukan apa yang sebenarnya Banyumas punya dan tidak punyai. Mengisi celah dan menarik serabut ke permukaan. Membentuk awal titik gelombang yang mungkin saja akan mengalir jauh dan dalam waktu yang lama. Sebuah titik keberanian sekaligus nekat. Namun juga mengandung keyakinan dalam namanya: Banyumas International Literacy Festival.
Dengan penuh harapan,
Miranti Rohmanda
Program BIL Fest
Tentang BIL Fest
Support BIL Fest
© Copyright by Banyumas International Literacy Festival 2025
