Mozaik Kanon: Parenting, Melihat Indonesia, dan Kawin

Mozaik Kanon kali ini kita berjumpa dengan tiga karya fiksi yang sudah dimuat di bilfest.id pada minggu lalu. Lebih tepatnya, pada tanggal 16 dan 17 Mei 2026. Ada cerpen karya Abdi Galih yang berjudul “Dongeng Peri Kapuk”. Ada juga puisi reka cipta dari Dali Daulay yang dikemas dalam “Di atas Kertas Kalkir dan Puisi Lainnya”. Ada pula puisi olahan Hisyam Billya Al-Wajdi yang di-packing dalam “Sajak Perkawinan dan Puisi Lainnya”.

Read More »

Mozaik Kanon: Lelaki Simpanan, Manusia Modern, dan Potret Sosial

Ketiga karya tersebut masing-masing menawarkan insight yang menarik. Banyak yang bisa didapatkan dari ketiga karya tersebut. Masing-masing pembaca punya refleksinya sendiri akan ketiga karya tersebut. Karena pada dasarnya setiap karya jika sudah di tangan pembaca, siapapun berhak untuk mengambil nilainya, memaknainya, dan menafsirkannya.

Read More »

Mozaik Kanon: Serba-serbi Kehidupan

Kembali lagi kita pada Mozaik Kanon: bentuk apresiasi sederhana kepada penulis fiksi di bilfest.id yang tayang di hari Sabtu dan Minggu, serupa tepuk tangan dan tanda terima kasih telah turut memanjangkan napas literasi – di Banyumas pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya – melalui website bilfest.id. Dalam Film Gladiator (2000) – sesaat sebelum melangsungkan pertempuran – di atas kudanya, Maximus Decimus Meridius berkata: “What we do in life echoes in eternity.”

Read More »

Mozaik Kanon: Cinta dalam Tiga Kacamata

Ada kesamaan dari ketiga tulisan di atas. Tentu perbedaan juga ada. Salah satu kesamaan ketiga tulisan di atas adalah kesamaan dari segi topik yang disampaikan, yakni soal cinta. Tentu banyak juga topik-topik lain yang sama dalam ketiga tulisan tersebut. Akan tetapi topik seputar cinta, umumnya selalu gurih untuk dibicarakan. Seumpama bumbu dalam masakan, cinta menghadirkan gurih dalam kehidupan. 

Read More »

Mozaik Kanon: Duka-Suka dan Doa

Selamat siang teman-teman bilfest.id yang baik hati dan yang diam-diam mengaguminya tapi malu malu mengungkapkannya. Untuk yang barusan tadi hanya berlaku bagi yang sedang mengalaminya. Bagi yang tidak, cukuplah di siang bolong begini, berkawan dengan es teh dan sepiring gorengan anget. Uh… Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Read More »

Mozaik Pekanan: Eksistensi Ala Pelampung Suar

Halo pembaca bilfest.id, tidak terasa Mozaik Pekanan hadir kembali untuk menemanimu di akhir pekan. Semoga tulisan-tulisan yang telah tayang pekan ini, bisa menemanimu menjalani hari, termasuk Mozaik Pekanan dan Mozaik Kanon. Mozaik Pekanan kali ini adalah catatan dari redaksi untuk tulisan yang tayang dari tanggal 13-16 April 2026.

Read More »

Mozaik Kanon: Perihal Luka, Kesadaran, dan Kepulangan

Jumpa lagi kita dalam Mozaik Kanon: rubrik asik-asik untuk mengulik tipis-tipis tulisan fiksi yang tampil pada Sabtu dan Minggu di laman bilfest.id. Kali ini kita bertemu cerpen “Kesenjangan” yang ditulis oleh Bayu Prakoso, lantas puisi “Pada Pelukan Tuhan dan Puisi Lainnya” yang disemai oleh Aflakha, serta puisi “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 10)” yang diracik oleh Abdul Wachid BS. Ketiga fiksi tersebut, bagai perahu yang berlayar di sungai bilfest.id sejak 11 & 12 April 2026.

Read More »

Mozaik Pekanan: Label dari Publik

Seperti seorang bayi yang baru lahir, setiap tulisan yang tayang di bilfest.id akan kami rayakan. Meskipun dengan perayaan kecil-kecilan, dalam sebuah rubrik Mozaik (Pekanan dan Kanon). Perayaan dalam Mozaik Pekanan ini, tim redaksi mengucapkan terima kasih kepada pembaca bilfest.id. Ucapan terima kasih juga kepada para penulis yang tayang sejak hari Senin sampai Jum’at, tanggal 6-10 April 2026. Melalui rubrik Mozaik Pekanan inilah, tulisan-tulisan yang tayang itu akan kita rayakan bersama.

Read More »

Mozaik Kanon: Ingatan, Wejangan, dan Senyuman

Salam bahagia untuk teman-teman bilfest.id yang budiman. Sekuntum syukur senantiasa kita hirup agar semangat tak mudah redup. Dalam mozaik kanon kali ini, kita dipertemukan dengan cerpen dari Luthfiana Izzaturrohmah yang berjudul “Satu Hari di Caridea”, kemudian puisi-puisi dari penyair Yogyakarta, Maria Utami yang terbingkis dalam “Pesta di Rumah Duka dan Puisi Lainnya”, serta segelas puisi sajian Abdul Wachid BS yang dapat diseruput dalam “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 9)”.

Read More »
Scroll to Top