Mozaik Kanon: Parenting, Melihat Indonesia, dan Kawin

Waktu terus berlalu sebagaimana ombak yang mengecup bibir pantai. Waktu berlalu sebagaimana hari Senin sampai Minggu. Setiap hari selalu ada cerita baru meski rutinitas yang dilakukan sama saja dari hari ke hari. Sebagaimana kita di hari Jumat yang bertemu dalam Mozaik Kanon yang semoga dapat diambil manfaat.

Mozaik Kanon kali ini kita berjumpa dengan tiga karya fiksi yang sudah dimuat di bilfest.id pada minggu lalu. Lebih tepatnya, pada tanggal 16 dan 17 Mei 2026. Ada cerpen karya Abdi Galih yang berjudul “Dongeng Peri Kapuk”. Ada juga puisi reka cipta dari Dali Daulay yang dikemas dalam “Di atas Kertas Kalkir dan Puisi Lainnya”. Ada pula puisi olahan Hisyam Billya Al-Wajdi yang di-packing dalam “Sajak Perkawinan dan Puisi Lainnya”.

Ketiga karya fiksi di atas, memikul pesan moralnya masing-masing. Karena pada dasarnya setiap karya pasti membawa pesannya sendiri-sendiri dan ketika sampailah karya tersebut kepada pembaca, pembaca berhak untuk menafsirkannya sesuai keinginan pembaca. Kami menulis Mozaik Kanon bukan lantas membatasi pembaca dalam memaknai sebuah karya. Mozaik Kanon hanyalah selembar daun di antara rerimbun daun. Jika pembaca menemukan pesan lain yang berbeda dengan apa yang ada dalam Mozaik Kanon, kami sangat menanti untuk dibagikan kolom komentar.

Parenting dalam ‘Dongeng Peri Kapuk’

Membaca cerpen Dongeng Peri Kapuk karya penulis kelahiran Mojokerto yang merupakan alumnus sastra Universitas Negeri Malang seperti diajak mencebur ke samudera imajinasinya penulis. Tentang peri, bunga, dan taman, sebagaimana yang banyak ditemukan dalam cerita dongeng lainnya. Di sini penulis menampilkan seorang anak yang merasa kesal dan tidak bahagia karena sudah mendapat nilai jelek, dimarahin ibunya pula. Seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kemudian sang anak dibawa oleh peri-peri ke negerinya yang hanya ada kesenangan di sana.

Penulis sengaja menyoroti isu parenting yang kemudian diolahnya menjadi sebuah cerpen. Hal ini tergambar dari dialog ibu bersama sang anak (Junjun), “Kemarin 50, sekarang? 30 itu nilai apa? Malu ibu, Nak!” Kertas ujian ditampar-tampar di depan wajahnya. Junjun hanya menunduk. Barangkali penulis, dalam cerpen ini sedang mempersoalkan orang tua yang berlaku kasar terhadap anaknya sendiri. Tak hanya tentang parenting, dalam cerpen ini juga menyoal tentang konflik rumah tangga. Suami dan istri yang tidak akur juga akan berdampak pada psikologis dan kecerdasan intelektual seorang anak.

Dari cerpen ini sebenarnya banyak yang kita bisa sruput nilai-nilainya. Baik untuk orang tua maupun anak. Sebagai orang tua hendaknya juga perlu memerhatikan anaknya tidak hanya dalam sisi materi saja, tapi juga perhatian yang sifatnya non materi. Umpanya perhatian, kasih sayang, dan dialog yang positif dll. Bagi Prof. Dr. Rachma Hasibuan, M.Kes., ia menyatakan bahwa setiap ucapan orang tua bisa berdampak pada psikologis dan perkembangan karakter anak. Seyogyanya anak maupun orang tua sama sama memiliki sifat saling menghormati. Anak menghormati orang tuanya, begitu pula orang tua menghormati anaknya.

Melihat Indonesia dalam ‘Di atas Kertas Kalkir dan Puisi Lainnya’

Puisi-puisi dalam bungkusan Di atas Kertas Kalkir dan Puisi Lainnya mengajak kita untuk berpuisi dengan happy. Penulis kelahiran Medan – yang merupakan alumnus Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta, yang saat ini juga diam-diam sedang menyiapkan buku puisi perdananya – membawakan puisi dengan gembira. Dia tak terlalu memedulikan nuansa estetika dan kaidah-kaidah penulisan puisi. Tercermin dari pilihan diksinya yang sengaja ia buat gado-gado dan juga gaya ungkap yang terkesan sederhana. // siaran rohani / pagi di / televisi / berjudul / is anyone / beyond / salvation? //.

Salah satu puisinya yang berjudul Di atas Kertas Kalkir menggambarkan kegelisahan aku lirik yang melihat Indonesia tak lagi seperti dahulu sewaktu kecil. Di mana saat saat menjiplak peta Indonesia dengan menggunakan kertas kalkir. // dulu, di bawah kertas kalkir, / indonesia kayak masih lurus-lurus aja. //. Saat aku lirik menginjak masa dewasa, barulah ia sadari bahwa ternyata Indonesia banyak menggak-menggok-nya cum naik turunnya. Mulai dari keanekaragaman tingkah pejabatnya dan kemajemukan kebijakan-kebijakannya baik yang pro maupun kontra terhadap rakyatnya.

Barangkali kita sudah familiar dengan ujar-ujar dari Bung Karno yang berbunyi, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.” Meski kemerdekaan Indonesia sudah digema-gaungkan sejak 17 Agustus 1945, namun rasanya juga memang faktanya Indonesia belum benar-benar merdeka. Hari-hari ini kita sedang ramai dipertontonkan film dokumenter “Pesta Babi” yang memperlihatkan bagaimana negara memperlakukan tanah Papua berikut orang-orangnya.

Kawin dalam ‘Sajak Perkawinan dan Puisi Lainnya’

Seorang guru PKn yang pernah jatuh cinta dengan kota Banyumas menulis sejumput puisi yang termaktub dalam Sajak Perkawinan dan Puisi Lainnya. Penulis merekacipta puisi tak hanya untuk dirinya sendiri. Dia juga mendedikasikan puisi untuk orang lain yang mungkin spesial baginya. Namun meski puisi yang dituliskan untuk orang lain yang khususon, akan tetapi tetap relevan juga untuk dibaca khalayak publik. Wajar adanya, seorang penulis menghadiahkan sebuah tulisan. Seorang penyair menghadiahkan puisi. Seorang penjual sate menghadiahkan sate. Yang tidak wajar adalah seorang pejabat menghadiahkan jabatan. Eits… 

Dalam puisi berjudul Sajak Perkawinan, digambarkan bahwa kehidupan dalam perkawinan bagaikan lereng gunung dan ombak yang bergemulung. Tampak dari jauh pegunungan sangat menawan. Begitu pula gemulai ombak, tampak dari kejauhan sangat menggemaskan. Namun, jika kita berada di lereng gunung tersebut memang bisa melihat pemandangan indah dari ketinggian, namun juga banyak jalan terjal dan bebatuan yang mewarnainya. Sebagaimana ombak, jika kita masuk dalam gulungan ombak tanpa pengetahuan yang cukup, kita tidak bisa bermain peran sebagai peselancar atau perenang yang handal. Malah justru kitab isa terbawa ombak dan ditelan lautan.

Penulis tidak bermaksud membawakan narasi negatif tentang sebuah pernikahan atau perkawinan. Melainkan menampakkan gema antisipasi untuk mereka yang belum menikah supaya membawa logistik berupa pengetahuan dan kesiapan mental dan modal yang cukup sebelum benar-benar memasuki jenjang perkawinan yang di dalamnya perlu pandai-pandai Membagi duka, menjahit bahagia, mengusap air mata, merekahkan tawa. Tak hanya untuk yang belum menikah saja, sajak ini juga layak dibaca oleh mereka yang sudah menikah untuk selalu belajar dan mampu saling memberikan ruang penerimaan terhadap pasangannya. Cak Nun pernah berkata, “Cinta itu bukan soal menemukan yang terbaik, tapi bagaimana kamu menjadikan dia yang terbaik melalui kesabaran dan doa.”

Tabik,
Tim Redaksi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top