
Teman-teman pembaca bilfest.id yang budiman, selamat datang kembali pada Mozaik Kanon: semacam ruang kecil-kecilan yang menampilkan ulasan singkat mengenai tulisan yang tayang di bilfest.id pada hari Sabtu dan Minggu. Pada kesempatan kali ini, Mozaik Kanon akan mengulas makcumplik (sedikit) terkait tulisan yang terbit pada tanggal 21-22 Februari 2026. Tulisan tersebut berupa cerpen karya Dyan Uki Widyatmaja berjudul “Yans dan Yannay: Obrolan Senja di Pinggir Sungai” dan tulisan bermodel puisi karya Abdul Wachid BS berjudul “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)”.
Pada perjumpaan kali ini, kami menemukan dua ihwal yang menyembul di atas permukaan kedua tulisan tersebut. Pada cerpen Dyan Uki Widyatmaja ditemukannya sebuah kesederhanaan cinta sejoli muda-mudi Gen Z. Sedangkan pada puisi Abdul Wachid BS diperolehnya ruang spiritual yang berangkat dari dinding rumah, ruangan, jam dinding, anak tangga, dan kamar mandi – yang dijadikan simbol dalam puisi-puisinya. Tulisan berupa cerpen dan puisi sebagaimana tulisan pada umumnya (mengandung pesan) hanya saja disajikan dalam bentuk lain. Penulis cerpen dan puisi menyajikan sepiring pecel include mendoan untuk berbuka puasa (bagi yang menunaikannya), tidak dengan piring cantik pada umunnya melainkan dengan mungkin daun pisang, daun jati, daun lumbu, dan lain sebagainya asal tidak daun pintu.
Kesederhanaan Cinta dalam “Yans dan Yannay: Obrolan Senja di Pinggir Sungai”
Cerpen ini merupakan buah kreasi dari Dyan Uki Widyatmaja yang tak lain adalah seorang penulis kelahiran Kebumen tahun 2005. Ia aktif di komunitas Kebumen Book Party dan Kincir Ilmu serta menahkodai aktivitas Tepi Sampul – hematnya kegiatan gelaran buku, baca-pinjam buku, dan ngobrolin lain-lain tak hanya seputar buku.
Yans dan Yannay adalah dua tokoh utama dalam cerpen ini. Merupakan sejoli yang tergolong Gen Z, jika melihat penulis cerpennya yang kelahiran 2005. Karya tulis pada umumnya tidak jauh-jauh dari realitas penulisnya sendiri. Setiap penulis memiliki kecenderungan untuk menulis sesuatu yang dekat dengan kehidupannya, akrab dengan realitanya, dan yang sesuai dengan apa yang diketahuinya.
Cerpen ini menyajikan fenomena sepasang kekasih yang memadu kasih tak harus yang mewah-mewah, glamour, di spot-spot instagramable, sesuai rekomendasi konten kreator, dan algoritma media sosial dengan cara main ke coffe shop, restaurant, mall, healing ke negeri antah berantah, dan lain sebagainya. Melainkan tengak-tenguk berdua sembari ngobrol santai di pinggir sungai. Meskipun dalam ceritanya, Yannay mendapati situasi jatuh terpeleset sewaktu hendak menikmati senja di tepi sungai. Cerpen ini semacam menjadi antitesis terhadap kebiasaan manusia sekarang terutama Gen Z yang mudah didikte oleh media sosial.
Cerpen “Yans dan Yannay: Obrolan Senja di Pinggir Sungai” setidaknya juga membawa spirit bahwa bukanlah tempatnya melainkan bersama siapanya. Tempat sesederhana pematang sawah, pinggir sungai, trotoar jalan, dan tempat tempat lainnya yang terdengar biasa saja akan menjadi mewah dan luar biasa jika bersama orang yang tepat. Tempat hanyalah benda mati. Yang kemudian bisa menjadi bermakna adalah karena bersama siapa kita berada di tempat tersebut. Betapa kurang berartinya perjalanan jauh ke sebuah wisata akan tetapi dengan orang yang tidak spesial. Betapa berartinya hanya duduk-duduk di pinggir kali (sungai) dengan orang yang spesial.
Hematnya, cerpen ini mengajak kita untuk menyesap cinta yang sederhana. Bagaimana jawaban teman-teman jika ada sebuah pertanyaan yang terlontar demikian. “Prestisius mana orang yang bisa menemukan cinta dalam kesederhanaan dengan orang yang baru bisa menemukan cinta saat dalam gegap gempita kemewahan?”
Ruang Spiritual dalam Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)
Pada seikat puisi karya Abdul Wachid BS satu ini, banyak dijumpai diksi-diksi seputar bangunan atau interior-interior dan properti yang bisa ditemukan di rumah. Dengan begitu secara tidak langsung penulis sedang mengajak pembaca untuk berkarya yang tak perlu beranjak ke mana-mana. Cukup berdiam diri di rumah dan jadilah sebuah karya. Dalam hal ini bentuknya puisi. Untuk bisa berkarya tak melulu memerlukan biaya. Hal ini yang tergambar gamblang dari puisi-puisi dalam “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)” yang terdiri dari lima puisi: Balada Doa yang Merambat di Dinding Rumah, Ruangan Bernama Pasrah, Balada Jam Dinding pun Ikut Gelisah, Balada Anak Tangga yang Tak Lagi Ramah, dan Kamar Mandi dan Kesunyian yang Suci.
Kali ini Abdul Wachid BS menjadikan rumahnya ruang spiritual, tempat dia melakukan kontemplasi dan refleksi atas dirinya sendiri. Melalui puisi balada, dengan dinding rumah yang terpampang foto sosok bapak, aku lirik sedang melihat panutan hidupnya. Ia belajar arti kesabaran darinya dan lantas mendoakannya. // Di dinding rumah itu, / doa merambat seperti akar sunyi, / menyusup ke celah retakan waktu, / menyentuh bingkai foto bapak, / yang matanya masih menyimpan isyarat / tentang kesabaran yang tak pernah selesai. // Besar kemungkinan aku lirik mendapatkan surplus skill bersabarnya dari figur bapak. Jadi tak heran jika melihat foto bapakya dia semacam sedang memetik kesabaran. Lebih-lebih dalam berumah tangga kesabaran adalah kunci utama. Cak Nun pernah berkata, “Kelak kau akan sadar, bagian terberat dari mencintai adalah sabar.”
Bagi Abdul Wachid BS, Kamar Mandi adalah ruang spiritual untuk instropeksi dan membaca diri sendiri secara lebih utuh seluruh. // Kamar mandi ini, / seperti ruang sunyi, / di mana setiap tetes air / menjadi doa yang terucap tanpa kata, / mengalir dalam kesucian / yang tak terbebani / oleh hiruk-pikuk dunia. // Aku lirik menganggap kamar mandi sebagai ruang spiritual untuk mengingat dosa-dosa yang telah diperbuat oleh tubuh dan meyakini air yang membasuh tubuhnya sebagai upaya pembersihan diri.
Jika belum sepenuhnya mampu untuk bersih lahir dan batinnya, maka setidaknya bersih lahirnya terlebih dahulu. Karena apa yang tampak dari lahiriah adalah cerminan dari batiniah. Harapannya dengan bersih lahirnya, bersih juga batinnya. Dalam kondisi bersih lahiriah, seseorang akan mudah untuk beraktivitas, bergerak, dan melakukan kerja-kerja produktif-kreatif-inovatif. Di sisi lain ada hadist Riwayat Muslim yang terjemahan bebasnya kurang lebih “Kesucian/kebersiahan adalah sebagian dari iman.”
Secara hematnya, puisi-puisi dalam “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)” mendorong kita untuk mengaktifkan spiritualitas dari rumah dan dari ruang sesepele kamar mandi. Memang untuk berspiritual tak menunggu tempat, memang idealnya di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Akan tetapi sekarang ini rasanya mode spiritualitas hanya aktif ketika di masjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya. Padahal sejatinya mode spiritual harus tetap menyala tak terpengaruh oleh waktu dan tempat di mana kita berada.
Tabik,
Tim Redaksi

dari Banyumas menyapa Indonesia




