Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)

Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)

Balada Doa yang Merambat
di Dinding Rumah

Pagi menyapa
lewat garis cahaya yang retak di dinding,
tirai menunduk pelan
seperti istri yang khusyuk
menggulung rindu ke dalam sajadahnya.

Di dinding rumah itu,
doa merambat seperti akar sunyi,
menyusup ke celah retakan waktu,
menyentuh bingkai foto bapak,
yang matanya masih menyimpan isyarat
tentang kesabaran yang tak pernah selesai.

Jam dinding
hanya berdetak bila ada zikir,
dan lantai mendingin
seperti tubuh yang baru saja
disapu oleh air wudu yang gemetar.

Sajadah di ruang tamu
bukan hanya hamparan kain,
ia menampung langit yang gugur semalam,
dan mengangkatnya kembali
dalam sujud ibu
yang tak lagi kuat berdiri.

Sendok yang tergeletak
menggigil di atas meja,
seperti doa yang terlambat disampaikan
kepada anak yang tak pulang
karena mengejar dunia
lebih cepat dari takdir.

Doa itu merambat
ke kaki kursi, ke lubang kunci,
ke bawah bantal yang basah,
ke lipatan gorden,
ke udara yang mengendap
antara suara azan dan bau kayu tua.

Dan rumah itu
ia juga tubuh.
Ia pun ikut bersujud,
dengan dinding yang tak pernah minta dicat,
dengan atap yang menampung
langit yang mulai redup,
dengan pintu yang diam
setiap kali kita tak pulang-pulang.

2025

***

Ruangan Bernama Pasrah

Di pojok rumah,
ada satu ruangan yang tak diberi nama,
tapi tiap sakit datang,
aku selalu dibaringkan di sana.

Langit-langitnya putih
seperti lembar kosong tempat doa mengambang.
Temboknya dingin,
tapi mengandung ketenangan
yang tak ditemui di kamar mana pun.

Bapak duduk di kursi kecil,
membaca doa perlahan,
seakan tiap katanya
membujuk tubuhku
agar tak memberontak terlalu lama.

Ibu di ambang pintu,
memandangiku dengan mata
yang tak lagi butuh kata-kata,
karena cinta bisa diam
dan tetap utuh dalam air mata.

Ruangan itu tak memerlukan jam.
Waktu menggantung di antara peluh
dan desah yang makin lirih.
Dan di sanalah,
aku selalu kembali
bukan untuk melawan,
tapi untuk menyisakan nafas
yang cukup bagi satu harap
yang lahir dari pasrah.

2025

***

Balada Jam Dinding pun Ikut Gelisah

Jam dinding di ruang tamu
berdetik tanpa jeda,
tapi detaknya seperti gugup
seperti menunggu sesuatu
yang tak kunjung tiba.

Jarumnya bergerak
tanpa semangat,
seperti kaki tua
yang memaksakan langkah
di lorong waktu yang sempit.

Di kursi rotan,
aku duduk menatapnya,
dan merasa:
barangkali ia pun letih
menghitung hari yang tak pasti.

Ibu lalu datang
membawa segelas air hangat,
meletakkannya di meja,
dan menatap jam itu
dengan nafas panjang
yang menua bersama harap.

Bapak berdiri di dekat jendela,
menggenggam koran yang tak dibaca,
seakan huruf-huruf di dalamnya
telah kehilangan makna,
seperti hari-hari
yang menunggu kesembuhan
tanpa kabar.

Di rumah ini,
jam dinding menjadi saksi:
bahwa waktu bisa sangat lambat
ketika gelisah berteduh
di setiap detaknya.

Dan ketika malam turun
tanpa suara,
aku tahu
jam itu pun ingin istirahat,
tapi ia tetap berdetak
demi kita semua
yang masih ingin percaya
bahwa esok akan datang.

2025

***

Balada Anak Tangga
yang Tak Lagi Ramah

Anak tangga di rumah ini
tak lagi ramah pada lutut dan nafas.
Ia kini seolah bertanya
setiap kali diinjak:
“masihkah kau ingin naik ke lantai atas
dengan tubuh separuh luka?”

Dulu ia menyambut lompatan riang,
kaki-kaki kecil yang berpacu,
tertawa yang berhamburan
seperti matahari pagi
di sela teralis cahaya.
Kini, ia hanya diam
dingin seperti ubin kamar periksa.

Ibu menatap dari bawah,
mengatupkan tangan,
mengucap doa yang tak bersuara
saat langkah-langkah bergetar
di punggung anak tangga itu.

Bapak menunggu di atas,
menggenggam handuk kecil,
mengulurkan tangan yang pernah kuat
menopang dunia.
Kini ia memanggil
dengan sorot mata
yang lebih sabar dari waktu.

Anak tangga itu tetap berdiri,
tapi hatinya seperti menua
menyimpan jejak-jejak peluh dan ragu
yang tak terhapus pel
atau nyanyian sore.

Dan aku masih menapak perlahan,
bukan karena takut,
tapi karena tubuh ini belajar
bahwa setiap langkah
adalah doa yang dibisikkan
ke dalam sendi-sendiri.

2025

***

Kamar Mandi
dan Kesunyian yang Suci

Kamar mandi ini,
seperti ruang sunyi,
di mana setiap tetes air
menjadi doa yang terucap tanpa kata,
mengalir dalam kesucian
yang tak terbebani
oleh hiruk-pikuk dunia.

Di sudut-sudutnya,
ada cermin yang tak pernah berbohong,
menampilkan wajah yang lelah,
tapi juga penuh harapan
untuk memulai yang baru
dengan air yang menyegarkan.

Tangan yang menggosok tubuh
seakan membersihkan lebih dari sekadar kulit,
menghapus beban yang menumpuk
dari hari-hari penuh gejolak.

Di sini, aku mendengar hanya suara air,
suara itu, seperti suara hati yang tenggelam,
berusaha keluar dalam diam.

Bukan hanya tubuh yang terjaga,
tapi juga jiwa yang terbangun
dari tidur panjangnya,
merasakan ketenangan yang datang
dalam bentuk kesunyian yang suci.

Waktu berputar pelan,
seperti air yang mengalir tak terburu,
dan aku tahu,
di kamar mandi ini,
semua dosa,
semua kekhawatiran,
semua kegelisahan
dapat ditinggalkan
bersama tetesan terakhir yang jatuh.

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top