Mozaik Pekanan: Menenun Harmoni Imlek-Ramadhan dalam Pelayanan Publik

Barongsai bagi takjil di Sidoarjo (Foto: Suparno)

Awal bulan Ramadhan tahun 2026 berdekatan dengan Imlek. Tim Redaksi sebenarnya menunggu, apakah ada tulisan tentang Imlek yang masuk? Nyatanya tidak ada. Akhirnya kami menghubungi seseorang yang beberapa kali menitipkan tulisannya ke bilfest.id. Sependek jangkauan kami, beliaulah yang punya irisan erat dengan perayaan Imlek. Namanya Khansa Maria. Kami bertanya, “apakah punya tulisan tentang Imlek yang belum ditayangkan?” Singkat cerita, beliau punya dan mengirimkan 2 tulisan sekaligus.

Dalam Mozaik Pekanan kali ini, tulisan yang tayang dari tanggal 16-20 Februari 2026 ada sedikit benang merahnya. Kalau ternyata nggak ada, namanya juga Mozaik, kadang kala bisa utuh, kadang kala masih ada gerowongnya. Tim Redaksi mencoba menenunnya menjadi sebuah Mozaik Pekanan kedua yang kini tersaji untuk para pembaca.

Tulisan yang tayang di bilfest.id pekan ini tentang hak masyarakat atas pelayanan publik yang harus harmonis untuk siapapun tanpa terkecuali, seharmonis Imlek tahun ini yang hadir bersamaan datangnya bulan Ramadhan.

Bagja Wiranandhika Prawira dan “Suaranya” untuk Teman Tuli

Kami sangat senang ketika Mas Bagja mengirimkan tulisan ke bilfest.id. Sebuah energi baru untuk pembaca. Di beberapa platform media online, co-founder silang.id ini menyuarakan isu audiosentrisme dalam hal inovasi. Menurutnya, inovasi masih berpusat pada audio, dan hanya berpusat pada teman dengar.

Seperti yang dirasakan oleh Aulia Nabila Fal, temannya Mas Bagja tentang pelayanan publik kepada pemerintah bagi teman Tuli. Mas Bagja juga mengingatkan kepada industri yang berinovasi bahwa ada berbagai macam cara manusia untuk memahami dunia (multimodal), jadi jangan hanya inovasi tunggal yang berpusat pada audio.

Ia juga berharap supaya BISINDO menjadi bahasa sah. Karena tidak sekadar untuk berkomunikasi sesama teman Tuli dan teman Dengar. BISINDO adalah bentuk kebudayaan teman Tuli yang dapat menjaga martabatnya sebagai manusia.

Khansa Maria, Tentang Imlek dan Peranakan Tionghoa-Jawa

Melanjutkan prolog di atas tentang pencarian kami tulisan Imlek. Tulisan tersebut kami tayangkan di temenan.bilfest.id. Sebagai situs pendamping, temenan lebih bisa cepat untuk tayang dan turut menangkap momen yang sedang hangat-hangatnya.

Sebagai seorang Tionghoa peranakan, di momen Imlek ini Khansa Maria berbagi kisah dan pengetahuannya. Ia menceritakan tentang pernikahan lintas etnis dari sudut pandangnya sebagai peranakan Tionghoa. Ketika pernikahan adalah pertemuan dua keluarga besar, sedangkan ada situasi pertemuannya adalah lintas etnis, akhirnya ada sebuah proses pendewasaan dalam memandang kehidupan.

Dalam akhir tulisannya, Khansa Maria menyampaikan bahwa ketika terjadi pernikahan lintas etnis dan ada peranakan atas pernikahan itu, generasi baru tidak perlu memilih satu identitas untuk merasa utuh. Apalagi mengalami krisis identitas. Ia akan lahir dalam ruang baru, menjadi ruang baru bahkan menjadi sejarah baru, yang merupakan rangkaian dari sejarah pendahulunya.

Membuka Ramadhan dengan Tulisan dari Lutfi Kalbu Adi

Di ruang publik, ornamen khas Imlek tidak langsung terganti dengan ornamen Ramadhan. Melainkan berdampingan. Begitupun tulisan yang pertama kali tayang untuk menyambut bulan Ramadhan tahun 2026 ini. Sebenarnya tulisan ini sudah masuk ke meja redaksi jauh-jauh hari. Namun kita simpan secara rapi terlebih dahulu. Kemudian dikeluarkan manakala sudah saatnya.

Sebagai dosen Ilmu Hukum yang konsen sekali menyoroti kebijakan dan pelayanan publik, Bapak Lutfi Kalbu Adi -atau Pak Lutfi membawa pengetahuan yang biasanya menjadi konsumsi dalam ruang kelas ke ranah publik. Pak Lutfi menjelaskan tentang hak sebagai masyarakat akan akses pelayanan publik yang baik. Terlebih saat bulan Ramadhan tiba.

Sebenarnya, tulisan yang tayang hari Senin dan Selasa -2 hari sebelum tulisan Pak Lutfi tayang, adalah 2 klasifikasi masyarakat yang rentan akan diskriminasi pelayanan publik. Tulisan Mas Bagja tentang teman Tuli (penyandang disabilitas) sedangkan Khansa Maria adalah seorang peranakan Tionghoa. Jadi dengan membaca tulisan Pak Lutif tentang bagaimana pelayanan publik yang baik secara undang-undang dan dari segi kemanusiaan, kita mampu melihat dan mengawal praktiknya di lapangan. Dengan begitu, kita setidaknya mencegah kemungkaran yang memiliki dasar agama dan undang-undang. Kalau masih saja tidak ada layanan yang baik bagi masyarakat, sungguh bebalnya hidup mereka, para pelayan publik itu.

Penulis Indonesia Timur Membaca Kebijakan Pelayanan Publik

Salah satu penulis yang rajin mengirimkan tulisan-tulisan kritisnya ke bilfest.id adalah Firnasrudin Rahim. Ia berasal dari Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Entah mengapa, angin algoritma bilfest.id lebih dominan berhembus ke timur. Tapi itu tidak menjadi sebuah persoalan. Ketika situs bilfest.id bisa menjadi wadah teman-teman di sana untuk bersuara, justru kami akan turut merawatnya.

Kita bisa merasakan bercampur aduknya rasa kecewa, marah dan sedih yang dituangkan oleh Firnas dalam tulisannya pekan ini. Ia melihat bagaimana realitas yang terjadi atas kebijakan dan pelayanan publik di negaranya. Ya, negara kita tercinta.

Dalam tulisannya, Firnas bukan sedang mencatat peristiwa sedih dan absennya negara. Ia sedang berteriak atas ketimpangan yang terjadi. Namun teriakannya kalah keras dengan suara ompreng yang semakin hari semakin bising saja.

Meresensi Buku, Meresensi Makna Kehidupan Ala Bu Yuni

Setelah mengalami berbagai macam pergulatan kehidupan sebagai manusia dan sebagai masyarakat, kita diajak menjeda sejenak oleh Bu Yuni. Beliau seorang pustakawan di sebuah pesantren modern di Banyumas. Beliau mengajak kita untuk meresensi sebuah buku tentang self improvement, karya Didi Eko Ristanto. Oh iya, jadi ingat Mas Didi pernah menjadi salah satu pengisi di BIL Fest 2025 dalam sesi bincang bukunya “Self Healing Cara Rasulullah Saw

Bu Yuni mengajak kita untuk menyentuh sisi-sisi terdalam dalam kehidupan yang beliau ambil dari buku “Tuhan, Aku Masih di Sini”. Dalam buku itu menyampaikan bahwa “pertarungan terbesar dalam hidup bukanlah melawan orang lain. Bukan pula melawan setan. Pertarungan terbesar itu ada di dalam diri kita sendiri”.

Jadi untuk menjadi manusia yang harmonis dalam kehidupan -baik sebagai individu maupun sedang dalam posisi menjalankan peran-peran kehidupan, misalnya pejabat, ASN, guru, dosen dll.- bisa dimulai dari dalam diri. Dengan begitu, dari individu yang bersikap harmonis apalagi jumlahnya berlipat, akan terwujud sebuah kehidupan yang kita dambakan bersama.

Terima kasih, Gong Xi Fa Cai dan  Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top