Bercermin pada Tanah

Judul buku : Tuhan, Aku Masih di Sini
Penulis : Didi Eko Ristanto
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit : Pertama, 2026
Jumlah Halaman : x + 158 hlm
Deskripsi Fisik : 21 x 14 cm
ISBN : 978-623-00-7443-1

Apakah kita lebih cemas kehilangan pelanggan atau kehilangan iman? Apakah kita lebih bahagia saat naik gaji atau bisa istikamah dalam beribadah? Apakah yang lebih kita takutkan, tidak diterima di tempat kerja, atau tidak diterima di sisi Allah?

Buku Tuhan, Aku Masih di Sini karya Didi Eko Ristanto berawal dari pengakuan  penulisnya yang kesulitan mengingat Allah. Meskipun ibadah sudah dikerjakan, tetapi hati terasa kosong. Kekosongan ini  diakui Mas Didi – panggilan kesukaannya – berasal dari tidak dihadirkannya Allah saat melaksanakan ibadah. Salat ditunaikan  semata untuk menggugurkan kewajiban. Zikir dilantunkan hanya sekedar hafalan di bibir. Zakat dan sedekah dikeluarkan agar mendapat pujian.

Buku ini terbagi menjadi 5 (lima) bagian isi dan 1 (satu) penutup. Bagian pertama tentang menyelami diri sekaligus menemukan Tuhan, bagian kedua berisi renungan menghadapi kematian dan kehidupan akhirat, bagian ketiga tentang keikhlasan dan makna hidup, bagian keempat tentang kehidupan dan pengingat dari alam, dan bagian kelima pengingat tentang waktu dan perjalanan hidup.

Apa yang tertulis dalam buku ini hakikatnya adalah ungkapan hati yang mungkin mewakili banyak jiwa. Jiwa yang ingin berlari, namun kadang terseok. Jiwa yang ingin sujud lebih lama, namun terkadang terlelap dalam dunia. Jiwa yang ingin ikhlas, meski berat meninggalkan ego (h.v).

Selain menyentuh sisi-sisi terdalam kehidupan, buku ini mengajak kita untuk belajar dari tanah. Tanah yang terletak di bawah dan setiap hari kita injak ini mengajarkan untuk menjadi penjaga rahasia yang setia. Tanah sebagai tempat jenazah disemayamkan, akan menerima jenazah dalam diam, tanpa pernah membuka aib, dan tanpa menyebarkan apa pun yang dibawanya. Dengan demikian, ketika seseorang berkeluh kesah tentang permasalahan hidupnya, jangan jadikan itu bahan cerita untuk kita sebarkan pada orang lain. Jadilah kita seperti tanah bagi orang tersebut. Yakni tempat yang tenang, yang menyimpan, dan memelihara rahasia.

Apabila suatu hari kita berbuat baik, tentunya  berharap mendapat ucapan terima kasih. Saat menolong seseorang, ada setitik harapan untuk dihargai atau dihormati. Dan kita menjadi kecewa manakala tidak mendapatkan itu semua. Namun, tanah sebaliknya. Tanah tetap menumbuhkan tanaman, tetap memberi makan, menyuburkan pohon dan menghidupkan kehidupan. Tanah tak berharap disebut-sebut apalagi dipuji.

Tanah juga memberikan pelajaran bagi kita untuk menjadi pribadi yang ramah. Tidak hanya ramah terhadap sesama yang perbuatan dan perkataannya menyenangkan atau yang memiliki ide atau pikiran yang sama. Jadilah seperti tanah yang tak pernah memilih dan memilah siapa yang boleh singgah. Ia menerima siapa saja, tua-muda, baik-buruk, kaya-miskin. Tanah juga menjadi tempat duduk, tempat berbaring, dan tempat bersujud. 

Di lain waktu, terkadang kita merasa sudah lebih paham, lebih benar, dan lebih dekat kepada Tuhan dibandingkan orang lain. Mungkin karena merasa ilmu kita lebih tinggi atau iman yang lebih kuat.  Marilah kita belajar dari tanah yang selalu berada di bawah. Bukankah pohon paling tinggi sekalipun, akarnya tetap dalam tanah? Begitu pula manusia. Semakin tinggi ilmunya, semakin kuat imannya, seharusnya ia semakin rendah hati (116).

Buku ini juga menginspirasi untuk menyadari bahwa pertarungan terbesar dalam hidup bukanlah melawan orang lain. Bukan pula melawan setan. Pertarungan terbesar itu ada di dalam diri kita sendiri. Dengan demikian kita tidak perlu menguasai siapa saja. Kita hanya wajib menguasai diri kita. Bila gagal menaklukkan hawa nafsu sendiri maka kita akan kalah sebelum berperang.

Membaca buku ini akan memperkaya batin sehingga tetap teguh berbuat kebaikan, sekaligus memperkokoh langkah kita untuk tetap menaati perintah-perintah sekaligus menjauhi larangan-larangan Tuhan. Meskipun dalam perjalanannya akan banyak menghadapi ujian dan godaan. Yakinlah, di hadapan Tuhan, tidak ada yang sia-sia sebab yang dilihat adalah seberapa besar usaha dan perjuangan kita dalam menaati-Nya. Dan seberapa sering kita bangkit untuk kembali kepada-Nya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top