
Tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah inisiatif pemerintah Indonesia yang menyediakan makanan sehat dan bergizi tanpa biaya kepada kelompok rentan, khususnya anak PAUD hingga SMA/Sederajat serta ibu hamil. Tujuan utamanya adalah menurunkan angka stunting, anemia, dan gangguan pertumbuhan pada kelompok rentan. Selain itu, program ini juga diharapkan meningkatkan kualitas gizi, mendukung tumbuh kembang generasi muda, dan mendorong budaya makan sehat sejak usia dini. Program ini digerakkan melalui skema Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bekerja sama dengan berbagai pihak yang bertanggung jawab menyiapkan dan mendistribusikan menu seimbang setiap hari. Dengan anggaran triliunan rupiah per tahun, program ini mencakup seluruh wilayah di Nusantara dan menargetkan puluhan juta penerima manfaat.
Dari sisi implementasi, Program MBG menghadapi tantangan dari berbagai aspek. Beberapa di antaranya adalah: Pertama, proses pemilihan vendor kerap terhambat birokrasi atau kepentingan kelompok tertentu. Kedua, kurangnya sikap patuh terhadap standar baku tentang tata cara pengolahan. Ketiga, kendala dalam proses distribusi ke sekolah yang berada pada wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Keempat, sistem monitoring yang masih manual tentu akan mempersulit deteksi dini terhadap praktik penyimpangan. Serta masih banyak lagi tantangan dalam praktik di lapangan tentang program MBG.
Fenomena MBG
Menu MBG yang seharusnya kaya protein, vitamin, dan kandungan gizi lainya seringkali justru menyajikan paket dengan nilai gizi rendah. Di beberapa wilayah, bahan baku berkualitas tinggi justru tereliminasi. Porsi protein hewani seperti ikan atau telur disubstitusi dengan olahan tepung terigu yang murah dan minim gizi. Tidak sedikit sekolah melaporkan isi kotak MBG berisi roti tawar polos dengan olesan selai instan, serta minuman manis kemasan. Sehingga, meski terlihat “mengenyangkan” untuk sementara waktu, menu ini dinilai tidak mendukung tumbuh kembang optimal dan bahkan bisa memicu lonjakan gula darah.
Fenomena yang telah disebutkan tersebut menyebabkan dampak selanjutnya. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat bahwa sejak Januari hingga September 2025 ada 6.457 orang mengalami gangguan kesehatan atau keracunan setelah mengonsumsi MBG. Angka ini terungkap dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, di mana Kepala BGN Dadan Hindayana menyoroti perlunya peningkatan kepatuhan SOP pada setiap dapur mitra SPPG untuk meminimalkan risiko kesehatan. Banyak sekolah melaporkan lonjakan insiden muntah, diare, dan keracunan ringan dalam satu hingga dua hari pasca mengonsumsi paket MBG. Analisis pola keracunan mengungkap bahwa sumber masalah sering bermuara pada ketidaksesuaian standar baku di dapur mitra SPPG. Beberapa di antaranya adalah waktu masak yang dipersingkat untuk mengejar kuota harian. Hal tersebut berujung pada makanan setengah matang. Proses pendinginan setelah memasak diabaikan yang dapat meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan perubahan aroma dan penurunan nilai gizi. Kemudian transportasi jarak jauh tanpa fasilitas yang memadai untuk meminimalisir risiko kontaminasi silang antara bahan basah dan kering.
“Korban dengan angka tertinggi atas kelalaian program MBG adalah siswa. Mereka kehilangan rasa aman dalam mengonsumsi paket MBG di sekolah.”
Di Satu Sisi
Keberlanjutan MBG menjadi “ladang subur” bagi berbagai pihak. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—sebagai mitra penyedia katering—memegang peran sentral dalam mengolah, memasak, dan mendistribusikan menu harian. SPPG bersama anak perusahaan dan subkontraktornya mampu menciptakan lapangan kerja bagi puluhan ribu koki, asisten dapur, dan tenaga logistik. Keberlanjutan akan program ini memberi kepastian pendapatan serta kesempatan berinvestasi pada beberapa pihak. Petani lokal, pelaku usaha mikro, pemasok sayur, buah, telur, dan ikan serta bahan-bahan lainya memperoleh permintaan rutin yang stabil. Jasa angkutan bahan baku dan distribusi menu ke ribuan sekolah di seluruh Nusantara. Serta berbagai pihak lainya yang dapat dikatakan bahwa program ini turut memberdayakan ratusan ribu pekerja dan pelaku usaha.
Di Sisi Lain
Korban dengan angka tertinggi atas kelalaian program MBG adalah siswa. Mereka kehilangan rasa aman dalam mengonsumsi paket MBG di sekolah. Trauma fisik akibat keracunan berimbas pada penurunan nafsu makan, absensi sekolah meningkat, dan kepercayaan orang tua terhadap program pemerintah melemah. Pengeluaran untuk biaya berobat atau rawat inap memicu beban finansial tambahan bagi keluarga. Di sisi lain, pedagang kantin dan warung di sekolah turut terpukul atas program MBG. Penurunan drastis pembelian oleh siswa ketika menu MBG didistribusikan, berdampak pada penurunan pendapatan mereka yang bergantung pada pelanggan harian. Tak sedikit yang terpaksa untuk gulung tikar akibat program MBG.
Evaluasi Program MBG
Dalam rapat terbuka dengan Komisi IX DPR, Dr. dr. Tan Shot Yen mengecam statistik resmi yang menyepelekan kasus keracunan MBG sebagai “angka kecil”. Menurutnya, setiap anak yang jatuh sakit adalah kegagalan moral dan teknis, bukan sekadar persoalan persentase. Ia menekankan pentingnya menerapkan prinsip kehati-hatian dalam program publik yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Kritik ini menyoroti bahwa kebijakan top-down tanpa konsultasi dengan ahli gizi dan ahli yang terkait dikhawatirkan akan menciptakan kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan.
Kelompok pengawas independen seperti Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) dan Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menyerukan moratorium sementara program MBG. Desakan moratorium bukan penolakan terhadap tujuan program, melainkan langkah jeda untuk evaluasi menyeluruh dan reformasi tata kelola. Tanpa reformasi ini, menurut mereka, risiko kerugian sosial dan ekonomi akan terus bertambah, bahkan bisa menggoyahkan kepercayaan publik pada kebijakan pemerintah selanjutnya.
Program Ini Baiknya Lanjut atau Sudahi?
Pertanyaan yang sedang marak di berbagai kalangan masyarakat adalah bentuk respon masyarakat atas fenomena yang terjadi di lapangan atas program MBG. Ada beberapa tawaran sebelum terjadi kemungkinan terburuk atas program ini. Langkah pertama adalah memperketat standar baku penanganan pangan di setiap jenjang, mulai penerimaan bahan baku hingga penyajian di lokasi sasaran. Waktu memasak, proses sterilisasi alat, dan transportasi dengan fasilitas yang memadai untuk meminimalisir risiko pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan perubahan aroma dan penurunan nilai gizi. Pelatihan bersertifikat tentang higiene dan gizi bagi seluruh petugas dapur berkolaborasi dengan BGN, BPOM, dan Dinas Kesehatan.
Langkah kedua, transparansi menjadi kunci untuk meredam praktik penyimpangan. Melibatkan komite sekolah dan perwakilan orang tua sebagai pengawas lokal akan meningkatkan akuntabilitas. Selain itu, digitalisasi pelaporan dapat dilakukan melalui aplikasi mobile atau website yang memungkinkan guru, siswa, dan orang tua melaporkan keluhan mutu makanan secara real time. Masyarakat tidak ingin setiap daerah hanya menunggu giliran untuk keracunan. Masyarakat juga tidak ingin korban atas proram ini akan semakin bertambah. Dengan kombinasi perbaikan teknis, sistem pengawasan, dan pelibatan berbagai pihak, kiranya program MBG dapat berjalan optimal apabila tidak ingin masyarakat menuntut paksa agar program ini diberhentikan. Dengan tawaran solusi tersebut, program MBG dapat benar-benar menjadi tonggak peningkatan gizi dan kualitas hidup anak bangsa. (BAF)
Bramantyo Arif Febrianto. Pelaku seni dan budaya, sekaligus Master of Ceremony. Saat ini menempuh studi S2 di Pascasarjana ISI Surakarta. Berasal dari Desa Banteran, Wangon, Banyumas. Aktif di Instagram @bramantyo_mc dan TikTok @kabramantyan.




