Sandal Jepit Masjid: Ujian Keikhlasan yang Selalu Terulang di Hari Jumat

Dahulu, saya pikir ujian keikhlasan terbesar itu datang saat kehilangan pekerjaan, uang, atau ditinggal orang yang disayang. Ternyata saya keliru. Ujian itu bisa datang dalam bentuk kejadian kehilangan sandal jepit setelah salat Jumat.

Kejadiannya minggu lalu, tepatnya pada tanggal 15 Agustus 2025 pada hari Jumat. Saya ke masjid agak terburu-buru. Jadi asal menaruh sandal di rak utara, baris ketiga dari bawah. Sandalnya masih terbilang baru, warna biru, empuk, nyaman dipakai, dan itu mungkin sandal yang dapat mengundang hasrat kaki orang lain.

Saat itu, salat Jumat berjalan khusyuk, dari azan pertama, kedua khutbah, sampai salam terakhir. Begitu keluar, hati langsung gelisah ketika tahu bahwa sandal saya hilang, dan kemungkinan dibawa orang. Sebagai gantinya, ada sandal Swallow warna kuning yang ukurannya dua nomor lebih kecil dari kaki saya.

Saya berdiri memandangi sandal itu lama-lama, berharap dia berubah warna atau ukuran. Akan tetapi tidak mungkin terjadi. Di satu sisi, jelas ada yang salah ambil. Di sisi lain, saya nggak tega kalau sandal itu memang milik orang yang sedang terburu-buru. Akhirnya saya pakai juga, melangkah pelan-pelan sambil khawatir talinya putus di tengah jalan.

“Jangan biasakan menukar atau mengambil barang yang bukan milik kita, itu bagian dari nyolong. Walaupun terlihat sudah lumrah di masjid, kita jangan sampai jadi bagian dari orang yang melakukan hal demikian.”

Perasaan jengkel itu bertahan sampai rumah. Tapi anehnya, lama-lama malah lucu. Saya membayangkan orang yang sekarang memakai sandal saya. Mungkin dia juga lagi mikir, “Sandal siapa ini kok empuk banget?” Dan mungkin, seperti saya, dia pun berkata dalam hati, “Ya sudah lah, rezeki jangan ditolak.”

Kalau dipikir-pikir, hilangnya sandal di masjid ini sudah seperti budaya tak tertulis yang kita semua tahu resikonya. Bedanya, kalau motor hilang di parkiran mall, kita bisa ngamuk-ngamuk, tapi kalau sandal hilang di masjid, kita malah bilang, “Mungkin sudah rezekinya dia.” Aneh, tapi indah juga.

Bahkan, kalau ada survei nasional tentang “Barang paling sering hilang di masjid”, kemungkinan besar kejadian sandal akan menang telak, disusul payung di musim hujan, lalu peci anak kecil yang entah kenapa selalu nyasar di kepala orang lain. Rasanya, kehilangan sandal sudah jadi bagian dari paket lengkap pengalaman spiritual.

Akhirnya saya sadar, kehilangan sandal di masjid bukan cuma soal kehilangan barang, tapi latihan memaafkan. Dan memang benar kata beberapa ustaz di pengajian, yang selalu menyampaikan bahwa ikhlas itu berat, tapi bisa dimulai dari hal kecil. Bahkan sekecil kehilangan sandal jepit.

Saya jadi teringat, dahulu pernah ada jemaah yang begitu sering kehilangan sandal, sampai akhirnya beliau bawa sandal cadangan di dalam tas, kayak orang bawa makanan ringan. Jadi kalau sandalnya hilang, langsung keluar cadangan: “Tenang, iman saya aman, sandal pun ada backup-nya.” Lucu tapi cerdas juga.

Ada juga teman saya yang sampai menulis namanya di sandal dengan spidol besar-besar. Tapi masalahnya, tulisan di sandal tersebut “Punya Ahmad” itu nggak mencegah orang lain untuk salah ambil. Justru kadang-kadang ada yang sengaja pakai sambil bilang, “Ya ini kan saya juga Ahmad, tapi Ahmad yang lain.”

Dan jangan salah, ada juga jemaah kreatif yang pakai strategi “sandal kamuflase.” Sandal barunya disembunyikan di bawah sandal jepit jadul yang sudah putus sebelah, biar nggak dilirik orang. Masalahnya, kadang yang hilang justru sandal jadulnya, sementara sandal barunya tetap aman. Betul-betul misteri kehidupan.

Karena pada akhirnya, “Lebih baik kehilangan sandal di masjid, daripada sandalnya tidak pernah diajak ke masjid.” Belajarlah memaafkan, tapi jangan sampai melupakan. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Siapa tahu, dari kehilangan sandal, kita belajar bahwa yang benar-benar penting bukan apa yang kita injak, tapi ke mana kaki itu melangkah. Kalau kaki masih melangkah ke masjid, Insya Allah kita nggak pernah benar-benar rugi.

Dan buat para jemaah, mari kita jaga adab kecil ini. Jangan sampai salat yang khusyuk ternodai hanya karena kita salah ambil sandal orang. Bawa pulang “ketenangan” dari masjid. Bukan “sandal” yang bukan milik kita. Karena bisa jadi, keikhlasan yang lahir dari hal kecil ini akan mendidik hati kita menghadapi ujian besar di kemudian hari. Sebab sejatinya, masjid bukan hanya tempat kita beribadah, tapi juga ruang latihan meningkatkan akhlak. Kalau kita bisa menjaga hal kecil seperti selalu memperhatikan sandal saat masuk dan keluar masjid, Insya Allah kita juga akan dimampukan menjaga hal-hal besar dalam hidup. Jadi lain kali, kalau sandal hilang lagi, anggap saja itu bukan musibah, melainkan tiket gratis untuk belajar ikhlas. Terlihat sederhana, tapi tidak semua orang dapat mempraktikkannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top