
Pada malam yang sunyi dan tenang. Pada malam Rabu lalu, 1 Juli 2025. Waktu dihelatnya ngaji rutinan kitab Khazinat Al-Asror bersama Abah Kiai Taufiqurrahman, selaku pengasuh Pondok Pesantren Darul Abror Purwokerto. Sebagaimana ngaji kitab-kitab kuning di pondok-pondok salaf pada umumnya. Abah Kiai Taufiqurrahman membacakan kitabnya disertai dengan penggunaan makna jawa. Sementara santriwan-santriwatinya mendengarkan dengan seksama sembari ngabsahi kitabnya dengan cermat dan terampil (sebenarnya terampil atau tidaknya tergantung skil masing-masing santri) menggunakan makna jawa pegon. Model pembelajaran semacam ini, dalam kalangan santri akrab disebut dengan ngaji bandongan.
Pastinya teman-teman pembaca (yang dari kalangan santri) sudah tidak asing dengan istilah ngabsahi, pegon dan bandongan. Ngabsahi sependek pengetahuan saya, adalah tradisi memaknai (menerjemahkan) kitab atau naskah arab dengan metode terjemah kata perkata, disertai menggunakan rumus-rumus tertentu. Sementara pegon adalah istilah atau sebutan dari bahasa jawa yang penulisannya menggunakan huruf hijaiyah. Sedangkan bandongan merupakan suatu model pembelajaran yang biasa dipakai di pondok-pondok pesantren dengan cara sang guru membacakan kitab berikut maknanya serta menjelaskannya sedang murid atau santrinya ngarteni kitab sembari mendengarkan gurunya sekaligus memperhatikannya dengan seksama. Sekurang-kurangnya semacam itu, terkait apa yang saya pahami dari ngabsahi, pegon dan bandongan.
Pada kesempatan ngaji kemarin, ada yang rasanya menarik untuk di-highlight mengenai suatu hal yang vital atau fundamental dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dinamika amal perbuatan. Mengingat, semakin ke sini, semakin banyak dan mewabahnya hal-hal yang mendistraksi kita dari aspek-aspek penting, pokok, dan fundamental dalam kehidupan. Oleh karena itu, bukanlah hal yang sia-sia jika apa yang didapat dalam kesempatan ngaji tersebut untuk kemudian disebarluaskan.
4 Hal Vital dalam Beramal
Dalam kitab Khazinat Al-Asror karya Syaikh Muhammad Haqqi an-Nazili, halaman 6, terbitan Dar Al-Kutub Ilmiah, disebutkan bahwa ada 4 hal vital yang harus ada saat menunaikan amal kebaikan. Dengan kata lain, dalam melakukan ibadah, 4 hal ini tak boleh dilewatkan begitu saja. Karena 4 hal ini tergolong fundamental dalam sebuah peribadatan. Bahkan bisa menentukan keabsahan dari ibadah itu sendiri. Maka dari itu, penting untuk kita pahami dan praktikkan bersama-sama. Tak cukup hanya sekadar tahu, tapi juga diamalkan. Mengingat, sebagaimana pepatah legendaris yang berbunyi, “Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah.” Senada dengan itu, kitab Jalailu Al-Afham juga berpesan, yang kurang lebih terjemahannya adalah “Ilmu tanpa amal bagaikan mendung tanpa hujan.” Wes njan… Koyo lagune Mas Kukuh Kudamai ngga sih? “Mendung tanpo udan… Ketemu lan kelangan…”
Idealnya memang masing-masing orang berkarakter “Berilmu amaliah dan beramal ilmiah.” Namun, terlepas dari itu, menjadi pribadi yang tahu dan berilmu juga sudah menjadi nilai plus. Setidaknya pengetahuan tersebut nantinya bisa dijadikan sebagai trigger untuk menunaikan amal kebaikan atau mempraktikkan alias mengejawantahkan pengetahuaannya dalam tindakan nyata. Agar tidak panjang lebar, akan kami sebutkan 4 hal vital yang harus ada pada saat menunaikan amal kebaikan sebagaimana yang termaktub dalam kitab Khazinat Al-Asror, yaitu:
Pertama, Ilmu (pengetahuan). Ilmu, pengetahuan, wawasan, dan informasi mengenai suatu peribadatan atau amal perbuatan adalah suatu kunci untuk terselenggaranya ibadah dengan baik dan benar. Pengetahuan terkait suatu ibadah harus sudah diketahui terlebih dahulu oleh seseorng sebelum menunaikannya. Jika beramal tapi tidak disertai dengan pengetahuan yang utuh, bisa dipastikan kesalahannya akan lebih banyak dan lebih besar dibanding dengan keabsahannya. Analoginya semacam demikian, seseorang akan mengendarai motor, akan tetapi ia belum tahu ilmu untuk mengendarainya. Jika ia memaksakan diri untuk tetap mengendarainya, bisa dipastikan ia akan gagal. Entah mungkin terjatuh, menyrempet, menabrak, dan mencelakai orang lain dan lain sebagainya.
Hal ini tampak jelas sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Muhammad Haqqi an-Nazili, yang kurang lebih terjemahannya berbunyi, “Jika tanpa disertai ilmu, maka apa yang merusak amal lebih banyak daripada apa yang memperindah amal.”
Kedua, Niat. Setelah ilmu pengetahuan mengenai suatu ibadah, hal yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah niat. Niat dilaksanankan saat (bersamaan dengan) melakukakan suatu amal perbuatan. Sebagaimana yang sering kita jumpa-temui terkait definisi niat, yakni “Niat adalah menyengaja sesuatu yang dibarengi dengan mengerjakannya. Tempatnya niat adalah di dalam hati.”
Syaikh Muhammad Haqqi an-Nazili bahkan mengingatkan kita akan pentingnya niat. Suatu hal yang vital dan fundamental dalam peribadatan dan amal perbuatan apapun. Karena hanya dengan niat, perbuatan kita menjadi abash dan bernilai ibadah serta mendapatkan impact berupa pahala dari sisi-Nya. Syaikh Muhammad Haqqi an-Nazili mengingatkannya dengan mengutip sabda baginda Nabi Muhammad saw, “Tidak ada pahala bagi dia yang (dalam beramal) tidak berniat (melakukan niat).”
Ketiga, Sabar. Sabar menjadi hal fundamental juga yang perlu ada sebagai fondasi dari berdirinya suatu amal perbuatan. Lantas, kapan sabar diperlukan dalam melangsungkan amal perbuatan? Jawabannya adalah sewaktu melakukan amal perbuatan tersebut. Sebagaimana disampaikan dalam Khazinat Al-Asror yang kurang lebih terjemahan bebasnya adalah demikian, “Sabar dilakukan sewaktu menunaikan amal tersebut. Jika suatu amal tidak disertai dengan kesabaran, maka kecerobohan (kelengahan) akan lebih banyak daripada kesuksesannya.”
Sifat sabar adalah sifat yang mulia yang harus kita upayakan dalam setiap aspek kehidupan kita. Lebih-lebih dalam amal perbuatan, baik yang berbasis ibadah pribadi maupun sosial atau apa pun selainnya. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 45 yang terjemahannya kurang lebih demikian, “dan mintalah pertolongan atas segala sesuatu dengan kesabaran dan juga shalat, sesungguhnya hal demikian amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”
Keempat, Ikhlas. Terakhir, adalah ikhlas. Imam Abu Hamid al Ghazali dalam kitab Qāmi’u al Thughyān mendefinisikan ikhlas yang kurang lebih dalam bahasa indonesianya sebagai berikut, “Ikhlas adalah apa yang ada dalam tujuan amal murni untuk mendekatkan diri kepada Allah”. Syaikh Muhammad Haqqi an-Nazili mengingatkan kita akan penting dan vitalnya nilai ikhlas dalam setiap amal perbuatan. Beliau menambahkan, yang dalam bahasa Indonesia demikian, “Jika amal perbuatan tidak dibarengi dengan keikhlasan, maka amal tersebut justru akan dikembalikan kepada yang beramal alias ditolak dan tidak diterima.”
Seorang tokoh sufi besar dari Mesir, Syekh Dzunnun al Misri, dalam Risalah al Qusyairiyah memberikan semacam indikator sebuah keikhlasan, “Ada tiga tanda keikhlasan seseorang: jika ia menganggap pujian dan celaan orang sama saja, jika ia melupakan pekerjaan baiknya kepada orang lain, dan jika ia lupa hak kerja baiknya untuk memperoleh pahala di akhirat” Sebagai penutup, mari kita bersama-sama untuk memaksimalkan setiap amal perbuatan kita. Apalagi amal-amal perbuatan yang jelas-jelas nilai ibadahnya. Seperti halnya ibadah-ibadah fardhu dan sunnah. Maka perlu kita perhatikan dengan seksama 4 hal yang telah kita ketahui bersama dan berupaya untuk sungguh-sungguh mengamalkannya.
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_




