Tirakatan, Relasi Kuasa, dan Kebudayaan yang Diciptakan

Meskipun saya sekolahnya jurusan teknik, namun saat dulu pelajaran IPS ada materi yang masih teringat sampai sekarang. Saya memang punya ketertarikan tersendiri terhadap ilmu sosial dan budaya. Waktu itu guru saya menjelaskan tentang apa itu budaya. Beliau menulis di papan tulis hitam pakai kapur putih, tentang makna budaya. Beliau menjelaskan denga perlahan, bahwa kata “budaya” berasal dari kata budi dan daya. Sambil menuliskan materinya. Pada saat itu saya tertarik karena beliau menjelaskan bahwasannya kebudayaan yang kita lihat dan rasakan sekarang adalah hasil ciptaan manusia terdahulu. Termasuk teknologi, produk dan alat-alat yang kita pakai sekarang.

Berarti manusia sekarang pun bisa menciptakan budaya yang baru di kehidupannya? Baik itu budaya yang berwujud (produk) atau sebuah aktivitas. Lalu budaya itu diakui oleh masyarakat di sekitarnya kemudian meluas. Budaya atau aktivitas itu kemudian dijalani terus-menerus dan turun temurun hingga menjadi tradisi (produk). Jika sebuah budaya diciptakan oleh manusia berarti ia adalah manusia yang kuat. Baik dari segi sarana dan prasarananya. Itu yang ada dalam pikiran saya pada waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, saya bisa menangkap apa yang disampaikan oleh guru saya. Setelah saya melihat tradisi (produk) dan kebudayaan yang dijalani oleh masyarakat. Kebudayaan yang menjadi tradisi (produk) yang dirawat oleh masyarakat sekarang adalah ciptaan manusia terdahulu. Para kakek-nenek moyang. Masyarakat merawatnya tanpa “membantah” dan mempertanyakan urgesinya atau bertanya “apa yang menjadi dasar tradisi ini?”. Masyarakat tetap menjalani, meski kini karena kemajuan zaman, dalam praktiknya ada modifikasi dan penyesuaian karena kondisi atas kesepakatan bersama dalam menjalaninya.

Masyarakat kita memiliki berbagai macam tradisi yang sudah dijalani secara turun temurun. Kita ambil contoh adalah tradisi malam tirakatan menjelang hari kemerdekaan. Ada yang menyebutnya tirakatan pitulasan. Meskipun transfer kebudayaan antar generasi atas tradisi tersebut tidak melulu melalui lembaga, tersistem ataupun menggunakan kurikulum yang teruji secara akademik. Namun tradisi ini dijalani oleh masyarakat kita.

Dalam pengertian umum, tirakatan merupakan sebuah upaya mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa, baik berupa perilaku, hati dan fikiran. Beberapa sumber mengatakan tradisi malam tirakatan sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Hingga kini setelah kemerdekaan, tradisi itu dilakukan meskipun ada perbedaan. Jika tirakatan sebelum kemerdekaan bermakna berjuang, jika sekarang dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain. Serta menjadi sarana berdoa bersama untuk para pejuang kemerdekaan.

Tentu hal itu tidak terlepas dari relasi kuasa seorang tokoh atau pemimpin suatu wilayah dalam menggerakkan masyarakatnya. Dari hasil kebudayaan itu kemudian dijalani secara rutin dan terus menerus, hingga menjadi sebuah tradisi. Secara aktivitasnya, tirakatan bukanlah ritus keagamaan atau wajib. Hanya saja ada unsurunsur agama dan sosial yang ada di dalamnya. Dari segi makna tirakatan sendiri, memang memiliki nilai-nilai spiritual tentang bagaimana berhubungan (relasi) kepada Tuhan. Dan dilakukan secara bersama-sama sebagai perwujudan bahwa manusia makhluk sosial.

Jika kebudayaan bisa diciptakan, lalu dirawat hingga menjadi tradisi, berarti manusia pada zaman sekarang –mungkin kita bisa menyebutnya era modern, juga bisa menciptakan sebuah produk kebudayaan baru. Jika kebudayaan baru itu kuat dan diterima masyarakat, lama kelamaan bisa menjadi sebuah tradisi baru. Asalkan memiliki relasi kuasa dan sarana dan prasarana yang memadai. Serta didukung oleh masyarakat –minimal di sekitarnya. Di sinilah letaknya pentingnya sebuah kuasa. Karena tanpa kuasa, manusia tidak akan bisa melakukan sebuah penciptaan kebudayaan (baru).

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah, ketika kebudayaan bisa diciptakan, berarti juga bisa dihilangkan atau terganti. Tergantung oleh tokoh atau pemimpin yang memiliki relasi kuasa pada suatu zaman. Ia perlahan bisa menggantinya. Atau malah menghilangkan sebuah tradisi (produk) kebudayaan orang terdahulu. Hingga hanya jadi sejarah dan cerita saja. Dan bisa jadi tanpa sadar, kita malah memulai sebuah upaya budaya yang kelak menjadi tradisi (baru).

1 komentar untuk “Tirakatan, Relasi Kuasa, dan Kebudayaan yang Diciptakan”

  1. Pencari kebenaran

    Menarik, khususnya pada pembahasan budaya bisa ditinggalkan atau dihilangkan oleh sekumpulan masyarakat baru. Saya jadi bertanya, memangnya kalau budaya dihapuskan tidak masalah? Bagaimana dengan pendapat tentang budaya adalah produk sejarah yang harus diingat dan dilestarikan, jangan sekali-kali lupakan sejarah kata bung karno.

    Kalau memang boleh dihilangkan, alasan logisnya kenapa? Berikan contoh nyata baik yang sudah dihapus atau kemungkinan akan terhapus.

    Saya juga tertarik dengan pembahasan bagaimana budaya yang kelihatannya menentang syariat Islam, apakah harus dihapus atau hanya sekadar digabungkan? Tapi bagaimana caranya? Bukannya kalau digabungkan malah akan menghilangkan essensi budaya itu sendiri?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top