
Di awal tahun Januari 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merencanakan sebuah kebiasaan yang mewajibkan para peserta didik dan semua warga sekolah untuk menyanyikan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” sebelum memulai pembelajaran di kelas. Ini sebagai bagian dari pendidikan karakter demi mencetak sumber daya manusia unggul. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, selain menyanyikan lagu kebangsaan, para pelajar juga diajak senam dan berdoa sebelum memulai pelajaran yang kementerian sebut sebagai program “Pagi Ceria”. Kegiatan ini diyakini tidak akan memakan banyak waktu karena hanya berlangsung sekitar 10 menit.
Dan hal ini juga telah dipraktikkan di salah satu kampus swasta di Sulawesi Tenggara. Meski implementasinya tidak dilakukan secara intens setiap hari. Namun beberapa kali di jam 10 pagi, lagu kebangsaan didengarkan menggunakan pengeras suara. Saat itu juga pegawai, dosen dan mahasiswa otomatis berhenti melakukan aktivitas, berdiri dan secara khidmat mendengarkan lagu kebangsaan.
Pembiasaan ini memang terlihat sebagai ajakan moral dan mencintai tanah air serta menumbuhkan semangat nasionalisme. Dan tentu memiliki tujuan yang baik pula. Tidak hanya itu, pemutaran lagu Indonesia Raya juga menjadi upaya untuk membangun suasana nasionalis dan menciptakan semangat kolektif nasionalisme dalam satu waktu.
Pembiasaan di atas dalam pandangan Foucault, hal tadi tidak hanya sekadar perintah. Melainkan cara tidak disadari atau cara paling halus bagaimana kekuasaan itu bekerja. Selain itu juga, menyimpan dinamika bagaimana kekuasaan menciptakan dan membangun serta mengukuhkan dominasinya. Kekuasaan tidak hanya hadir melalui larangan atau hukuman. Terkadang, ia muncul dengan bentuk lebih halus, ajakan, kebiasaan, dan rutinitas yang perlahan-lahan membentuk cara kita berpikir dan bersikap.
Di permukaan imbauan di atas, terlihat sederhana. Hanya cukup mendengarkan, berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan. Tetapi, jika ditakar dalam diskursus Foucault, kegiatan tadi merupakan salah satu ritual kecil yang membentuk dan mengatur pikiran dan tubuh. Tanpa disadari, setiap anak dan guru diarahkan untuk berhenti sejenak, berdiri tegap dan mengupayakan hadirkan perasaan nasionalisme yang diatur waktunya.
Pembiasaan dan menjadi kebiasaan ini menciptakan suasana yang bermakna “siswa dan guru yang baik” berarti harus mengikuti aturan. Berlalu kemudian, himbauan tadi tidak hanya harus dilakukan melainkan berubah menjadi sesuatu yang wajar untuk dilakukan. Dan inilah yang menurut Foucault sebagai sebuah proses pembentukan subjek. Di mana setiap individu dikondisikan menjadi individu tertentu karena aturan dan kekuasaan membentuk cara berpikir dan berperilaku.
Di masyarakat modern kekuasaan tidak lagi bekerja secara fisik. Masyarakat modern telah jauh berkembang dengan institusi Hak Asasi Manusia, dapat mengenal, mengidentifikasi dan memberikan alarm jika kekuasaan bekerja menggunakan fisik. Dan kini kekuasaan itu bekerja dengan cara yang paling halus.
Kekuasaan bekerja melalui pendisiplinan pikiran dan tubuh. Berbagai aturan kecil yang mengatur cara masyarakat modern berpikir dan tubuh bergerak. Hal ini dilihat pada himbauan tadi, bagaimana setiap tubuh diatur agar berhenti, berdiri dan harus diam. Bagi siapa pun yang berada di posisi itu, pasti merasa tidak sedang diatur dan secara sukarela menyerahkan tubuh masuk ke dalam dominasi kekuasaan.
Pembiasaan di atas, tidak hanya mengatur tubuh melainkan juga mengatur cara berpikir. Dengan memainkan lagu kebangsaan secara rutin dan terjadwal, kekuasaan sedang berupaya membangun apa yang disebut Foucault regime of truth, sebuah konsep tentang mekanisme, aturan, dan wacana dominan yang memproduksi, mengatur, dan mendistribusikan apa yang dianggap kebenaran dalam suatu masyarakat. Regime of truth juga melihat tentang bagaimana pengetahuan beroperasi bersama kekuasaan dalam menentukan apa yang benar atau salah, valid dan tidak valid dan dinormalisasi. Sehingga memunculkan gagasan bahwa setiap orang yang ingin terlihat baik adalah mereka yang tertib mengikuti ritual tadi. Dan bagi siapa pun yang tidak mengindahkan maka dianggap tidak disiplin dan kurang nasionalis.
Dan hari ini kekuasaan bekerja dengan cara yang sangat halus yaitu imbauan. Dan disini lah kekuasaan moderen bekerja dengan cara yang mudah diterima dan sangat efektif. Setiap orang tidak dipaksa, melainkan diarahkan untuk menginternalisasikan aturan sehingga menjadi sesuatu yang wajar. Dan berlalu waktu aturan tersebut berubah menjadi kebiasaan yang diterima dengan narasi “memang seharusnya seperti itu”. Saat hal itu terjadi, maka kekuasaan telah bekerja dengan benar dan sukses membentuk cara berpikir setiap orang.
Imbauan pemutaran dan mendengar lagu kebangsaan pada akhirnya bukan hanya soal menanamkan jiwa nasionalisme. Tetapi bagian dari cara kekuasaan modern mengatur banyak tubuh dan membentuk pikiran melalui kebiasaan kecil yang terus diulang. Kekuasaan tidak perlu mengawasi secara langsung cukup menciptakan makna tentang kepatuhan dan menjadi orang baik, maka setiap orang akan menjadi pengawas bagi yang lain. Dan seperti itulah kontrol kekuasaan berjalan secara otomatis.
Firnasrudin Rahim adalah penulis yang berasal dari Desa Wapaejaya Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Selain membaca buku ia gemar berburu buku promo di toko buku kesayangan, Dielaktika Bookshop. Silakan disapa melalui Instagram @firnas_id.




