Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 7)

Supaya lebih tandas membacanya, bacalah terlebih dulu:
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 1)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 2)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 3)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 4)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 5)

Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 6)

Langit Membisikkan Jawaban

Aku telah menulis
surat-surat panjang
kepada langit yang diam.
Di setiap kalimatnya,
tertinggal jejak langkahmu
di beranda doa.

Langit
diam seperti perempuan
yang menyembunyikan rindu
di balik matanya.
Aku bertanya:
kenapa cinta selalu datang
dengan luka sebagai tamunya?

Kota ini penuh pertanyaan.
Lelaki-lelaki menggenggam setia
seperti batu yang tak bisa menangis.
Perempuan-perempuan menyapu
halaman hati
dengan rambut mereka
yang tergerai
pada malam yang tak selesai.

Aku mencari jawaban,
dan langit hanya memberi
embun
di ujung kelopak mawar.
Ia tak berkata apa-apa,
tapi aku tahu:
di balik diamnya,
ada cinta
yang sedang tumbuh
tanpa nama.

Kini aku mengerti
tak semua kata
harus dijawab dengan suara.
Kadang, cinta cukup dinyatakan
dengan cahaya pagi
yang tetap setia datang,
meski malam
tak pernah benar-benar pergi.

2023, 2025

***

Balada Cinta
yang Tak Minta Kembali

Di lembah sunyi,
angin membawa kabar bayangan,
seorang kekasih berjalan
dengan cinta yang kehilangan suara.

“Wahai langit,” katanya,
“aku tak lagi mencarimu.”
Bulan di atas pucuk randu senja
menunduk, menangkap nadanya yang pilu.

Ia pernah menunggu bunga,
di taman tak bernama.
Ia pernah menanti kabar
di jendela yang tak pernah terbuka.

Kini ia berjalan
tanpa sandera harapan.
Hatinya seperti kendi tua
yang disimpan di rak petani,
mengandung air
tanpa ingin diminum.

“Aku mencintaimu,”
ujarnya pada sunyi,
“bukan untuk balas mencinta.”

Lelaki itu terus melangkah
di antara pohon-pohon yang bisu.
Di bawah sorot mata malam
ia menyanyi tanpa suara:

“Cinta adalah sungai yang mengalir pelan,
tak perlu kembali ke sumbernya,
ia cukup memeluk setiap batu
yang ditemuinya sepanjang perjalanan.”

Dan langit pun bersedih,
tapi tak satu bintang pun jatuh.
Sebab cinta yang tak meminta kembali
adalah bintang yang bertahan
meski dunia tak melihat.

2023, 2025

***

Balada Cinta
yang Kembali ke Arah Kiblat

Di sebuah musim yang hampir kehilangan arah,
aku berjalan dengan rindu yang patah.
Angin tak menyebut namamu lagi,
tapi jejakmu masih tertulis di bumi.

Dan hatiku, pelan-pelan,
menyebutmu dalam diam.

Aku telah singgah di banyak wajah,
mengetuk pintu yang asing dan basah.
Ada yang menyambut dengan senyum remang,
namun tak satu pun memberi terang.

Karena rinduku bukan untuk singgah,
rinduku untuk pulang.

Kemarau panjang telah kulalui,
dengan dada yang lapuk dan sunyi.
Namun embun pertama yang jatuh pagi itu,
mengajarkan aku mencintaimu.

Mencintaimu seperti bumi mencintai langit,
tanpa pernah berharap dipeluk kembali.

Engkau datang bukan dengan janji,
tapi dengan tenang yang menepi.
Seperti sajadah yang tak pernah memilih
siapa yang datang membawa perih.

Dan aku bersujud, bukan karena kalah,
tapi karena telah menemukan arah.

Kini aku kembali,
bukan oleh panggilan,
tapi karena jalan
yang kulewati
semuanya berakhir padamu.

Dan hatiku, pelan-pelan,
menyebutmu dalam diam.

2023, 2025

***

Rumah Terakhir yang Bernama Kerinduan

Aku tak sedang mencarimu,
tapi langkahku selalu menuju arahmu.
Seperti air yang tahu
di mana mata airnya bersembunyi
meski tidak ditunjukkan peta.

Aku sudah lelah menamai jarak
dengan kata pergi atau tinggal.
Sebab aku tahu,
dalam setiap diamku,
ada suara-suaramu yang mengendap
di balik huruf-huruf sepi.

Kekasih,
kau bukan rumah yang pertama.
Tapi kau satu-satunya
yang tak pernah kututup pintunya
meski ribuan musim datang
dan seribu sunyi ingin menetap.

Aku mencintaimu
tanpa perlu alasan,
seperti malam yang setia pada bintang
meski tahu bintang bisa jatuh.

Aku datang padamu
tanpa puisi, tanpa bunga,
hanya tubuh yang lelah
dan hati yang basah
oleh hujan yang kusebut kenangan.

Di sinilah aku berhenti,
di berandamu yang wangi
oleh maaf dan penerimaan.
Tak lagi bertanya
tentang siapa yang salah,
sebab rindu sudah lama
menyapu semua tanda baca.

Engkau adalah rumah terakhir
yang tak perlu kunci,
karena hatiku sendiri
telah menjadi pintunya.

2023, 2025

***

Cinta yang Melebur dalam Nama-Nya

Di halte tua,
aku menunggumu
dengan tasbih di genggaman
dan segelas teh yang mulai dingin.

Orang-orang lalu-lalang,
ada yang sibuk memeriksa notifikasi,
ada yang tertawa pada layar sunyi.
Tapi aku,
masih menyebut namamu
dalam hati yang tak berhenti bergetar.

Kau pernah datang,
di musim kemarau tahun lalu
mengenakan gamis abu-abu
dan senyum yang membuat burung di langit
berhenti berkicau.

Aku bertanya,
“Siapa kau sebenarnya?”
Kau menjawab,
“Namaku tak penting.
Yang penting,
aku tahu ke mana engkau pulang.”

Sejak itu,
aku menjahit sajadah dari daun-daun kering
yang jatuh di teras masjid,
dan menyalakan pelita dari benang bajumu
yang tertinggal di mimpi.

Seekor burung tanpa suara
hinggap di pundakku.
Ia menangis.
Katanya,
“Aku lelah mengingatkan manusia
tentang Tuhan yang mereka lupakan.”

Aku memeluknya,
dan sejak hari itu,
aku berjalan ke tebing
di mana langit bersujud
dan bumi mengucap amin.

Malam jatuh seperti surat cinta
yang tak pernah sampai.
Dan aku,
rebah di antara dzikir dan debu,
menunggu namamu larut
dalam air wudhu yang mengalir
ke tanah yang bertasbih.

Jika kelak aku dilahirkan kembali,
jangan beri aku wajah baru,
atau cinta yang baru.
Berilah aku
satu kehormatan saja
Nama-Mu.

Karena itu cukup
untuk mencintai dunia
tanpa harus memeluknya.

2023, 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top