Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 5)

Supaya lebih tandas membacanya, bacalah terlebih dulu:
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 1)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 2)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 3)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 4)

Cahaya yang Menyimpan Nama-Mu

Langit bukan sekadar biru,
ia adalah tabir
yang menyimpan isyarat.
Di balik sunyinya,
ada Cahaya-Mu
yang tak pernah redup,
meski zaman berganti
dan semesta terus menyusut.

Nama-Mu
yang kusebut dalam setiap nafas
bukan sekadar bunyi,
tapi panggilan
dari Cahaya
yang menyimpan segala asal.
Dari sana aku berasal,
dan kepada-Mu
segala rinduku pulang.

Aku berjalan
dalam tubuh fana,
menyusuri lorong waktu
dengan setangkup cahaya di dada
itulah Nama-Mu,
yang kusebut diam-diam
di antara detak
dan jeda.

Engkau tak pernah jauh.
Akulah yang tertutup
oleh kabut keinginanku sendiri.
Tapi ketika aku tenggelam
dalam diam
yang sebenar-benarnya diam,
Aku-Mu pun berdenyut
dalam segala yang ada padaku
seperti bayang
yang tak pernah terpisah
dari cahaya.

Kini aku tahu:
segala nama
selain Nama-Mu
hanyalah gema
yang kembali kepada hening.
Dan di dalam hening itulah
Kehadiran-Mu
tak pernah alpa.

2023, 2025

***

Dzikir di bawah Pohon
yang Luruh Daunnya

Aku duduk
di bawah pohon yang renta,
daun-daunnya jatuh perlahan
seperti airmata yang tak sempat diseka.
Angin tak bersuara,
hanya menggigilkan rinduku
pada sesuatu yang tak terlihat
tapi selalu terasa.

Kumasukkan tanganku ke dada
di sana
ada degup yang tak pernah bisa kupahami,
seperti surat cinta
yang ditulis dengan bahasa langit
di tubuh manusia.

Tuhan,
aku tak bisa menuliskan Nama-Mu
dengan tinta apapun
karena setiap kali kutulis,
huruf-hurufnya berubah
menjadi embun,
menjadi desir angin,
menjadi lirih doa
yang tak berani lantang.

Aku bukan sufi,
bukan penyair besar.
Aku hanya lelaki biasa
yang bersandar pada pohon
dan menangis diam-diam,
karena akhirnya tahu:
Engkaulah yang dicari
oleh semua kehilangan.

Daun terakhir jatuh.
Aku memejam
dan untuk sesaat
tak ada selain Engkau
di antara aku
dan dunia.

2023, 2025

***

Balada Hati yang Mencari Tuhan

Tuhan,
aku mencari-Mu
di setiap detik yang terbuang,
dalam setiap kata yang tak terucap,
dalam setiap lambaian angin
yang tak pernah berhenti merindu.

Aku mencari-Mu
di balik matahari yang tenggelam,
di balik bulan yang mengambang
di langit malam yang penuh rahasia.
Kudekap setiap bayang-Mu
dalam pelukan hati yang bimbang
dan bertanya pada langit,
“Di mana Engkau?”

Namun, Tuhan,
ketika aku berhenti mencari,
dan membiarkan hatiku terdiam
seperti embun di pagi hari
Engkau hadir,
lebih dekat dari apa yang kupahami,
lebih dekat dari nafasku yang tak terucap.

Engkau bukan hanya itu,
Engkau lebih dari apa yang dapat kulihat,
lebih dari apa yang bisa kuterjemahkan
dalam setiap kata yang terlontar.
Kehadiran-Mu
menyentuhku lebih dalam
dari setiap keresahan yang kuperjuangkan.

Cinta-Mu begitu halus,
tak terjangkau oleh kata-kata,
tak terlukiskan dengan tinta.
Ia ada,
dalam setiap hembusan nafas,
dalam setiap detik yang berlalu.

Dan aku tahu,
yang kucari,
yang kucintai,
yang aku rindukan,
adalah Engkau
yang tak pernah hilang
dalam ruang dan waktu
yang fana.

2023, 2025

***

Tangisan yang Kembali Menjadi Doa

Aku datang padamu, Kekasih,
dengan mata
yang tak lagi sanggup
menyimpan hujan.

Di pelataran malam
kutanggalkan seluruh nama
juga nafasku
yang memanggul beban
dari ribuan keinginan
yang gagal
jadi doa.

Engkau duduk
di ranjang cahaya,
membuka selimut sunyi,
dan memanggilku
dengan suara
yang hanya bisa didengar
oleh hati
yang hancur.

Tangisku jatuh
di pangkuan-Mu,
seperti bunga
yang lupa
asal musimnya.

Dan saat itu,
tak ada lagi jarak
antara bibirku
dan Asma-Mu.

Aku pun tahu
Engkau bukan hanya arah,
Engkau adalah
rinduku
yang pulang
tanpa harus
berjalan.

2023, 2025

***

Mihrab Sunyi dalam Dada

Aku datang pada-Mu,
dengan segala lelah yang tak terucapkan,
melangkah di antara debu-debu kota,
di jalan yang selalu sesak
oleh kaki-kaki yang
tak pernah berhenti mencari.

Di sini, di dalam dada ini,
mihrab-mihrab sunyi tumbuh
seperti pohon bambu yang tegak
di tengah gemuruh hujan yang tak berhenti.
Tak ada suara yang lebih keras
daripada bisu ini,
tak ada cahaya yang lebih terang
daripada bayang-bayangmu.

Aku sering mencari-Mu
di mulut kopi yang pahit,
di bibir perempuan
yang tak pernah berhenti berbicara,
di jalan yang penuh tanya
tentang arti segala langkah kita.
Namun hanya di sini,
di ruang yang sunyi ini,
aku temukan Engkau,
tanpa riuh,
tanpa pengumuman.

Aku seperti seorang pengembara
yang melintasi malam-malam panjang,
menemukan-Mu dalam doa yang tertinggal
di tepi jalan,
dalam suara yang hilang
di antara teriakan dunia.

Mihrab ini bukanlah ruang hampa,
tapi ruang yang penuh derita,
di mana setiap langkah adalah pertemuan,
setiap nafas adalah harapan
yang tak pernah padam.

Di mihrab ini, aku mengerti
bahwa Tuhan tidak hanya ada
di langit yang tinggi,
tapi juga di dalam tubuh yang letih ini,
di dalam setiap tarikan nafas
yang mencoba bertahan.

2023, 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top