
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 10)
// Aku lelah, / bukan karena beratnya dunia, / tapi karena cinta / yang tak sempat kutuliskan / di kening pagi. //

// Aku lelah, / bukan karena beratnya dunia, / tapi karena cinta / yang tak sempat kutuliskan / di kening pagi. //

// Sayang, / esok bukan hanya waktu, / ia adalah gaun baru / yang ingin kau kenakan / dengan hati yang wangi. //

// Pagi ini, aku duduk sendiri / dengan segelas teh tanpa gula, / seperti hatiku / yang kau tinggalkan / tanpa pelukan, / tanpa alasan. //

// Cermin itu bukan kaca, / melainkan halaman kitab / yang menampung jejak doa / yang tak sempat selesai / kubaca saat demam / memeluk tubuh seperti kekasih yang murka. //

// Aku menyebut nama-Mu / dengan bibir yang masih basah / oleh sisa keluh dan luka. //

Mengapa seseorang menulis puisi? Pertanyaan ini kerap muncul dalam benak saya, baik sebagai penyair maupun sebagai pejalan ruhani yang menjadikan puisi bukan sekadar cara berkata-kata, melainkan jalan pulang bagi jiwa yang rindu pada sumbernya. Menulis puisi bagi saya adalah cara mendengar gema batin, ketika dunia luar terlalu gaduh dan kata-kata harian terlalu bising untuk menyampaikan apa yang sejatinya ingin dikatakan hati.

// Ruang tunggu ini seperti dada perempuan / yang memeluk luka / tanpa pernah bertanya / kenapa ia selalu datang. //

// Tubuhku dulu adalah janji, / setiap sendi berbisik lembut / pada malam yang tak pernah lelah / menunggu datangnya pagi. //

// Pagi menyapa / lewat garis cahaya yang retak di dinding, / tirai menunduk pelan / seperti istri yang khusyuk / menggulung rindu ke dalam sajadahnya. //

// Lalu ia menyiapkan / air hangat dan senyum, / seolah dunia / masih bisa dimulai ulang / dengan secangkir kesetiaan. //