Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 7)

// Cermin itu bukan kaca, / melainkan halaman kitab / yang menampung jejak doa / yang tak sempat selesai / kubaca saat demam / memeluk tubuh seperti kekasih yang murka. //

Read More »

Menulis dari Rintik yang Luruh: Proses Kreatif Rintik Hujan di Atas Buku Harian

Mengapa seseorang menulis puisi? Pertanyaan ini kerap muncul dalam benak saya, baik sebagai penyair maupun sebagai pejalan ruhani yang menjadikan puisi bukan sekadar cara berkata-kata, melainkan jalan pulang bagi jiwa yang rindu pada sumbernya. Menulis puisi bagi saya adalah cara mendengar gema batin, ketika dunia luar terlalu gaduh dan kata-kata harian terlalu bising untuk menyampaikan apa yang sejatinya ingin dikatakan hati.

Read More »
Scroll to Top