Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 10)

Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 6)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 7)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 8)

Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 9)

Di Antara Hikmah

Aku berjalan
dengan langkah yang tak lagi muda,
membawa sebait doa
dan serpih tanya
yang terus mengembara
dalam diam.

Setiap hikmah
adalah bisikan cintamu
yang kutemukan diam-diam
di celah luka kecil
yang dulu kupandang
sebagai angin lalu.

Kata-kata
pernah kupuja
seperti mawar yang mekar
di jendela pagi,
namun kini kutahu,
mereka hanyalah gaun
bagi hati yang telanjang
di tengah sunyi.

Di antara hikmah
terbentang jeda
yang mencium keningku tanpa suara,
dan dalam senyap itulah
aku mengenal diriku
sebagaimana Kau dahulu
mengenalku dalam rahasia.

2025

***

Rumah yang Tak Lagi Asing

Tadinya, dinding-dinding ini
adalah kamus bisu
yang tak kukenal bunyinya.

Tiap detik seperti lantai
yang menolak pijak,
tiap jendela
memantulkan wajahku
dengan samar,
seolah aku tamu
dari masa yang hilang.

Tapi luka punya cara
menyulap jarak menjadi pengertian,
dan sepi,
telah mengajari aku
menyapa angin
dengan dada terbuka.

Kini aku tahu,
suara detak jam
tak hanya mengingatkan waktu,
tapi mengabarkan
bahwa pulang
bukan soal alamat,
melainkan jiwa
yang akhirnya tenang
di tubuh sendiri.

2025

***

Aku Memaafkan Diriku

Di ruang yang sunyi ini,
terdengar bisikan lembut dari kulit yang terluka,
bukan oleh jarum atau pisau,
tapi oleh kata-kata yang tak terucap.
Aku, yang dulu takut mencintai diri sendiri,
sekarang menyentuh luka itu,
seperti tangan yang meraba kehangatan tubuh
yang sudah lama dilupakan.

Kau tahu, cinta tak hanya datang dalam kata,
tapi juga dalam keheningan yang terasa.
Aku memaafkan diriku,
bukan karena aku menginginkan pengampunan,
tapi karena aku belajar,
bahwa cinta sejati dimulai dari diri sendiri.

Di antara kerinduan dan kesalahan,
aku menemukan diriku terbaring,
seperti tanah yang merindukan hujan,
membiarkan setiap tetesnya
menyuburkan hati yang kering.
Sebab cinta adalah perjalanan yang tak kenal akhir,
dan pengampunan adalah pelukan
yang menghangatkan jiwa yang beku.

Dalam diam ini, aku memaafkan
segala luka yang pernah mengikatku,
seperti bibir yang dulu menahan kata
sekarang membuka untuk merasakan sentuhan
cinta yang tumbuh dari dalam diri.

Dan kini, aku berdiri,
tak lagi sebagai bayangan,
tapi sebagai diri yang sebenar-benarnya,
dengan hati yang tidak lagi terbeban,
karena aku memaafkan diriku,
seperti lautan yang tak lagi menyesali gelombangnya.

2025

***

Sebelum Lelah Menjadi Doa

Tubuhku bukan lagi batu
yang menahan gelombang,
ia kini kelopak kering bunga kenanga
yang rebah sunyi
ke pelukan bumi.

Aku lelah,
bukan karena beratnya dunia,
tapi karena cinta
yang tak sempat kutuliskan
di kening pagi.

Di sela nafas yang makin pendek,
aku mengingat tanganmu,
yang dulu tak jadi kucium
saat kau menyuapiku diam-diam
dengan kasih.

Lelah ini bukan kehancuran,
ia adalah bisikan
bahwa bahkan rasa letih
pun ingin dicintai.

Maka sebelum lelah
menjelma doa terakhir,
izinkan aku menatap langit,
menyebut satu nama,
dan membiarkan air mataku
membasuh dosa
yang selama ini kusembunyikan
di balik senyum.

2025

***

Bismillah, Untuk Hari-hari Baru

Di pagi yang baru
aku tidak sekadar membuka mata,
aku membuka diriku
seperti halaman mushaf
yang ditulisi cahaya.

Segala yang dulu gelap
kini tinggal bayangan
di kaki terang yang perlahan tumbuh
dari dalam dada.

Aku telah belajar:
bahwa waktu bukan musuh,
melainkan ayat-ayat
yang ditulis Tuhan
di pergelangan tubuh kita.

Maka kutapaki hari ini
dengan langkah yang dimaafkan tanah,
dengan doa yang tumbuh dari diam,
dan dengan senyum
yang tak lagi meminjam wajah orang lain.

Bismillah,
untuk luka yang tak lagi pedih,
untuk cinta yang tak lagi memaksa,
untuk sunyi
yang kini menjadi teman
bagi setiap zikir yang gugup.

Di antara embun dan nafas,
aku menulis:
aku hidup
karena aku masih menyebut
Nama-Nya.

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top