Pelukan dalam Suara dan Puisi Lainnya

Malam

Meja sederhana jadi saksi kisah yang kita bagi
Alir tawa menemani jejak berkeliling kota sunyi
Langit malam menunduk, menaburkan cahaya temaram
Ada minuman di antara kita, mengalirkan hangat yang tak terucap
Malam ini hidup, sebab ada kita yang saling mengisi

***

Jejak di sampingmu

Di setiap langkahku,
ada bayanganmu yang setia menyusul,
merangkai jarak menjadi kedekatan,
mengubah perjalanan menjadi cerita.

Kau bukan hanya ayah,
kau adalah teduh di antara riuh,
bahu yang menguatkan tanpa banyak suara,
mata yang selalu mencari langkah kecilku.

Aku tumbuh dalam iringanmu,
ditemani genggam hangat yang tak pernah lepas,
hingga kutahu, dunia ini tak pernah terlalu asing,
selama kau ada di sisiku teman setia,
penuntun jiwa, ayahku.

***

Kehangatan yang Tak Pernah Pergi dari Pulang

Kita dulu sering bersuara,
tapi jarang benar-benar bicara.
Ada rasa yang tinggal,
namun lama tersembunyi di balik luka.

Kini waktu memulihkan kita;
retak menjadi bisu, bisu menjadi pelukan.

Kini kita berpijak di kota yang berbeda,
walau berasal dari atap yang sama.
Jarang duduk satu meja,
namun hangatnya selalu kembali saat pulang.

Sebab kebersamaan bukan soal hari yang sama,
melainkan hati yang tetap saling menemukan
meski terpisah kesibukan dan jarak.

***

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top