
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 10)
// Aku lelah, / bukan karena beratnya dunia, / tapi karena cinta / yang tak sempat kutuliskan / di kening pagi. //

// Aku lelah, / bukan karena beratnya dunia, / tapi karena cinta / yang tak sempat kutuliskan / di kening pagi. //

// Dia mendengarkan / gemuruh di dada / meredakannya penuh sayang; / mengobati yang meradang; / memberkahiku tenang //

// Sayang, / esok bukan hanya waktu, / ia adalah gaun baru / yang ingin kau kenakan / dengan hati yang wangi. //

// Tawamu itu sumbang, kawan. / Seperti lonceng retak yang dipukul pakai palu. / Semakin keras bunyinya, / semakin orang tahu ada yang pecah di dalam dadamu. //

// Pagi ini, aku duduk sendiri / dengan segelas teh tanpa gula, / seperti hatiku / yang kau tinggalkan / tanpa pelukan, / tanpa alasan. //

// Sebuah bunga / kurawat dengan catatan takdir / sebab kehidupannya kusiram / dari air mata. //

// Cermin itu bukan kaca, / melainkan halaman kitab / yang menampung jejak doa / yang tak sempat selesai / kubaca saat demam / memeluk tubuh seperti kekasih yang murka. //

// ketika kau pergi, langit makin kering. / angin tak datang, yang biasa / lewati pucuk pohon randu / di simpang jalan, menuju rumahku. //

// Aku menyebut nama-Mu / dengan bibir yang masih basah / oleh sisa keluh dan luka. //

// Sepotong doa / yang belum sempat di-aminkan / meringkuk / kikuk / dalam ceruk //