
Le Petit Volontaire dan Puisi Lainnya
// Tangan-tangan itu terus mengurai, / bagaikan jengkal demi jengkal tanah kota / yang mengulurkan batas-batasnya sendiri, / kala mata pena sketsa pembangunan / semakin memperjauh garis demarkasi. //

// Tangan-tangan itu terus mengurai, / bagaikan jengkal demi jengkal tanah kota / yang mengulurkan batas-batasnya sendiri, / kala mata pena sketsa pembangunan / semakin memperjauh garis demarkasi. //

/ celengan ayam ini akan disembelih. / tiap orang menatap penasaran / siapa tau banyak nasib baik yang bertumpah ruah darinya /

Oritarianisme Adegan-adegan peristiwa amat kentaraTentang sejarah buram sang tuanKalimat-kalimat heroikSekedar kamuflase semata Gugatan pikiran dari dinamikaStruktur hidup dengan intrikMemenangkan kepentingan egoPrinsip moderasi sebagai matiraga Gelagak emosi dari luapan amukDeterminasi dunia materialMenjadi pembuaian menunggu mangsaOritarianisme menjadi bias nihilism Karena kita jungkir balikDari pendulum ekstrim kewajiban sajaMenuju hak hanya belakaBagaimana humanisasi diproseshayati? Kota Cendana, Juni 2026 *** Membunuh Jutaan Elegi Di kota ini air mata dijual dalam botol kacaDengan label asli berasal dari tragedi terverifikasiKita bunuh jutaan elegi tanpa pedangTanpa peluru hanya menggulir layar Menekan tombol suka duka menjadi dekorasiPuisi menjadi arsip

// sedia waktu sebentar / di sela hiruk pikuk hari / sempatkan belah dua jam / sematkan dua gelas kopi / sehidangan dengan Tuhan //

// Ke mana lagi harus kutimbun duka ini / bila bukan pada keheningan panjang / yang siap menelan tanpa bertanya. //

// Berebut secuil harta tak mau kehilangan sejengkal batasnya / Tapi tak satupun sudi memiliki bangkainya //

// Aku menulis / Tentang beberapa lembar yang tidak bisa dirobek walau perlahan / Gema nada dini hari yang terus-terus berulang / Mengalihkannya dari harum yang memaksa masuk //

// kini engkau boyongan, kembali ke Banjarsari. / sambil menyaksikan tumbuh kembang industri, / album foto infrastruktur, dan riwayatmu di televisi. //

// Bagaimana mungkin aku bersanding, / Dengan nama yang kautaruh setinggi langit paling bening. / Sedang aku hanya catatan pinggir, / Yang tintanya pudar sebelum sempat ditafsir. //

// Tapi kau laksana bunga teratai yang tampak bebas di permukaan / Tak disangka akarmu terjerambab ke dalam dasar air //