
Tempo Hari dan Puisi Lainnya
// Sekelumit pertanyaan masih tumbuh subur di kepala / Kata begitu samar ketika damar gelisah berhenti menyala / Setelah diam tertunduk patuh menerjemahkan pulang / Raga lapuk segala pilu datang merampok //

// Sekelumit pertanyaan masih tumbuh subur di kepala / Kata begitu samar ketika damar gelisah berhenti menyala / Setelah diam tertunduk patuh menerjemahkan pulang / Raga lapuk segala pilu datang merampok //

/ Kehidupan adalah lereng gunung dan ombak yang bergemulung / Adalah musim semi dan kemarau yang silih berganti / Mungkin juga dingin salju, yang menusuk ke hulu /

// tante nung apa kabarnya, ya? / waktu aku ingin nge-list landmark-landmark di dekat rumah, / rumah tante nung, kosong diratakan. / ada tulisan: akan dibangun dapur MBG. mohon doanya. //

// Tjilacap taun ’47 mengambil masa kelam, / Moekadji menunjuk bangunan-bangunan besar, / Sontak semua meledak dan hangus terbakar. / Pelabuhan yang sekutu incar, /

// di meja hujan mencatat administrasi, tubuhku terstempel bau knalpot dan tiket bioskop, bayanganmu menari, di ruang tunggu / “kekasihku, punggungku adalah kursi duduk berbahan matahari yang melemahkan tangisan para dewa atau pembunuh raksasa” //

// Sendi-sendi mulai terkikis usia. / Angan-angan tergerus realita. / Kini tidur harus lebih cepat, / subuh-subuh rezeki minta digenggam. /

/ bahwa tidak semua yang datang / berutang pada pulang //

// Kau menyapu lantai / dengan gerak yang nyaris seperti ibadah, / dan aku menatap punggungmu / seperti membaca surah / yang tak ingin kuselesaikan. //

// Di mataku sudah kulihat fajar itu / Kabut pagi yang memeluk erat, bukan menusuk / Kubaca masa depan yang tertulis di lipatan kertas kusut / Bukan takdir, tapi peta yang kugores sendiri //

// Dan setiap kali aku sembuh, / bukan dari obat, / melainkan dari keyakinan / bahwa cintamu / tak pernah meminta upah / kecuali hidupku / yang kembali pelan-pelan / menyebut namamu / dalam sujud yang sunyi. //