
Epigram Kopi dan Puisi Lainnya
// Tidak boleh ada rasa sedih / dalam hangat cangkir kopimu. // Tidak pula rasa rindu yang / harus kaukenang melulu. //

// Tidak boleh ada rasa sedih / dalam hangat cangkir kopimu. // Tidak pula rasa rindu yang / harus kaukenang melulu. //

// Merayakan akhir kematian hati / Adalah sebuah ritus yang tak pernah usai / Dengan secawan onak / membunuh kekhawatiran di tepi otak //

// Di dekat pot-pot bunga / Anak-anak bermain balon / Meletus, melahirkan tangisan / Seperti rahim mengenang waktunya //

// Aku mengenalmu / seperti orang mengenal gerimis pertama; / sekejap, lalu hilang / sebelum sempat bertuan. //

// Tangan-tangan itu terus mengurai, / bagaikan jengkal demi jengkal tanah kota / yang mengulurkan batas-batasnya sendiri, / kala mata pena sketsa pembangunan / semakin memperjauh garis demarkasi. //

/ celengan ayam ini akan disembelih. / tiap orang menatap penasaran / siapa tau banyak nasib baik yang bertumpah ruah darinya /

Oritarianisme Adegan-adegan peristiwa amat kentaraTentang sejarah buram sang tuanKalimat-kalimat heroikSekedar kamuflase semata Gugatan pikiran dari dinamikaStruktur hidup dengan intrikMemenangkan kepentingan egoPrinsip moderasi sebagai matiraga Gelagak emosi dari luapan amukDeterminasi dunia materialMenjadi pembuaian menunggu mangsaOritarianisme menjadi bias nihilism Karena kita jungkir balikDari pendulum ekstrim kewajiban sajaMenuju hak hanya belakaBagaimana humanisasi diproseshayati? Kota Cendana, Juni 2026 *** Membunuh Jutaan Elegi Di kota ini air mata dijual dalam botol kacaDengan label asli berasal dari tragedi terverifikasiKita bunuh jutaan elegi tanpa pedangTanpa peluru hanya menggulir layar Menekan tombol suka duka menjadi dekorasiPuisi menjadi arsip

// sedia waktu sebentar / di sela hiruk pikuk hari / sempatkan belah dua jam / sematkan dua gelas kopi / sehidangan dengan Tuhan //

// Ke mana lagi harus kutimbun duka ini / bila bukan pada keheningan panjang / yang siap menelan tanpa bertanya. //

// Berebut secuil harta tak mau kehilangan sejengkal batasnya / Tapi tak satupun sudi memiliki bangkainya //