Rekonstruksi Peta dari Jahitan Luka dan Puisi Lainnya

Pahlawan di Pelupuk Mata

Di kamar sunyi, bantal basah menggantikan peluk
Senyap yang nyata lebih keras dari teriak
Kau simpan foto-foto lama dalam kenangan yang remuk
Wajah ayah-ibu hilang, tinggalkan dunia rapuh.
Terkadang kau terpaku, terjebak di layar redup
Setiap tawa keluarga bagai belati yang mengiris,
Bayang anak kecil menangis dalam dekapan hangat,
Sedang kau mengunci bibir, menelan gumpalan pilu pekat.

“Langit mendengar doa ibu,” begitu kata dunia
Tapi doamu kini sepi, terdampar tanpa rima
Tak ada lagi tangan yang usap keringat di dahi
Tak ada lagi suara yang haluskan gundah di hati
Kau rindu superhero yang kukuh di pelupuk mata
Yang bisa perbaiki langitmu ketika runtuh
Kini kau sendiri kendalikan kemudi dan layar,
Dalam perahu kecil yang terus dihajar gelombang

Namun dalam matamu, ada bara yang tak sudi mati
Langkahmu meski goyah, tapi terus menapaki.
Kau bagaikan berjalan di jalan berbatu tanpa alas kaki,
pedih tapi membuatmu semakin tangguh.
Kau tahu di langit sana, ada dua bintang yang setia
Menyinari gelap jalanmu dengan cinta yang abadi
Hei kawan, lihatlah!
di tanganmu sendiri terukir pahlawan

2025

***

Rekonstruksi Peta dari Jahitan Luka

Di bilik ini, aku membatu
Tubuhku layaknya rangkaian baterai yang kehabisan volt
Kadang gemuruh kata-kata kasar menyambar dari celah tembok
Kadang hanya ada sepi yang menggigit.
Aku hanyalah anak tangga yang terpelanting
Antara lantai berlumur foto keluarga yang terkoyak
dan langit-langit yang menjerit pilu tiap turun hujan

Waktu terkoyak oleh jarum jam yang rakus
Kudepak masa kanak yang belum selesai
Di depan cermin, kukenakan baju dewasa
Jahitannya kasar, menggesek kulit yang rapuh
Tapi di saku ini, kusimpan benang-benang
untuk menjahit luka tanpa menoreh racun.

Malam-malamku adalah kapal kertas
Berlayar di genangan air mata yang kubendung
Tak kubiarkan angin malam membawaku hanyut
Ke pelabuhan palsu: pelarian penuh candu berakhir sesal.
Pelan-pelan kususun batu bata dari kata yang tak terucap
Kelak, di puing rumah yang kurekonstruksi
Akan ada meja panjang tempat cerita berlabuh
Gelak tawa menggema memenuhi setiap sudut ruang
Dan anak-anakku nanti, takkan hafal bahasa retak

Di mataku sudah kulihat fajar itu
Kabut pagi yang memeluk erat, bukan menusuk
Kubaca masa depan yang tertulis di lipatan kertas kusut
Bukan takdir, tapi peta yang kugores sendiri

2025

***

Kamus Sederhana Bahagia

Di sela debu kehidupan, kutatap embun pagi
Butiran kecil air yang mengingatkan
Bahwa keajaiban tak selalu perlu jadi samudra,
Terkadang ia bunga liar di sela retakan
Yang menolak layu meski tak pernah disiram
Terkadang ia adalah senyapnya jam dinding
Yang menghitung detik-detik tanpa mengeluh

Aku belajar memungut kepingan bahagia
Dari hal-hal yang kau sebut remeh
Helaan napas yang bertemu pagi,
Lalu menjadi lukisan embun pagi
Di atas kanvas robek hariku yang sempit
Atau sekedar langit kelabu yang ternyata
Masih mau membagikan rinai hujan.

Di sela-sela bayang kelam yang kau sebut ‘luka’
Kudapati cahaya temaram dari lentera usang
Bukan terang yang menyilaukan,
Tapi cukup untuk menuntun napas yang tersangkut di tangga waktu
Hidup bagaikan lagu dengan nada sumbang
Meski banyak fals di antara notasi yang terpatah
Tapi di antara jeda-jeda yang patah,
Selalu ada melodi tak terduga
Yang membuatmu tersenyum dan tertawa meski matamu masih basah

Maka izinkan aku
Tetap menyambut lara dengan pelita menyala
Meski kadang ia datang dengan panas yang membakar
Karena di perapian yang paling redup sekalipun,
Bara tetap memilih
Berkedip mesra di antara abu-abu yang mencoba memadamkannya.

2025

***

Elegi Sang Hampa

Di balik senyum, luka bisu merajut senja
Di keriuhan, sepiku bersuara lebih lantang
Pasang-surut masa, rasa hampa mengikis dermaga jiwa
Hingga asa untuk bersuara menguap, hangus dalam napas fana.
Kata-kata luruh di telapak-telapak tangan yang bisu
Mengumpulkan debu makna yang tak terucap
Ku berbisik pada jurang, ‘Adakah telinga tanpa penghakiman?’
Namun hanya terdengar sahutan angin.

Samudra mati rasa, di sini laut pun menolak gelombang
Napasku tersedot dalam pusaran lara,
yang menghempaskanku hingga ke dasar laut sunyi,
Di antara nisan-nisan asa, rasa, dan karsa.
Tapi di sela-sela karang retak, alga kepasrahan merayap,
Menyuburkan terumbu karang yang enggan mati
Nanti, kabut-kabut nestapa akan pecah oleh fajar
Menyisakan serpihan cahaya di ujung kelam

Jiwa-jiwa yang terpendam, tersenyum dalam diam
Menjadi bahasa bagi lara yang tak lagi punya suara
Sebab, terkadang sunyi menjadi bahasa yang paling lantang
Dan kehampaan bagai lautan tempat kita belajar menyelam

2025

***

Hujan yang Ditanam Di Bawah Langit Gersang

Aku hanyalah arsip usang
Yang teronggok di rak perpustakaan sunyi
Setiap helai halaman mengilustrasikan
jejak-jejak langkah yang terpeleset di peta pencapaian
Aku juga bagaikan petani yang menanam angan di musim kemarau
Benih-benih doa kusiram dengan keringat
yang membeku menjadi intan retak di kelopak mata

Pupuk ikhtiarku adalah debu-debu waktu
yang kutabur di celah bumi yang angkuh
Tapi ladang ini tetap gersang
dan angin berbisik mesra,
“Mungkin kau salah memilih benih, atau mungkin ini bukan musimmu.”

Mereka bilang,Hasil tak akan mengkhianati usaha.
Tapi apa artinya ketika kau sudah menggali sumur
Hingga tembus ke perut bumi,
tapi yang keluar hanya debu dan bebatuan, bukannya air?
Apakah itu berarti sekopmu kurang tajam,
atau tanah ini terlalu angkuh untuk mengaku kehausan?
Di gudang pikiran, suara-suara itu bergema
“Kau kurang tekun! Kurang sabar!”

Tapi lihatlah!
Tanganku sudah kapalan menggendong batu nisan impian,
Kakiku sudah penuh lecet dan memar dari jalan terjal berbatu
Pikiranku sudah layu seperti benih di gurun yang tak kunjung hujan
Jika hasil tak mengkhianati usaha,
Mengapa aku merasa dikhianati oleh waktu?
Mengapa hasil selalu punya tafsirnya sendiri?
Sementara kamusku hanya berisi keringat yang menguap

Tapi malam ini, kurenggut sehelai kuncup
dari pohon harapan yang nyaris tumbang
Kubungkus dalam kertas ujian hidup
yang selalu kudapati nilai coba lagi atau belum beruntung
Besok, mungkin ia akan mekar
jadi bunga yang tak bernama
atau setidaknya, menjadi saksi bisu
bahwa aku pernah menabur hujan
di negeri yang hanya paham bahasa kemarau

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top