Strip Kenangan dan Puisi Lainnya

Jalan Panjang untuk Sebuah Bangga

Kulepaskan pelukmu di gerbang keberangkatan,
Membawa tas punggung berisi ribuan harapan.
Bukan untuk mencari emas atau permata,
Tapi demi gelar sarjana yang kita cita.

Ibu, Ayah, jangan cemas aku kelaparan,
Doa kalian adalah sebaik-baiknya makanan.
Di kota orang aku berteman dengan buku,
Menjadikan ilmu sebagai pengganti rindu.

Mungkin nanti lelah akan datang menyapa,
Saat tugas menumpuk dan raga tak berdaya.
Tapi bayang wajah kalian yang bangga nanti,
Adalah obat kuat yang tak terganti.

Purbalingga, Desember 2025

***

Langkah Pertama

Aku pernah tinggal
di ruang yang tak pernah berubah,
tempat aman yang diam-diam
mengurungku dalam kebiasaan.

Suatu hari,
aku membuka pintu itu
tak dengan berani,
hanya dengan tekad kecil
yang akhirnya tumbuh menjadi cahaya.

Kini aku berjalan,
tak lagi takut pada asingnya jalan.
Ternyata, dunia luas,
dan aku sanggup
menjadi lebih dari yang dulu kupikirkan

Purbalingga, Desember 2025

***

Akan Baik-baik Saja

Di kota yang asing ini,
aku belajar menata hari
tanpa suara ibu membangunkan
atau langkah ayah di ruang depan.

Ada sepi yang datang diam-diam,
memeluk erat – tapi perlahan aku tahu,
sepi bukan musuh,
hanya tanda bahwa aku sedang tumbuh.

Meski jauh dari rumah,
aku membawa doa mereka
di setiap langkah yang kutaruh hati-hati.
Doa itu menjadi lampu kecil
yang tak pernah padam,
bahkan saat hari terasa berat.

Dan di antara segala rindu yang kutahan,
aku percaya satu hal,
semua ini akan baik-baik saja.
Tidak karena aku selalu kuat,
tapi karena cinta mereka
menyertai bahkan ketika aku tak melihatnya.

Aku akan pulang suatu hari nanti
lebih dewasa, lebih berani,
dan dengan senyum yang berkata:
“Aku berhasil di sini,
berkat kalian yang mengajariku percaya.”

Purbalingga, Desember 2025

***

Suatu Malam di Jakarta

Di bawah lampu kota yang tak pernah padam,
kita berjalan tanpa arah, hanya mengikuti riuh tawa.

Tak ada yang benar-benar mengerti selain kita,
bagaimana satu candaan bisa memecah sunyi jalanan,
bagaimana langkah ringan kita terasa seperti pulang.

Jakarta ramai,

tapi malam itu tenang karena tawa kita,
hanya kita yang tahu artinya.

Purbalingga, Desember 2025

***

Strip Kenangan

Dalam empat kotak kecil yang rapuh,
kita tertawa tanpa sempat menata rindu.
Lampu kamera berkedip sekali,
namun detiknya menyimpan banyak sekali.

Pada selembar kertas tipis itu,
ada cerita yang tak bisa diulang waktu,
tentang seseorang yang pernah membuat dunia terasa ringan.

Biarkan strip kecil itu memudar nanti,
asalkan kenangan kita tetap berani berdiri.
Sebab yang tersisa bukan hanya foto,
tapi detik-detik bahagia yang memilih untuk tetap hidup di situ.

Purbalingga, Desember 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top