Gadai Suara dan Puisi Lainnya

Menanti Karma

Konon,
Hidup layaknya sedang berladang
Baik buruk perbuatan serupa tanaman
Bibit baik menumbuhkan kebajikan
Benih buruk menghadirkan kemungkaran
Katanya,
Siapa menanam, ia yang menuai

Masihkah hukum itu bekerja?
Ataukah,
Ia telah mati
Seiring umur bumi yang kian menua?
Atau mungkin,
Bumi saya menganut sistem yang berbeda?
Atau jangan-jangan,
Pejabat di sini mempunyai mantra
Jampi-jampi dari dukun terkemuka
Atau semacam jimat kebal karma?

Padahal,
Musim sudah sering tiba
Waktu yang cocok untuk pertunjukan panen raya
Anehnya,
Di bumi saya, bibit baik tak pernah hidup lama
Ia mati dimakan hama

Kalau tidak salah,
Kekuasaan namanya.

***

Gadai Suara

“Kami memilihnya, maka kami benar,” katanya.
Biar pun masak harus mengantre
Ayah tak punya pekerjaan lagi
Asal di sekolah
Adik bisa makan bergizi

“Kami memilihnya, maka kami setia,” katanya.
Biar dihujat seisi negara
Disumpah serapah bermacam rupa
Asal pesta masih membara
Bersama mengangkat gelas
Bersulang untuk janji yang mereka tahu
Tak akan pernah lunas

“Kami memilihnya, maka kami tutup mata,” katanya.
Sebagian tak lagi memiliki netra,
Sebab telah digadai singgasana
Sebagian lain hilang beserta wajahnya,
Sebab terlanjur malu melihat fakta

***

Restu Bapak

Sembilan belas juta
Jiwa manusia semata data belaka
Nyawa menjelma deret angka

Riuh janji berpesta
Berdengung membujuk telinga
Hingga tuli akrab bagi si jelata
Jadilah ia duduk di sana

Separuh lebih penentu
Terkurung bersama janji merdu
Saling memuja Sang ratu
Menanti dikabulkan oleh waktu

Benarkah begitu?
Pastikah Bapak memberi restu?

Oh, malang
Puja puji yang terbuang
Tunggulah sampai usang
Semoga asa tak ikut melayang

***

Lagi-Lagi Mati

Mati lagi.
Satu nyawa dibiarkan merana
Amblas tergilas roda kuasa
Darah terhambur di tanah negara
Tempat batang kekerasan tumbuh subur di dalamnya

Mati lagi.
Harga empati kian melambung tinggi
Deras tunjangan tak kuasa membeli
Berlagak paling suci
Rakyat diingkari
Kursi jadi saksi rakusnya ambisi

Mati lagi.
Janji-janji terdengar merdu
Suaranya kian pudar digerogoti waktu
Anak-anak makan siang sambil menunggu
Lauk keserahakan yang tak pernah layu

Inalillahi.
Mati lagi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top