
Senandung Sunyi di Peron Waktu
Hidup bagai gerbong yang terus melaju
Di atas rel yang sama, menuju hari yang kelabu
Setiap pagi adalah peron yang serupa
Dengan jadwal yang sudah rutin dibaca
Rutinitas tak henti menggerus batas-batas sunyi
Senyum palsu melelahkan rahang
Langkah kakiku menapaki orbit yang sudah baku
Sementara hangat kopi ini tak sanggup lagi membangkitkan jiwa yang mati rasa
Dan di stasiun hati yang kian sepi
Aku hanyalah penumpang yang terluka
Menyandarkan kepala di kaca jendela
Menyaksikan dunia berlari, sementara aku tertahan
Rindu itu datang seperti stasiun kecil yang terlewat
Hanya tampak sebentar, lalu hilang ditelan kabut
Rindu pada sesuatu yang belum pernah ada
Atau mungkin telah lama tertinggal di peron masa lalu
Aku ingin membendung laju gerbong waktu
Hanya sebentar, untuk menarik napas yang terenggut
Tapi peluit panjang telah berbunyi
Memaksa untuk terus bergerak, meski tak tahu arah
Kini kuputuskan untuk turun di peron yang asing
Meski sementara, menemukan bunga yang tumbuh di tepian rel
Merasakan udara yang berbeda, meski hanya sebentar
Sebelum kereta ini kembali berderu, melanjutkan senandung yang sunyi.
***
Matahari Terbenam
Matahari terbenam, jingga merona sempurna di cakrawala
Akhir hari pun tiba, diiringi desau angin yang berlagu
Teduh menyelimuti bumi dalam dekapan senja
Akan selalu kukenang dalam sukma, pelukan terakhirmu itu
Hanyut dalam hening, kutatapmu penuh rasa kagum
Alam bersenandung riuh, melantunkan salam perpisahan
Rindu pada terangmu mulai menggelayut, meski esok kau janji kembali
Ingin rasanya waktu kutahan sejenak, agar detik ini tak berlalu
Terangmu perlahan memudar, akhirnya menghilang
Erat-erat kugenggam bayang wajahmu dalam ingatan
Rasa kehilangan yang mendalam menusuk kalbu
Bayangan indah tentang kita terus berputar dalam benak
Entah ada yang mampu menggantikanmu atau tidak
Namun, roda kehidupan harus terus berjalan
Aku mulai belajar untuk melepaskan kepergianmu
Meski hatiku masih sangat enggan melupakan.
***
Terbang Tanpa Kaki
Ragu menuntun ke ujung lorong
Kakiku tak lagi menunggu
Kaki telanjang mengayun diatas jerami
Rasa gatal dari tajam sang serabut begitu jelas
Tanpa pijakan aku mencoba berlari
Meski tertatih aku tetap mencari
Di antara jatuh dan bangkit aku belajar
Terbang tanpa kaki adalah perlawanan
Aku menatap langit dengan sayap patah
Tapi bayangan mimpi tetap membuatku menapak
Walau rapuh, tak juga menyerah
Di sela retak sayap, aku temukan arah
Kadang ragu pun bisa jadi sayap
Terbang dengan ribuan keraguan
Namun langit tetap terbuka lebar
Meski langkah ini tak begitu sempurna
Setiap kepak sayap imajinasi
Ditemani bisik ribuan keraguan
Terbang bukan tentang sempurna
Tapi tentang berani walau penuh luka
***

Aliya Zafira Rokhanan lahir di Jakarta tahun 2004. Saat ini Ia sedang menempuh pendidikan di Prodi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman. Bisa berkenalan lewat Instagramnya @aliyazafiiraa




