Rubā‘iyāt untuk Kyai Jazir dan Puisi Lainnya

Insan Adabi dan Amanah Semesta

I. Mitsaq dan Asal Keberadaan

Sebelum nama, sebelum tanah dan cahaya,
Kita telah bersaksi di hadirat Yang Esa;
“Bukankah Aku Tuhanmu?”, demikian firman-Nya,
Dan ruh menjawab tunduk: Bala, dengan penuh kesadaran jiwa yang berbicara.

Bukan hukum sosial yang mula mengikat jiwa,
Melainkan janji Ilahi yang melahirkan kesadaran hamba;
Maka manusia bukan makhluk bebas tanpa arah,
Ia terikat amanah, sejak wujudnya teranugerahkan.

II. Tiupan Ruh dan Hutang Ontologis

Dari tiupan Ruh-Nya manusia dimuliakan,
Fitrah ditanam sebagai kompas keinsafan;
Wujud kita bukan milik yang kita kuasakan,
Melainkan hutang ontologis pada Sang Pemberi Kehidupan.

Maka adab mendahului ilmu dan kuasa,
Sebab tanpa adab, ilmu menjelma bencana;
Insan adabi mengenal batas dan tata,
Menempatkan diri sesuai martabat yang dititipkan-Nya.

III. Dari Ghaybah ke Syahādah

Kita diturunkan dari ‘Ālam Ghaybah ke Syahādah,
Bukan sebagai penguasa, melainkan khalifah beradab;
Dunia bukan tujuan, hanya ladang mencari makna,
Tempat amal disemai sebelum pulang ke asalnya.

Syahādah hanyalah tirai yang sementara,
Di baliknya Baqā’ menunggu jiwa yang setia;
Celakalah insan yang mengira dunia segalanya,
Lupa bahwa ia musafir dalam rentang fana.

IV. Ibadah, Khidmah, dan Semesta

Meniti dunia dengan firman liya‘budūn sebagai cahaya,
Ibadah bukan sekadar ritus, tetapi kesetiaan semesta;
Khidmah menjadi bahasa cinta pada sesama dan alam raya,
Sebab bumi pun ayat Tuhan yang harus dijaga maknanya.

Merusak alam adalah pengkhianatan amanah,
Melukai bumi berarti mengingkari adab khalifah;
Insan adabi merawat tanah, air, dan udara,
Sebagaimana ia merawat ruh dan akalnya.

V. Pulang kepada Baqā’

Pada akhirnya, kita kembali ke rahim keabadian,
Bukan membawa harta, tetapi bekal adab dan pengabdian;
Yang kekal bukan apa yang kita kuasai,
Melainkan sejauh mana kita setia pada perjanjian Ilahi.

Berbahagialah jiwa yang pulang dengan tertib makna,
Telah menempatkan dunia pada tempatnya;
Sebab hidup yang benar bukan sekadar ada,
Tetapi mengenal asal, tujuan, dan adab dalam segala.

Piyungan, 17 Desember 2025

***

Rubā‘iyāt untuk Kyai Jazir

I
Umat terhuyung di senja zaman akhir,
Langkah iman rawan tergelincir,
Mungkir berserak, zalim menjulur tak berpikir,
Kebenaran diuji, kesabaran pun ditakdir.

II
Masjid engkau tegakkan sebagai menara tamaddun,
Suluh nur yang menyinari tiap qurūn,
Engkau sisiri lorong faqīr dan tertindun,
Berpihak pada mustaḍ‘afīn tanpa tawar-menawar pun.

III
Engkau putus mata rantai kejahilan,
Engkau sambung simpul tauhid dan kesadaran,
Dakwahmu kokoh menanding zending kekafiran,
Arahkan umat menuju ‘Illiyyīn—puncak kemuliaan.

IV
Islam engkau pancarkan dengan adab dan keyakinan,
Bergerak dalam iman, bernafas ihsan,
Bersosial tanpa pamrih, berjuang dalam kesucian,
Jihadmu teguh—mengguncang peradaban.

V
Engkau penghulu ummah dalam keteladanan,
Pemakmur Baitullah dengan pengabdian,
Penggerak roda ijtimā‘iyyah kehidupan,
Pengikat simpul barakah lintas generasi dan zaman.

VI
Engkau lahir dengan tangis sebagai fitrah insan,
Disambut suka cita langit dan bumi berpelukan,
Engkau wafat dengan senyum ketenteraman,
Disambut jutaan tangis—cinta yang tak terucapkan.

VII
Wafatmu terjamin oleh janji Maha Amīn,
Bukan pujian manusia, tapi ayat yang tersusun yakin:

Yā ayyatuhan-nafsul-muṭma’innah,
Irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah,
Fadkhulī fī ‘ibādī,
Wadkhulī jannatī.

Mengenang wafat Kyai Jazir
Senin, 22 Desember 2025

Ditulis di Piyungan,
Kamis, 25 Desember 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top