
Kepada Ibu
sebelum terang menisbatkan diri pada malam
sebonggol berlian menyapa cahaya mentari
mengumandangkan sejuk embun pagi
yang tetesannya mengubah malam jadi terang.
sebelum fajar menyingsing
menyapa rembulan untuk menyingkir,
ibu sudah berlumur berlian
menyiapkan diri bekerja
sejak awal mula
hingga penghabisan hari.
ketika mentari menyilaukan jiwa para pecinta
di terik siang hari,
ibu meniti laku pekerjaannya
dengan kasih,
berharap semua anaknya menerima
anugerah dan restunya.
kepada ibu,
aku menisbatkan seluruh tubuhku
sebagai tubuh yang kau kasihi.
***
Persembahan untuk Bapak
ketika alunan suci nyiur hijau di garis pantai
menyembulkan kasih yang tak pernah padam,
debur ombak menyenandungkan lagu-lagu lirih
bersama seluruh makhluk yang menumpahkan buih-buihnya
ke permukaan.
ketika alunan halus akar-akar pepohonan pantai
menggenggam seluruh kelembutan pasir putih,
bapak sedang memikul derap zaman yang nadanya makin sumbang.
ia membalasnya dengan laku kerja yang peluhnya tak pernah
habis diperas.
bersama ibu, bapak mengangkat seruling emas
yang harganya tak bisa menebus laku kerja keduanya.
dimulai sejak sinar rembulan belum padam
diakhiri ketika kesunyian malam melumat terik mentari.
bersama ibu, bapak menjinjing gambang berbalut perak
yang nadanya semerdu kicauan burung kenari
lalu menimbang pakaian yang dibasuh
dengan air suci dari taman surga
dan mengeringkannya dengan angin
dari pemandian bidadari.
***
Lagu Zaman yang Sumbang
peluh, rasa sakit, dan penderitaan
tak pernah menghentikan laju kerja manusia
menyongsong kehidupan,
menyunggi beban luka,
hanya untuk ditindih tubuh zaman.
kesakitan menjadi bahan baku zaman,
peluh menjadi air minum seluruh makhluk.
kapan kah kita akan lepas dari lagu zaman
yang nadanya meminggirkan yang lain
dan melodinya mengosongkan perut banyak orang?
***
Mengisi Celengan Ayam
satu per satu celengan itu diisi dengan lembaran kertas
yang tak pernah bertambah banyak
sejak dua minggu yang lalu
hari demi hari. bulan demi bulan.
celengan ayam si miskin hanya berisi angan-angan.
harapan tak luput hadir di dalamnya
sabar dan ikhlas terbilang dua kata
yang nyanyiannya tak pernah berhenti sepanjang zaman.
seolah nasib si miskin menjadi tanggung jawab si miskin setotalnya.
semester pertama 2026
celengan ayam ini akan disembelih.
tiap orang menatap penasaran
siapa tau banyak nasib baik yang bertumpah ruah darinya
padahal minyak dan beras dibeli dengan selembaran kertas
byar!!!
celengan ini menyisakan leher yang menganga
usai dipaksa lepas dari tubuh. benar saja.
bukan hanya nasib baik dalam angan yang tumpah ruah,
minyak dan beras khayal menyembul jua dari dasar barang ini.
***
Galih Ernowo Widianto lahir di Purwokerto, Banyumas pada 2004. Penulis mulai kepo dengan penulisan sastra. Saat ini ia tinggal satu kelurahan dengan kampus jenderal di kota tempat lahirnya. Ia dapat disapa melalui Instagram @galih.ernowo.




