Kuburan Paradoks dan Puisi Lainnya

Ritus Takdir

Mengail bulan menanak matahari
Kuil-kuil hiruk pikuk menyembah
Patung dan dupa membagi sesaji
Surat upaya merayu pipi arca

Tak ada nyala damar petang
Mengkaji ritus-ritus takdir di luar pandir
Langit-langit melonyos dalam jongos
Malam menghulus kelam

Sembilu merekat kesumat
Udara bertuba dari sengit para sungai darah
Reinkarnasi rasa dan sabda-sabda romantis
Saling bertikai dalam persemayam terakhir

Hati adalah pemakaman
Sehabis kutanam jasad puisi
Kadang mistis kadang kritis
Dalam anonitas misterius

Ritus bisu sesajen darah
Tanpa tinta di labirin saraf
Bila kau bangkit lagi akan kupenggal
Dengan pisau logikaku

Memori memakan isi kepala
Sementara kenyataan setengah mati
Kerangka hitam di nisan tubuhmu
Setelah prosesi yang menguliti keramat

Kota Cendana, 25 Mei 2026

***

Kelender Disembelih

Kelender berdarah di altar malam
Gelap meneteskan air matanya
Ke atas peti-peti hari yang tak tertulis
Tubuh almanak disembelih
sebagai korban tenung keadaaan

minggu-minggu menelan nafas sunyi
meninggalkan lorong-lorong sabit
bulan meratapi tubuh jam
Tahun berkalang duka
Menutupi jenazah kenyataan yang wafat

Lembar demi lembar berderek di mesbah
Meninggalkan kemenyan luka
Tanggal-tanggal bersujud di atas mangkuk
Menerima mantra penyangkalan yang tersasar

Angka-angka merapal jampi-jampi rindu
Sebagai sesaji kecil bernama hidup
Sembelih arti sebelum sempat dikremasi
Macam cara merayakan masehi tua

Entah siapa menuntut tiba kemarau kemarin
Dari pernyataan-pernyataan yang menohok
Mengoyak saraf waktu’daging realita robek
Pada wajah abad yang kian keparat

Kota Cendana, 25 Mei 2026

***

Senja Berdarah

senja yang membangkang
menggantung gelap di leher kota paling munafik
lampu-lampu jalanan pura-pura terang
padahal janji-janji dibuang seperti puntung rokok
yang masih separuh menyala

aku membaca catatan pinggiran
tapi merasa dibaca balik
macam terdakwa tanpa hakim
berita tentang perang lebih sopan dari kenyataan
dalam ruang sidang rahasia

komplotan antara muak memberi maaf pada khilaf
menyalahkan pemberontakan kecil
di dada yang terlalu lama patuh
tajuknya berteriak tentang fakta

Kota Cendana, 25 Mei 2026

***

Kuburan Paradoks

Kuburan paradoks membuka matanya
Autopsi mayat sejarah yang wafat hari ini
Pemakaman itu dipenuhi kunang-kunang
Menulis berita dari bangkai arsip

Nisan-nisan setengah lebur tanpa darah
Menukar catatan kaki tuhan dengan tinta tanah
Kerangka hitam takdir berdebat
Dalam peti-peti hari sebelum skandal sunyi

Bunga-bunga kubur mekar
Dengan huruf-huruf kritik
Menyoroti poster-poster heroik
Dari kebenaran yang syahid

Keranda hidup bergerit ngilu
Sementara debu mengunyah serapah
Lalu memuntahkan arwah-arwah skeptis
Nurani dipaksa tidur saat kafan harapan setengah kabung
Langit menitikkan dahaga kental

Dunia sakau bersimbah anyir
Bayang tanpa rangka di tengkorak sabit
Ketika tulang belulang ingatan bersaksi
Kau telah dimakamkan di kepalaku

Kota Cendana, 25 Mei 2026

***

Syahid dalam Hening

Jarum jam menunjukkan angka mati
Menolak beranjak memenjarakan malam
Waktu sudah bertekuk lutut
Di detik yang terpenggal

Ada aroma kemenyan menyaru bau kopi
Angin membisikkan nyanyian pengantar tidur
Tapi liriknya tentang keranda dan cinta

Rembulan itu jinak
Sebab siang sedang menyamar
Membawa rahasia yang tak sanggup ditanggung matahari’
Saat dinding-dinding merayap pening

Kota Cendana, 25 Mei 2026

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top