Dekonstruksi Anak Sebagai Investasi Ekspektasi: Merawat Benih Potensi Melalui Fitrah Based Education

Pendidikan pada saat ini kebanyakan masih menuntut anak untuk patuh dan penyeragaman. Memperlakukan anak seperti robot atau kertas putih, bukan pada upaya mengeksplorasi dan menumbuhkan apa yang ada dalam diri anak. Akibatnya tidak jarang kita jumpai di usia dewasa banyak yang mengalami krisis identitas, kebingungan peran, kehilangan arah, dan tujuan hidup. Sehingga mereka hanya mengikuti arus atau sekedar ikut-ikutan (FOMO)

Pada hakikatnya setiap anak, terlahir memiliki fitrah bawaan atau “visi jiwa” yang dianugerahkan oleh Allah, untuk bisa berkontribusi ke dunia atau khalayak umum. Di antaranya setiap anak memiliki fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dan bernalar, fitrah perkembangan, fitrah seksualitas dan cinta, fitrah individualitas dan sosialitas, fitrah estetika dan bahasa, fitrah fisik dan indra. Untuk itu diharapkan pendidikan sebaiknya berkontribusi pada mecari, menggali dan mengidentifikasi potensi bawaan anak. Agar fokus pada potensi khas yang ada dalam dirinya, sehingga setiap anak tumbuh secara aktual.

Bukan hanya melibatkan peran pendidik di sekolah saja, melainkan perlu adanya peran dari keterlibatan orang tua (parental involvement) sebagai figur krusial dalam proses pendidikan dan tumbuh kembang anak. Adanya pola asuh yang diwariskan secara turun-temurun, luka yang belum disadari, dan belum sembuh, membuat banyak di antara orang tua yang membentuk anak sesuai dengan ambisi dan ekspektasi, menjadikanya sebagai objek investasi membuat anak kehilangan fitrahnya. 

Sebagai contoh studi kasus, seorang  anak yang memiliki fitrah bawaan dalam dirinya berupa kekuatan fisik dan berstamina, akan tetapi dari ruang perkembangannya mereka sudah dibatasi oleh orangtuanya,  dengan membentuk dan mengasah di aspek kognitif. Dengan mematikan fitrah bawaan anak dan memaksakan anak untuk unggul tidak sesuai potensinya, akan membuat anak kelelahan secara psikologis (burnout) dalam belajar, karena dipaksakan dan adanya tertekan akan berdampak pada perkembangan anak menjadi tidak optimal.

Berdasarkan realitas tersebut pembenahan sistem pendidikan, yang perlu untuk diperhatikan selain sekolah sebagai ruang tumbuh kembang anak, menjadikan pendidik sebagai fasilitator. Perlu adanya kesadaran dalam diri bagi setiap orang tua, bahwa setiap anak terlahir secara otentik atau memiliki keunikan, dan sudah memiliki blueprint bawaan, tugas kita sebagai orang tua hanya memberikan nutrisi dan mendampingi proses tumbuh kembang mereka sesuai dengan fitrahnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top