
Menjadi tua belum tentu arif dan bijaksana, Mengulas anggapan sosial bahwa usia identik dengan kebenaran dan kebijaksanaan, paradoks ketika justru anak kecil sering dijadikan kambing hitam atas kesalahan orang dewasa. Jika menelisik lebih dalam mengenai perkembangan kognitif, anak atau bahkan pemuda zaman sekarang sedang mengalami ledakan kognitif yang luar biasa apalagi pada era perkembangan digital yang begitu masif.
Nampaknya para orang tua mestinya menurunkan ego agar dapat lebih arif dan bijaksana ketika berkomunikasi dengan anak dan pemuda. Saya sendiri pernah merasakan ketika mengusulkan saran untuk mengatur sebuah barisan untuk pengambilan foto bersama. Saya mengusulkan bahwa pemateri yang memiliki badan tidak terlalu tinggi jangan diposisikan di belakang. Namun jawaban yang dilontarkan adalah “Anak kecil tau apa, jangan berisik”. Dengan begitu memperlihatkan bahwa menyalahkan yang lebih muda sudah menjadi budaya dan itu mesti kita perbaiki di masa mendatang.
Normalisasi terkait menyalahkan yang lebih muda dalam budaya sehari-hari Menyoroti bagaimana memarahi, merendahkan, atau menyalahkan dianggap wajar di rumah, sekolah, maupun ruang publik tanpa adanya refleksi moral dari orang dewasa. Saya sendiri pernah nongkrong bareng bapak-bapak yang sudah berumur 40-an akan tetapi beliau memiliki pemikiran yang menurut saya moderat, dalam artian tidak kolot. Sebagai contoh ketika saya sedang nongkrong, ketika sedang membahas isu Gen Z terkait kesehatan mental, lalu beliau ikut nimbrung tidak asal menghakimi cerita saya dan teman-teman. Hal tersebut nampaknya perlu dilakukan oleh kalangan generasi sebelum Gen Z.
Sebagai pihak paling lemah di mata orang-orang tua, yang secara tidak langsung terjadi ketimpangan kuasa antara orang dewasa dan anak, yang membuat anak tidak punya ruang membela diri, sehingga mudah diposisikan sebagai pihak bersalah. Menurut laporan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 1 dari 20 remaja berusia 10-17 tahun didiagnosis mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Selain dipengaruhi oleh paparan konten-konten dari media sosial, hal tersebut terkadang diperparah dengan Gen Z yang selalu disalahkan serta pendapat yang dianggap hanya angin lalu.
Mengkritisi narasi bahwa menyalahkan, membentak, atau mempermalukan anak adalah bentuk pendidikan, padahal sering kali hanya pelampiasan emosi orang dewasa. Dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan isu terkini, terkadang Gen Z lebih sadar dengan adanya dukungan dari media sosial yang setiap harinya update berita. Namun, mereka seringkali tidak diberi ruang oleh orang dewasa, bahkan tidak jarang terjadi kekerasan verbal terhadap mereka yang pada akhirnya untuk kedepannya dapat menimbulkan trauma mendalam.
Ketidakmampuan orang dewasa mengakui kesalahan sendiri menjadi problem yang sulit untuk diobati. Mengulas bagaimana menyalahkan anak menjadi mekanisme pertahanan ego orang dewasa agar terhindar dari tanggung jawab dan rasa gagal. Pendidikan sendiri memiliki pengaruh yang signifikan, dengan mengajarkan beberapa teori-teori, namun mengenai hal ini perlu menjadi perhatian penting yaitu tentang bagaimana agar tidak takut dengan kegagalan dan bagaimana mengatur ego.
Pada saat saya SMA, saya memiliki teman yang dirinya memiliki kreatifitas dalam mengerjakan soal fisika. Pada saat itu guru memberikan soal dan menyuruh para siswanya mengerjakan. Namun ketika selesai mengerjakan jawaban dari teman saya disalahkan begitu saja hanya karena rumus yang tidak sama dengan gurunya, lalu menyalahkan di depan anak sekelas. Hal tersebut memberi dampak psikologis jangka panjang pada teman saya yang berakibat dia sampai akhir semester mengikuti pembelajaran fisika diliputi rasa takut untuk berkreasi, rasa tidak semangat belajar, serta ada trauma tersendiri dengan guru tersebut.
Peristiwa tersebut menjelaskan bagaimana kebiasaan disalahkan membentuk rasa takut, rendah diri, dan kepatuhan buta yang terbawa hingga dewasa. Gen Z pada realitanya memiliki kreatifitas yang luar biasa. Namun dikarenakan mereka jarang diberi ruang untuk speak up mengeluarkan gagasan-gagasan yang potensial, gagasan tersebut hanya mengendap pada benak tanpa tahu kapan gagasan tersebut keluar untuk merubah lingkungannya atau dirinya.
Usia tua tidak selalu sejalan dengan kedewasaan emosional, meskipun menurut teori perkembangan psikologi pada fase dewasa akhir, manusia sedang dalam kondisi yang seharusnya sudah dewasa secara mental maupun perilaku. Namun, melihat realitas yang terjadi, pengaruh budaya yang diwariskan oleh para pendahulunya mengalahkan teori perkembangan psikologi tersebut. Pada fase tersebut masih sering terjadi fenomena menyalahkan anak tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal.
Reproduksi budaya menyalahkan lintas generasi menunjukkan bagaimana anak yang dibesarkan dalam budaya menyalahkan berpotensi mengulang pola yang sama ketika ia dewasa. Pada metode belajar, terdapat metode pengulangan berjeda yang contohnya ketika suatu suatu sesi belajar dicicil dari waktu ke waktu, bukan dalam waktu kebut semalam dan hal itu yang menyebabkan materi yang dipelajari masuk ke dalam ingatan jangka panjang kita.
Namun pola belajar tersebut secara tidak langsung juga diterapkan pada reproduksi budaya menyalahkan lintas generasi. Dengan anak yang hari-harinya seringkali disalahkan maka hal tersebut masuk ke dalam ingatan jangka panjang mereka, sehingga dalam menjalani kehidupannya di usia yang memiliki generasi dibawahnya, hal tersebut kemungkinan besar dapat diulangi oleh anak tersebut.
Mendengar suara anak merupakan bentuk kebijaksanaan sejati. Menawarkan perspektif bahwa kebijaksanaan justru tampak ketika orang dewasa mau mendengar, memahami, dan belajar dari sudut pandang anak. Setiap manusia memiliki blind spot atau titik buta, sehingga sesederhana mendengarkan bahkan dari sudut pandang anak kecil, tidak menutup kemungkinan dapat menjawab titik buta yang kita miliki terhadap suatu hal
Makna arif dalam relasi antar usia menegaskan bahwa kearifan bukan soal usia, melainkan keberanian untuk adil, bertanggung jawab, dan menghormati manusia lain termasuk yang lebih muda. Gen Z sangat berperan besar dalam menentukan apakah di zaman yang akan datang akankah budaya menyalahkan yang lebih muda akan berkurang, sehingga generasi selanjutnya memiliki ruang yang bebas sebagai manusia yang berpikir secara bebas tanpa takut disalahkan serta tanpa takut didiskriminasi pikirannya.
Ahmad Nur Ikhya berasal dari Baturaden, Kabupaten Banyumas. Ia adalah seorang pemuda yang baru mulai terjun ke dunia kepenulisan dan tengah menapaki langkah pertamanya melalui kegiatan menulis di bilfest.id. Dengan semangat belajar dan berproses, Ikhya terus mengembangkan minatnya dalam literasi. Sapa saja melalui Instagramnya @akuikhya.




