
Banyumas merupakan wilayah yang terletak di Jawa Tengah dan dikenal dengan kekayaan budaya dan tradisi lokalnya yang masih terjaga hingga saat ini. Di balik kehidupan masyarakat yang sederhana tersimpan nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun dan terus dijaga. Salah satu tradisi yang mencerminkan hubungan antara budaya, ekologi, dan literasi lokal di Banyumas adalah tradisi penjamasan jimat di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual pembersihan benda pusaka, tetapi juga bentuk ekspresi penghormatan terhadap sejarah, pelestarian nilai budaya, serta pengetahuan lokal yang mengandung unsur literasi ekologi.
Dibalik prosesi Penjamasan Jimat tersimpan cerita panjang yang berkisah dari perjalanan Amangkurat I, Raja Mataram (1646-1677). Dalam perjalanannya menuju Batavia untuk meminta bantuan VOC akibat pemberontakan Trunojoyo, Amangkurat I melewati wilayah Kalisalak kemudian meninggalkan beberapa pusaka agar perjalanannya tidak terlalu berat. Pusaka-pusaka inilah yang hingga saat ini dijadikan dasar pelaksanaan tradisi Penjamasan Jimat di Desa Kalisalak. Tradisi ini diwariskan secara turun temurun dan menjadi identitas masyarakat setempat. Dalam perkembangannya, penjamasan jimat bukan hanya sekadar kegiatan sakral, tetapi juga sebagai momentum kebersamaan warga dalam menjaga peninggalan sejarah dan menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya.
Pelaksanaan tradisi Penjamasan Jimat dilakukan dengan penuh ketelitian oleh pihak kerabat jimat dan juru kuci (Bapak Bachtiar, S.T.). Bahan-bahan yang digunakan dalam proses ini berasal dari alam sekitar, seperti dedak, jeruk nipis/jeruk bayi, dan arsenikum (warangan). Ketiga bahan tersebut memiliki fungsi berbeda tetapi saling melengkapi, dedak digunakan untuk membersihkan karat karena sifatnya yang lembut namun efektif, jeruk digunakan untuk menghilangnkan noda dan korosi karena mengandung zat asam alami, arsenikum berfungsi untuk mengawetkan logam pusaka.
Bahan-bahan tersebut bukan hanya sekadar simbol tetapi juga mencerminkan kearifan ekologi masyarakat Banyumas. Mereka memanfaatkan alam dengan bijak tanpa berlebihan, dengan kesadaran bahwa alam perlu dijaga agar tetap memberi manfaat di masa mendatang. Di tengah zaman modernisasi saat ini yang serba kimiawi, penggunaan bahan alami dalam tradisi Penjamasan Jimat menjadi contoh nyata bagaimana pengetahuan lokal dapat berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Selain memuat nilai ekologi, tradisi Penjamasan Jimat juga menyimpan nilai literasi budaya yang tinggi. Literasi di sini bukan sekadar kemampuan membaca atau menulis tetapi juga kemampuan dalam memahami, menafsirkan, dan mewariskan pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat. Masyarakat tidak hanya menjaga peninggalan leluhur, tetapi juga melestarikan pengetahuan di baliknya. Generasi muda seperti kita biasanya dilibatkan dalam setiap tahap acara, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan upacara atau yang dikenal dengan kirab pusaka, kegiatan iring-iringan ini dilakukan dari lapangan Desa Kalisalak menuju langgar jimat. Mereka belajar langsung dari para sesepuh tentang tata cara, bahan, hingga filosofi di balik setiap langkah.
Bentuk literasi budaya dalam hal ini meliputi kegiatan membaca, memahami, dan menafsirkan nilai-nilai lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Literasi budaya tidak selalu berbentuk buku atau teks, tetapi bisa dalam bentuk praktik sosial seperti ini. Masyarakat belajar membaca kehidupan dan alam melalui tradisi yang mereka jalani. Dengan cara itu, pengetahuan budaya tidak berhenti pada satu generasi saja. Pengetahuan mengalir, berkembang, dan hidup dalam kesadaran masyarakat. Literasi budaya ini membuat warga Kalisalak memahami akar sejarahnya. Bahkan di tengah dunia yang serba cepat ini.
Lebih dari itu, setiap kali Penjamasan Jimat digelar, suasana menjadi sangat meriah. Di sepanjang jalan RT 03 RW 06, masyarakat berbondong-bondong datang bukan sekadar ikut serta dalam ritual maupun menikmati kemeriahannya. Pedagang lokal memadati area sekitar, mereka menjual aneka makanan, pakaian, hingga perabot rumah tangga. Setiap pelaksanaan penjamasan menjadi ruang kebersamaan, tempat masyarakat berkumpul, berdagang, dan saling berinteraksi, sehingga budaya dan ekonomi warga tumbuh berdampingan.
Bagi masyarakat Desa Kalisalak, Penjamasan Jimat merupakan wujud dari rasa syukur sekaligus penghormatan kepada leluhur. Mereka meyakini pusaka peninggalan Amangkurat I memiliki nilai sejarah dan spiritual yang harus dijaga dan dirawat dengan penuh tanggung jawab. Tradisi ini juga mengajarkan tentang hubungan manusia, alam, dan budaya. Penjamasan Jimat sebagai wujud nyata bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilepaskan dari pelestarian lingkungan. Bahan alami yang digunakan, cara pelaksanaan, hingga gotong royong masyarakat dalam menjaga kelestariannya mencerminkan keseimbangan antara manusia dan alam. Banyumas dengan segala kearifan lokalnya memberikan pelajaran berharga bahwa budaya bukan hanya sekadar peninggalan masa lalu. Tetapi budaya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang terus tumbuh bersama masyarakat. Nilai-nilai kebersamaan, menghormati leluhur, dan cinta alam merupakan pondasi yang harus dijaga di tengah perubahan zaman ini.
Tradisi Penjamasan Jimat di Desa Kalisalak mencerminkan keterpaduan antara ekologi, budaya, dan literasi dalam kehidupan masyarakat Banyumas. Tradisi ini mengajarkan bahwa menjaga alam, memahami sejarah, dan menularkan pengetahuan merupakan tiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Dalam setiap tahap tradisi Penjamasan Jimat, terdapat pesan moral bahwa manusia tidak bisa lepas dari alam. Dari penggunaan bahan alami, hingga semangat gotong-royong, semua menegaskan pentingnya kearifan lokal bagi keberlanjutan kehidupan manusia dan lingkungannya. Sebagai generasi muda, sudah sepantasnya kita belajar dari tradisi seperti ini, tidak hanya untuk memahami masa lalu tetapi untuk membangun masa depan yang lebih bijak terhadap alam, budaya, dan pengetahuan. Karena di balik proses penjamasan jimat tersimpan pesan bahwa melestarikan budaya berarti menjaga kehidupan itu sendiri.
Sebagai mahasiswa yang berasal dari daerah Banyumas, saya melihat dan mengamati tradisi penjamasan jimat di Banyumas khususnya di desa Kalisalak, saya melihat bahwa ritual ini bukan hanya sekadar bentuk pelestarian budaya yang diwariskan secara turun temurun, melainkan juga cermin dari kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan sejarah. Dari sudut pandang saya, proses penjamasan yang menggunakan bahan-bahan alam dan melibatkan partisipasi komunitas secara gotong royong mencerminkan bagaimana masyarakat mampu memaknai leluhur bukan hanya sebagai warisan fisik tetapi sebagai nilai-nilai sosial dan ekologi yang harus dijaga bersama, sehingga tradisi penjamasan jimat menjadi bentuk nyata literasi budaya sekaligus pelestarian lingkungan yang relevan di tengah modernisasi yang kian cepat.
Maka dari itu, menjaga dan melanjutkan tradisi penjamasan jimat di desa Kalisalak merupakan tanggungjawab generasi muda, agar nilai-nilai luhur dan keberlanjutan budaya serta lingkungan dapat terus hidup dan berkembang, tidak hanya menjadi sebuah cerita masa lalu tetapi sebagai fondasi penting bagi identitas dan keberlangsungan masyarakat di masa yang akan datang.
Lintang Zahra Nur Laili, lahir di Banyumas. Saat ini Ia menempuh program studi Sastra Indonesia di Universitas Jenderal Soedirman. Ia gemar memotret dan membaca puisi, semasa sekolah dulu ia sering mengikuti lomba puisi dan pidato. Bisa disapa melalui Instagram @lintangzahranl.




