Tari Lengger Lanang dalam Merawat Harmoni Ekologi

Tari Lengger Lanang, kesenian khas dari wilayah Banyumas, Jawa Tengah, adalah sebuah warisan budaya yang menyimpan kedalaman filosofi dan etika hidup yang luar biasa. Kesenian Lengger Lanang tidak hanya kaya akan filosofi budaya, tetapi juga memiliki hubungan yang sangat erat dan praktis dengan ekologi. Kesenian yang ada di Banyumas diharapkan bukan hanya sekedar hiburan saja tetapi juga menjadi alat untuk menambah pengetahuan tentang etika hidup. Lengger Lanang ialah sebuah tarian yang diperankan oleh seorang laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan, dan sering kali disalahpahami sebagai sekadar pertunjukkan gender yang unik. Namun, dibalik riasan dan gerakan tariannya, tersembunyi sebuah kearifan budaya yang berfungsi sebagai panduan hhidup dalam merawat harmoni ekologis, suatu sistem pengetahuan lokal tentang bagaimana manusia harus menempatkan diri dalam keseimbangan alam semesta.

Arti lengger diambil dari kata “Leng” dan “Jengger” yang berarti laki-laki dianggap seperti perempuan. Sejarah Lengger Lanang Banyumasan atau penemuan tarian ini dimulai pada abad ke-18, ketika Mangkunegara VII memerintahkan tiga sastrawan untuk mengelilingi Jawa dan menulis tentang kehidupan orang Jawa saat itu. Budaya Lengger Lanang Banyumasan ini masih berkembang hingga saat ini, bahkan memiliki tempat khusus untuk kesenian tersebut, yaitu “Rumah Lengger Banyumas” tepatnya di Sudagaran, Kec. Banyumas, Kab. Banyumas. Lengger Lanang ini lebih dari sekedar pertunjukan, karena Lengger Lanang ini adalah cerminan filosofi budaya yang mengajarkan manusia bagaimana seharusnya berinteraksi dengan alam dan menjadikannya sebuah kearifan budaya dalam merawat harmoni ekologis. 

Makna filosofis kearifan Lengger Lanang adalah konsep penyatuan dualitas. Tampilnya seorang laki-laki (lanang) dengan rupa dan gerak seperti perempuan itu melambangkan peleburan dua kekuatan utama, yaitu Lingga (maskulin/langit) dan Yoni (feminism/bumi). Secara kultural, dualitas ini adalah pengakuan bahwa semesta hanya akan mencapai kesempurnaan jika kedua elemen yang berlawanan dapat bersatu. Dalam konteks ekologis, penyatuan ini mengajarkan prinsip kesetaraan, yang berarti tidak ada dominasi satu pihak atas pihak lain. Lengger Lanang menolak narasi manusia sebagai penguasa tunggal alam. Sebaliknya, ia mengajarkan bahwa manusia adalah bagian integral dari ekosistem, yaitu sebuah mitra yang harus menghargai kekuatan langit dan kelembutan bumi secara seimbang. Budaya Banyumas menginternalisasi ajaran ini dan menuntun masyarakat untuk mengambil hasil alam seperlunya. Keseimbangan internal yang dicapai oleh sang penari ini secara langsung diterjemahkan menjadi prinsip ekologis. Budaya Banyumas mengajarkan bahwa jika manusia dapat menyeimbangkan dualitas di dalam dirinya, maka ia akan mampu melihat dan menghormati keseimbangan dualitas di luar dirinya, yaitu alam. Hal ini menumbuhkan pandangan hidup yang ekosentris, dimana alam dilihat sebagai pasangan yang setara, bukan objek yang harus didominasi. Prinsip ini menjadi benteng kultural yang menolak eksploitasi berlebihan, karena merusak alam sama artinya mengacaukan kesatuan kosmis.

Hubungan paling nyata antara Lengger Lanang dengan Ekologi terletak pada akar historis Lengger Lanang bersemi di sawah, bukan di panggung. Kesenian ini lahir sebagai ritual agraris, sebuah praktik budaya yang berupa memelihara siklus kehidupan. Sebelum benih ditabur dan saat panen raya tiba, Lengger Lanang ditarikan sebagai persembahan tulus kepada Dewi Sri, yaitu simbol kesuburan padi dan bumi. Dalam tarian Lengger Lanang Banyumasan ini Gerakan tari yang dinamis, dengan iringan gamelan yang ritmis bukan sekedar ekspresi seni, tetapi itu adalah doa kultural kolektif. Tarian tersebut memohon agar tanah tetap subur, air mengalir lancar dan hama menjauh, ini adalah bentuk timbal balik yang unik dalam budaya Banyumas. Manusia tidak hanya mengharapkan panen, tetapi juga wajib memberikan penghormatan dan rasa syukur kepada alam. Inilah kearifan ekologis yang sesungguhnya, yaitu mengenali bahwa kesejahteraan manusia terikat langsung dengan Kesehatan alam. Lengger Lanang berfungsi sebagai penjaga memori ekologis dan juga mengingatkan kepada generasi berikutnya bahwa hubungan dengan alam harus dilandasi dengan rasa hormat bukan eksploitasi.

Dalam momen puncak tarian, seringkali terjadi trance (mendhem). Fenomena ini, secara kultural, dilihat sebagai proses dimana sang penari menjadi jembatan antara dunia manusia dengan dunia spiritual atau penjaga alam (danyang), ini adalah mekanisme budaya untuk menjaga kepatuhan ekologis. Fenomena ini mengingatkan kepada masyarakat akan batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Lokasi keramat, sumber air, atau hutan yang harus dijaga menjadi lebih sakral, Lengger Lanang melalui ritualnya menegaskan bahwa merusak alam sama dengan tidak menghormati leluhur dan roh penjaga yang dipercaya menjaga keseimbangan ekosistem lokal. Tarian ini mengajarkan bahwa alam adalah kesatuan utuh. Manusia bukanlah entitas yang berdiri di atas alam, melainkan bagian dari ekosistem. Konsep ini mencegah pandangan antroposentrisme ekstrem (manusia pusat) dan mendorong ekosentrisme (ekosistem pusat). Lengger Lanang ini adalah wujud kearifan lokal yang mentransformasikan pemahaman ekologis menjadi ritual budaya yang hidup. Kesenian ini  memanfaatkan keseimbangan dalam diri penari yang diterjemahkan menjadi keseimbangan dalam pemanfaatan alam, yang bermakna mengambil hasil alam harus sesuai kebutuhan dan memastikan bahwa daya dukung lingkungan tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Lengger Lanang adalah monumen budaya yang menari sebuah peninggalan kearifan lokal yang diwariskan untuk berkelanjutan hingga hari ini. Ia mengajarkan bahwa krisis lingkungan yang kita hadapi sering kali berakar pada ketidakseimbangan internal manusia, yaitu ketidakmampuan kita menyatukan dualitas dalam diri, sehingga berujung pada eksploitasi alam yang tidak terkendali. Melalui riasan Lanang yang ayu, tarian ini mengingatkan akan prinsip kesetaraan, timbal balik, dan penghargaan mutlak terhadap alam. Dengan memahami dan menghayati makna filosofis Lengger Lanang, kita tidak hanya melestarikan seni, tetapi juga mewarisi budaya Banyumas tentang bagaimana menjalani hidup yang selaras dan bertanggung jawab dalam bingkai harmoni ekologis yang utuh.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top