
Seni pada hakikatnya merupakan sebuah jantung peradaban yang merekam jejak pencarian makna paling dalam dari manusia. Banyak seniman yang menjadikan seni sebagai medium untuk arena meditasi dan penyelaman akan jati diri mereka. Namun, selama berdekade-dekade kita terus dipaksa seolah percaya bahwa seni adalah tempat di mana kita hanya bisa berbisik lirih, menjaga jarak yang kaku dengan kanvas, dan membiarkan apresiasi hanya dilakukan oleh mereka yang dianggap berpendidikan atau memiliki modal yang besar untuk membeli karya seni.
Dalam catatan sejarah Indonesia, ekosistem seni pernah begitu dekat dengan pertarungan ideologi sekitar tahun 45-an, karya sebagai media perjuangan fisik melawan kembalinya sekutu dan penyebar semangat nasionalisme. Kemudian berlanjut ke era 80-an dengan karya yang penuh kritik sosial yang bermanuver di bawah bayang-bayang ketat rezim orde baru. Pada masa-masa itu, karya seni menjadi sebuah hal yang prestise yang hanya dipajang di ruang white cube yang steril. Hal tersebut menimbulkan semacam sekat tak kasat mata yang memisahkan antara seniman dengan masyarakat umum yang sering anggap awam.
Perubahan ekosistem seni mulai terasa berubah saat tembok tebal institusi mulai runtuh seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang meredefinisi cara manusia bertatap muka dengan keindahan karya. Arus digitalisasi secara perlahan mulai menghancurkan aura eksklusivitas yang dalam berdekade-dekade dijaga di dalam galeri-galeri konvensional dan mewah. Kini, seni tidak lagi menunggu pengunjung di dalam ruang galeri.
Lanskap seni Indonesia telah mengalami pergeseran paradigma yang fundamental dalam mungkin satu dekade terakhir. Pemeran seni yang dahulu secara tradisional dipandang sebagai ruang kontemplasi eksklusif bagi para intelektual dan kolektor, kini bertransformasi menjadi ruang bagi generasi muda khususnya pada generasi Z untuk mengeksplorasi diri mereka. Bagi generasi Z yang tumbuh sebagai digital native, seni menjadi bagian integral dari identitas dan gaya hidup mereka sehari-hari.
Dalam ekosistem seni, kehadiran pengunjung dalam ruang pamer selama ini sering kali dianggap sebagai apresiasi terhadap seniman dan karya seninya. Apresiasi seni yang terjadi secara tradisional sangat erat berkaitan dengan estetika karya, filsafat dan juga wawasan mengenai sejarah karya tersebut dan bahasa seni seperti elemen visual, prinsip desain dan gaya karya. Namun, dengan kehadiran media sosial membawa dimensi baru dalam apresiasi seni dalam ruang pameran. Media sosial membentuk dokumentasi diri pengunjung yang sangat berkaitan dengan emosi pengunjung, benda, waktu, dan tempat ruang pameran. Pengunjung sering kali hanya berfoto dengan tujuan untuk mendapatkan validasi dari rekan yang berupa likes dan komentar yang pada akhirnya justru meningkatkan citra diri pengunjung bukan pada seniman dan karyanya.
Fenomena ini melahirkan realitas baru di mana pameran seni sering kali dipadati oleh individu yang datang bukan hanya untuk membedah konsep kuratorial pameran tersebut. Namun, untuk mengikuti tren. Pengunjung awam seringkali hanya merangkum fenomena pameran dengan “Sekarang lagi jamannya foto-foto dengan background yang keren begitu. Nah, saya mencari view di depan karya seni biar hasil fotonya bagus, walaupun saya bukan pencinta seni”.
Pengakuan akan fenomena tersebut secara gamblang menunjukkan bahwa bagi sebagian pengunjung, karya seni telah mengalami komodifikasi visual. Mereka menjadikan karya seni hanya sebagai properti estetik untuk menunjang performativitas identitas digital di dalam media sosial.
Perubahan lanskap seni yang terjadi tidak lepas dari aspek historis yang terjadi dalam pameran yang terjadi. Sebagai contoh yang terjadi di dalam pameran ArtJog.
Setelah lebih dari lima kali diselenggarakan dalam kurun waktu lima tahun berturut-turut sejak tahun 2008, ArtJog berhasil mengubah citra dari acara kesenian menjadi pusat seni di Indonesia, yang tentu tidak hanya populer di kalangan elite, namun juga di kalangan masyarakat umum.
Perkembangan pola media elektronik menawarkan gaya hidup berkelanjutan di media sosial. Media sosial membuat citraan menjadi sebuah yang dibutuhkan dan mendominasi kehidupan manusia, di mana manusia berlomba-lomba menjadi citraan dalam rangka menemukan eksistensinya. Melihat perkembangan citraan diri seseorang dalam media sosial dipahami betul oleh penyelenggara ArtJog, bagaimana mereka memanfaatkan media sosial untuk memperluas informasi penyelenggaraan pameran kepada masyarakat umum (Tunnikmah, 2018).
Penyelenggara ArtJog mulai menggunakan media sosial Instagram sejak tahun 2014 dan mulai membuka diri untuk menunjukkan fenomena selfie kala itu secara resmi pada tahun 2015. Penyelenggara mendorong pengunjung untuk melakukan foto selfie dengan karya melalui lomba selfie mingguan. Strategi tersebut secara instan meruntuhkan tembok eksklusivitas seni. Pada tahun 2014 tersebut, meskipun ArtJog untuk pertama kalinya memberlakukan tiket masuk sebesar Rp 10.000, jumlah pengunjung justru melonjak hingga 100.000 orang, naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang masih gratis (Tia, 2014).
Kebijakan merangkul media sosial ini berlanjut dan semakin matang pada tahun 2016. Berdasarkan pencarian metadata menggunakan tagar #artjog pada tahun 2016, tercatat ada sekitar 25.883 unggahan foto di Instagram. Jumlah pengunjung ArtJog yang semakin masif ini juga salah satunya dipicu oleh munculnya selebritas seperti Dian Sastrowardoyo di ruang pameran. Media sosial yang erat dengan pencitraan membuat kehadiran selebritas Dian Sastrowardoyo menjadi salah satu pemicu yang begitu kuat untuk menarik pengunjung awam yang tidak biasa mengunjungi pameran seni untuk ikut datang dalam ruang pamer ArtJog. Tindakan para pengunjung muda tersebut sering kali didorong oleh keinginan untuk memperlihatkan kehadiran di tempat yang sama dengan orang yang diidolakan. Dan selfie dilakukan untuk menunjukkan “saya ada di sini, di tempat yang pernah didatangi idola saya” ataupun “saya ada di tempat yang didatangi selebritas” (Tunnikmah, 2018).
Fenomena tersebut sangat berbeda jika menengok awal penyelenggaraan ArtJog. Sebelum tahun 2014, ArtJog belum pernah seramai itu. Pada awal berdirinya di Taman Budaya Yogyakarta, pameran ini lebih difokuskan sebagai pasar seni yang ingin membangun fondasi infrastruktur distribusi karya bagi seniman lokal Yogyakarta agar bisa dikenal di kancah nasional maupun internasional. Pengunjungnya saat itu masih sangat terbatas pada kolektor, seniman, mahasiswa seni, dan juga penikmat seni yang memang terbiasa dengan galeri konvensional. Namun, sejak tahun 2014-2015, ArtJog yang kala itu mengangkat tema “Legacies of power” dan “Infinity in Flux” mengubah segalanya.
Pada edisi 2014 ArtJog yang bermuatan pesan politis yang tajam kepada kekuasaan, justru banyak pengunjung yang berfoto membelakangi karya untuk mendapatkan sudut yang pas dan estetik. Visualisasi karya seni kontemporer yang menawarkan skala dan estetika teatrikal justru hanya untuk memenuhi kebutuhan panggung eksistensi digital seseorang. Kedalaman makna yang menampar wajah demokrasi tahun itu justru dijinakkan oleh kebutuhan pengunjung akan konten visual media sosial. Kehadiran fisik di depan karya yang keren lebih penting daripada memahami derita atau kritik di balik karya tersebut. Pergeseran fungsi dari seni sebagai pesan berubah menjadi seni sebagai prestise gaya hidup digital.
Sejak saat itulah, ArtJog bukan lagi sekedar bursa seni, melainkan telah menjelma menjadi perayaan tahunan yang sering disebut “Lebaran Seni” untuk memenuhi gaya hidup digital seseorang.
Di tengah perkembangan zaman yang begitu masif melalui media sosial, masyarakat secara luas telah menjadikan seni sebagai sebuah gaya hidup baru. Fenomena yang juga meracuni kalangan generasi Z yang menguasai tren kebudayaan populer dan media sosial. Bagi generasi Z pameran seni bukan lagi tempat yang angkuh dan membosankan, melainkan menjadi arena untuk mengeksplorasi jati diri dan kreativitas digital mereka. Melalui tren foto di pameran seni, mereka meredefinisi makna apresiasi seni menjadi sebuah perilaku sosial yang performatif.
Di ruang pameran seni, kini tidak hanya akan melihat karya dari maestro seniman, tetapi juga akan sering kali menyaksikan parade outfit yang sesuai dengan budaya skena kalcer yang sangat khas dengan generasi Z. Meskipun demikian kritik mengenai banalitas visual tetap muncul terhadap fenomena tersebut. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pergeseran ini telah menghidupkan kembali ekosistem seni, menjadikan pameran lebih inklusif, dinamis, dan tetap relevan dalam dunia digital. Seni kini telah menjelma menjadi denyut nadi identitas generasi baru Indonesia.
Daftar Pustaka
Tia. (2014, Juli, 01). Hot.detik.com. Diambil kembali dari Situs web Detik.com: https://hot.detik.com/art/d-2624363/diperpanjang-seminggu-art-jog-14-cetak-rekor-pengunjung
Tunnikmah, N. (2018). Instagram selfie di pameran artjog. Jurnal Seni Rupa Dan Desain, 21, 108–119.
Bagi generasi Z yang tumbuh sebagai digital native, seni menjadi bagian integral dari identitas dan gaya hidup mereka sehari-hari.
Refandhy Tri Wijaksono merupakan putra bungsu kesayangan ibu dari Desa Gentawangi, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Bisa disapa melalui Instagram @refandhytw_.




