Monetisasi dan Eksploitasi: Kedok Dakwah Podcaster

Cerita hidayah semestinya hadir sebagai ruang perenungan, bukan komoditas tontonan. Namun di era algoritma, kisah suci pun bisa dijual dalam bentuk klip berdurasi 60 detik—dipotong, dikemas, dan dilempar ke pasar digital untuk ditonton berjuta pasang mata. Yang terjadi pada seorang mualaf asal Jepang, mantan pelaku industri konten dewasa, menjadi contoh paling terang bagaimana monetisasi dan eksploitasi bekerja dalam ekosistem konten hari ini.

Ia diundang ke berbagai podcast populer di Indonesia, sedikitnya delapan kali. Pertanyaannya nyaris selalu serupa: tentang masa lalu yang kelam, bukan tentang masa kini yang tercerahkan. Tiap wawancara menjadikannya mesin pengulang trauma, dipaksa kembali menggali luka yang sudah ditutup dengan istighfar dan air mata. Cerita hijrah yang mestinya menjadi pembuka harapan, justru dikerdilkan menjadi paket kliping yang siap tayang dalam reels, TikTok, dan shorts.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana industri konten hari ini lebih sibuk menjual sensasi daripada memuliakan nilai. Para podcaster, yang mestinya menjadi jembatan pengetahuan dan kebijaksanaan, kini malah menjadi pengecer narasi luka. Dalihnya adalah inspirasi, tapi kenyataannya: konten yang paling laku adalah yang paling getir.

Yang lebih mengkhawatirkan, eksploitasi ini mengundang efek berantai. Orang-orang yang sebelumnya tidak tahu, akhirnya berselancar di internet untuk mencari tahu siapa dia, apa masa lalunya, dan apa yang pernah ia lakukan—hal yang seharusnya, dalam tradisi Islam, ditutup oleh sesama Muslim. Ini bukan lagi dakwah, melainkan etalase aib yang dikemas rapi demi trafik dan iklan.

Kita patut bertanya: sampai sejauh mana ruang digital bisa memaklumi eksploitasi atas nama “kisah inspiratif”? Jika memang niatnya dakwah, cukup satu atau dua kanal yang mewakili, fokus pada perjalanan spiritual dan proses keinsafan. Tapi dalam kenyataannya, semua ingin kebagian klik, semua ingin meraup cuan dari kisah yang seharusnya menjadi sakral, bukan viral.

Dalam dunia yang terus mengejar viralitas, kita kian kehilangan batas antara yang pantas dan yang laku. Cerita hidayah yang mestinya disambut dengan takzim dan empati, kini dijadikan ladang monetisasi berjamaah. Barangkali, inilah saatnya kita mengingatkan kembali: tidak semua yang bisa diceritakan, harus dijual. Apalagi jika yang dipertaruhkan adalah kehormatan seseorang yang telah memilih jalan pulang kepada Tuhannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top