Kurupati Lena: Sebuah Kewaspadaan yang Dipungkiri

“Seperti api yang membakar habis kayu bakar menjadi abu, demikian pula api kebijaksanaan membakar habis semua kerja (karma)” (Bhagavad Gita)

Mahabarata dalam episode Baratayudha menjadi cerita yang hampir klimaks, persinggungan antar faksi dan kelompok yang ada dalam masing-masing koalisi (koalisi Kurawa dan Koalisi Wirata/Pandawa) menarik untuk dibedah. Dilihat dari pola pengelolaan, konflik yang muncul dan manajemen resiko dalam situasi yang genting.

Selama tujuh belas hari dari delapan belas hari keberlangsungan perang di Kurusetra meninggalkan jejak yang rumit, perdebatan panjang dalam membangun koalisi yang kokoh menjadi bagian yang selalu dibangun di pesanggrahan (tempat peristirahatan) Bulupitu. ballroom tempat Duryudana mengadakan pertemuan dan perundingan dengan para pimpinan koalisinya.

Perjalanan 10 hari perang pimpinan resi Bhisma dari pihak Kurawa meraih kemenangan yang cukup signifikan. Pergulatan batin sang Bhisma dalam pertempuran menyisakan duka, mengetahui jalan yang benar tapi dia tertahan dengan sumpah setia untuk membela tanah air. Totalitas membabat musuh di koalisi Wirata meninggalkan bekas luka yang dalam dengan hilangnya 3 putra mahkota Wirata. Sumpah wadat yang pernah diucapkan menjadi boomerang bagi Bhisma di hari ke 10, ia kalah strategi dengan Kresna yang melantik Srikandi untuk memimpin perang di kubu Pandawa. Kekalahan telak pertama bagi Kurawa. Dari kematian Bhisma, Duryudana hilang kendali dengan tuduhan yang mengarah ke Bhisma, bahwa Bhisma tidak rela kalau Kurawa menang dan menyalahi sumpah setia sebagai prajurit.

Setelah Bhisma gugur kendali, perang dipegang oleh guru Durna (Drona), sang maestro dan guru perang dari Astina, mengambil alih lapangan pertempuran. Kepemimpinan Durna menyisakan kekalahan telak kedua untuk Pandawa, dengan jebakan yang dibangun di medan perang berhasil menumpas Abimanyu (putra Mahkota Amarta) yang dikeroyok sampai tidak berwujud manusia. Satu paket kepempinan Durna juga gugurnya Gatotkaca pada malam pembalasan atas kematian Abimanyu di hari ke-enam belas. Sejak moment ini, Baratayudha sudah tidak terkendali, dengan pelanggaran aturan yang sudah disepakati di awal dimana peperangan harus berhenti saat malam tiba dan dilarang menyerang pasukan yang tidak bersenjata.  Dalam dua episode ini peraturan telah gagal diterapkan.

Masuk hari 15 dengan gugurnya Durna yang dibabat oleh Tresta Yumna putra mahkota Pancala yang menghabisi Durna saat masuk dalam strategi jebakan Kresna, dengan muslihat kabar kematian Aswatama, inilah tahap awal taktik muslihat dari kubu Pandawa dalam menghabisi siasat perang Kurawa. Durna termenung mendenagr kabar jika putranya meninggal, ia menunduk lesu, kemudian Tresta Yumna diberi kode oleh Kresna untuk melancarkan aksinya, leher Durna dibabat habis, kekalahan telak kedua untuk kurawa.

Setelah Durna gugur, jenderal lapangan diambil alih oleh Adipati Karna (Karna Basusena), pertarungan berlangsung sengit dan menjadi icon perang Baratayudha, pertarungan saudara kandung yang bersebrangan, selama 2 hari berlangsung dengan kisah-kisah tragis, menyayat kemanusiaan dan banyak petuah-petuah yang kelaur dalam moment ini dari Kresna kepada Arjuna sebagai bentuk kekuatan dharma yang harus dijalani.

Adu mekanik dan adu kekuatan support dari masing-masing pasukan. Karna yang disupport oleh Raja Madras Prabu Salya yang juga mertua Karna. Sedang Arjuna di-support oleh Kresna. Kerasanya pertempuran, selama dua hari ini, silih berganti terjerembab antara keduanya, dan pada moment terperosoknya kereta Karna dan Salya meninggalkan Karna sendirian di medan laga, Kresna memerintahkan Arjuna untuk menarik panah Pasopati supaya pertandingan segera diselesaikan. Akhir yang tragis bagi Basukarna, panah memotong leher dan gugurlah di medan pertempuran tanpa sempat mempersiapkan perlawanan sedikitpun.  Petinggi koalisi Astina terakhir adalah Salya, yang semula men-support Adipati Karna maju bertarung, hanya dengan waktu singkat berhasil dikalahkan oleh Puntodewo yang dipaksa maju perang oleh Kresna.

4 tokoh ini yang menjadi bagian penting dalam alur utama selama Baratayudha berlangsung. Di mana kepercayaan Duryudana dilimpahkan dengan keyakinan dan harapan tinggi untuk memenangkan peperangan, harus dibayar dengan kerugian besar. Musuh dalam selimut, mungkin istilah ini menjadi cocok ketika kesediaanya menjadi jenderal perang di pihak kurawa dianggap tidak 100% membela kemenangan kurawa,

Bhisma, tetua Astina yang sejatinya menjadi putra mahkota, harus sumpah wadat dan bersedia tidak mengambil alih kerajaan Astina setelah prabu Sentanu (ayahnya) menikah lagi dengan Setyawati (Durgandini) dalam wayang Jawa. Yang meminta garis keturunan darinya untuk menjadi raja pengganti Sentanu kedepannya. 

Kebijaksaaan Bhisma tetap memegang sumpahnya saat berhentinya garis keturunan Setyawati dengan Sentanu karena semua keturunanya mati dan keputusan besar terjadi di sini. Garis keturunan Kuru terputus digantikan dari garis Setyawati yang ia hasilkan bersama Resi Palasara keturunan brahmana Sapta Arga bernama resi Abiyasa (Kresna Dwipayana). Kebijaksanaan Bhisma dalam mengayomi tahta pemerintahan Astina terlukai ketika perebutan tahta yang sejatinya masuk ke tangan Puntadewa, namun diambil alih oleh Kurupati (Duryudana).

Sampai terjadinya perang Kurusetra, Bhisma memendam kegundahan atas perilaku Duryudana yang bertindak semena-mena, namun ia tetap berpegang teguh untuk menyelamatkan Astina karena dia satu-satunya orang yang memiliki darah keturunan Kuru langsung di kelompok tersebut. Sehingga dalam perang Kurusetra sumpah Bhisma adalah tidak mendaulat untuk kemenangan Duryudana, tapi untuk menjaga negaranya dari kekacauan. Sebelum perang dimulai, ia membuat pertemuan antara Duryudana dengan Bima (Werkudara) disaksikan Kresna dan Salya agar peperangan berlangsung dengan fair dan tetap mengedepankan sikap ksatria, beberapa aturan tersebut seperti; dilarang berperang keroyokan dan menyerang membabi buta, dilarang berperang dengan wanita dan dilarang berperang diwaktu malam hari. 

Durna seorang guru perang, ia terikat sumpah untuk mengajar hanya kepada keturunan Abiyasa (Pandawa-Kurawa) ia berperang di Kurusetra hanya untuk menggugurkan atas kewajiban seorang guru yang sudah didaulat dan tidak 100% mendukung kemenangan Duryudana.

Adipati Karna, sang senopati agung, yang selalu mendorong kebencian Duryudana kepada pandawa agar rivalitas selalu dibangun untuk para Kurawa terutama kepada Duryudana dan Dursasana. Kebencian yang tertanam agar ia bisa mulus menjalankan misinya. Karna yang merupakan saudara kandung Pandawa namun selalu tidak dianggap, ia bersumpah dengan Duryudana untuk membantu dalam hal apapun, namun dalam jiwa kstaria yang dimilki Karna ia tidak mungkin membela Duryudana karena sifat angkuh dan serakah, hal ini yang tidak disadari oleh Duryudana atas Karna, sehingga misi Karna membuat Duryudana terus berambisi menghancurkan Pandawa berhasil terus digelorakan hingga tercetus perang Baratayudha.

Raja Madras (Mandaraka) Prabu Salya, menjelang Baratayudha ia memilih berpihak ke Pandawa, namun saat ditengah perjalanan ke Wirata,  ia dijebak Duryudana, dengan disuguhi sambutan kedatangan, yang mana tahap ini Salya salah menerima informasi intelijen dan kepiawaian intelijen Duryudana memutus harapan raja Madras untuk bersatu dengan Wirata. Salya mengira yang menyambut adalah Puntadewa yang telah mengetahui maksud kedatangannya, namun saat perjamuan besar berlangsung, Salya meminta bertemu dengan pemimpin malah yang datang Duryudana, betapa kagetnya Salya dengan hal ini. Dengan mengedepankan etika sebagai raja, tidak mungkin mengingkari setiap sambutan yang ia dapatkan, ia menerima ajakan Duryudana untuk menjadi koalisi di pihak Kurawa, dan Salya gugur sehari setelah Karna gugur, ia berat hati berperang dengan Pandawa, ia hanya sebentar bertarung di Kurusetra dan meninggal oleh Puntadewa.

Jebakan dan muslihat Duryudana untuk mendapat segalanya menjadi pelajaran tentang batas dan kemampuan sebagai manusia dalam menjalani kehidupan. Kepercayaan terhadap seseorang yang dianggap saudara saja tidak cukup untuk menyelamatkan atas keangkuhan yang telah menjadi watak. Ia akan dibunuh secara diam-diam bukan ditinggalkan namun dijerumuskan dengan dilenakan- dibombong (Bahasa jawa-red), namun ia tidak sadar ia sedang dijatuhkan. 

Sikap kepemimpinan Duryudana yang ambisius itu bagus, untuk membangun semangat dan mewujudkan visi, namun jangan sampai mengorbankan hak orang lain, kehidupan orang lain, untuk kepentingan individu secara tidak sah. Bhisma, Durna, Karna dan Salya sudah berjuang dengan semestinya, tetap memberikan peringatan dan nasihat dengan kebijaksanaan dan perdamaian kepada Kurawa. Namuan sikap gelap mata telah menutup nilai tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top