
Kayung yun marang slirane, (ꦏꦪꦸꦁꦪꦸꦤ꧀ꦩꦫꦁꦱ꧀ꦭꦶꦫꦤꦺ)
Tansah gumawanging netra (ꦠꦤ꧀ꦱꦃꦒꦸꦩꦮꦁꦆꦁꦤꦺꦠꦿ)
Jro ati kadhung tresna…(ꦗ꧀ꦫꦺꦴꦄꦠꦶꦏꦣꦸꦁꦠꦿꦱ꧀ꦤ)
Tan liya amung sliramu (ꦠꦤ꧀ꦭꦶꦪꦄꦩꦸꦁꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ)
Satemah lara asmara.. (ꦱꦠꦼꦩꦃꦭꦫꦲꦱ꧀ꦩꦫ)
(Kadhung Tresna, Ki Narto Sabdo)
Ngomongin soal cinta, kadang menyenangkan kadang hanya menjadi bualan semata, ini konteksnya tergantung siapa yang sedang menceritakan sebuah makna perjalanan cintanya. Sebab dengan banyaknya teori tentang cinta dari para pakar, apalagi seorang influencer belum tentu menjadi obat dan mulusnya sebuah cinta seseorang. Bahkan dengan cinta dapat menjadi keputusan mengakhiri hidup (bunuh diri) seperti cinta tak sampainya Endang Jarwati kakaknya Resi Jarwodo yang cintanya ditolak Pandu Dewanata, ada menyebabkan orang lain patah semangat karena merasa merana dan dibuang seperti halnya Dewi Amba kepada Dewabrata (Bhisma).
Dalam teori bahwa cinta adalah hidup itu sendiri di dalam kesatuan aktualnya, kata Paull Tillich, yang menandakan bahwa cinta perlu dorongan dan tindakan nyata untuk ditunjukkan kepada obyek yang dituju.
Burisrawa, nama ikonik dalam cerita wayang Jawa, sebagai putra mahkota kerajaan Mandaraka yang nantinya akan menjadi pewaris Mandaraka. Ia merupakan anak ke empat dari lima bersaudara, anak dari Prabu Salya (Narasoma) dengan Dewi Setyawati. Seorang ksatria tangguh yang memiliki keberanian untuk perang tanding, namun sedikit agal dan sombong. Dari kekuatan ilmu perangnya, tidak membuatnya beruntung dalam percintaan.
Sebagai seorang ksatria sejati tentunya menjadi nilai lebih bagi Burisrawa untuk menggaet wanita pujaan hatinya. Namun dalam hal ini, ia tidak bisa mendapatkan sang pujaan hatinya. Karena kisah cintanya yang menarik menjadi sebuah cerita, tentang perjalanan percintaan seorang Burisrawa.
Mbok Bodro, ia menyebut seseorang yang ia cintai. Wanita tersebut adalah Sembadra (Bratajaya) adik dari Baladewa dan Kresna. Saking tergila-gilanya, dia sampai nginceng (memantau) keberadaan Sembadra di manapun ia berada dan mengejar Sembadra. Burisrawa selalu mengigau, “Mbok Bodro, Aku tresno koe mbok”, dengan suara yang keras, penuh kegilaan sehingga apapun yang dipikirkan Burisrawa pada saat itu hanya ada bayangan wajah sosok Sembadra yang ada di pikirannya.
Dalam usaha mendapatkan ayangnya, ia didukung oleh Baladewa, yang tidak lain adalah kakak iparnnya, suami Dewi Erowati (anak pertama Prabu Salya), dengan berbagai jalan bagaimana Baladewa berusaha mendekatkan kepada Sembadra, mendorong untuk segera menikahkannya. Walau sebenarnya Sembadra telah dijodohkan dengan Arjuna, namun dengan berbagai cara Baladewa berupaya menggagalkan perjodohan tersebut. Di pihak lain, Kresna yang juga tidak menghendaki Sembadra dijodohkan dengan Burisrawa. Perseteruan keluarga yang keras untuk sebuah perjodohan. Dengan berbagai petimbangan dari masing-masing kubu menjadikan kerumitan sendiri bagi Burisrawa.
Baladewa mendukungnya dengan pertimbangan, bahwa cinta yang sungguh-sungguh dan ia akan mewarisi tahta Mandaraka, maka Sembadra kan menjadi ibu negara (permaisuri). Kedudukan sudah jelas di depan mata. Namun Kresna menganggap kalau Sembadra menikah dengan Burisrawa ia akan menjadi putri yang tidak diayomi oleh suaminya, karena dengan sikap arogan yang ada pada Burisrawa sehingga ada kekhawatiran dari Kresna akan nasib adiknya itu, Kresna sendiri akan menikahkan sembadra dengan Arjuna (Janoko).
Ketika pada waktu Sembadra sedang berada di taman Kaputren Madukara, Burisrawa menemui Sembadra dan memaksa untuk menikah dengannya, padahal Sembadra sudah menjadi istri Arjuna. Sembadra terus menolaknya, karena geram Burisrawa mengeluarkan senjata untuk menakutinya, bukannya takut, demi menjaga harga diri dan kehormatan, Sembadra menabrakkan diri ke senajata yang dibawa Burisrawa, matilah Sembadra meregang nyawa. Karena ketakutan, Burisrawa berlari melompati pagar Kaputren, maka gegerlah keluarga besar Madukara terlebih Kresna. Karena tidak tahu siapa yang masuk ke taman dan menyebabkan terbunuhnya Sembadra, dengan cermat Kresna memerintahkan agar jasad Sembadra dihanyutkan (dilarung) ke Sungai Yamuna utnuk mengetahui siapa yang membunuh adiknya. Kemudian Kresna memerintahkan Gatotkaca untuk mengawasi ke mana arah jalannya jasad Sembadra dan menangkap siapa pembunuhnya.
Pada waktu bersamaan munculnya Antareja, ia meminta kepada ibunya Nagagini dan Dewa Ular (Antaboga) kakeknya, untuk menemui dan mencari bapaknya yaitu Werkudara. Ketika sedang menyusuri hutan lewat sungai, Antareja melihat mayat Sembadra di dalam kapal yang dilarung, didekatilah kapal tersebut ada seorang wanita di dalamnya, yang ternyata sudah meninggal, kemudian ia memercikkan air pusaka Tirta Mustikabumi pemberian kakeknya, kemudian Sembadra dihidupkan oleh Atareja dengan Tirta Mustikabumi tersebut. Di saat bersamaan Gatotkaca yang memantau dari atas, melihat Antareja mendekat ke Sembadra dan ia menuduh Antareja yang telah membunuh Sembadra. Tidak terima dengan tuduhan tersebut, akhirnya terjadi perang tanding antara Antareja dengan Gatotkaca. Saat sadar dan hidup kembali melihat pertarungan, Sembadra lantas memisahkan keduanya, dan bercerita bahwa yang membunuhnya adalah Burisrawa.
Dari cerita Sembadra, Antareja berubah (menyamar) menjadi Sembadra dengan ajian Kawestrawan untuk menjebak Burisrawa muncul. Benar dengan jebakan Sembadra palsu yang sedang bernyanyi dengan merdu dari kapal, terdengarlah suara nyanyainya ke telinga Burisrawa dan masuklah Burisrawa ke perangkap ini, ia mendekat kepada Sembadra palsu, menggodanya lagi dan mengajak Sembadra menjadi istrinya dan tinggal di Mandaraka, Sembadra palsu menuruti permintaan Burisrawa, namun di dalam perjalaan si Burisrawa dipukul oleh Sembadra KW tersebut. Burisrawa tertangkap tangan oleh Antareja dan Gatotkaca, kemudia diserahkan ke Sembadra dan dibawa ke Madukara. Ia disidang oleh Kresna, para Pandawa dan juga Baladewa, yang malu dan kecewa atas perbuatan Burisrawa. Ia selamat dari hukuman berkat keikhlasan Sembadra dan Arjuna bersedia memaafkan Burisrawa. Ia selamat tapi masih menyimpan rindu, dendam, dan keangkuhan untuk memiliki yang tidak pernah habis.
Kisah yang menunjukkan bagaimana sikap manusia bersedia untuk menerima sebuah perjalanan takdir adalah kunci keselarasan hidup. Kesombongan, keangkuhan, dan keserakahan akan melenyapkan seseorang, bagaimanapun kekuatan yang dia miliki. Bersedia merelakan untuk melepaskan yang memang bukan bagian dari hidup kita, supaya dapat menikmati hidup dengan tanpa bayang-bayang dan gangguan yang sejatinya tidak berarti.
Penolakan atas sesuatu adalah bentuk yang wajar, dalam teori ekonomi supply and demand menjadi hukum alam yang realistis. Permintaan dan penawaran akan bertemu jika pasar sama sama membutuhkan. Ketika bertemu dalam satu titik equilibrium maka keterikatan jodoh akan terwujud, namun jika pasar tidak cocok, apalah jadinya. Kalau dipaksakan akan ada pihak yang merasa tidak diuntungkan dan akan timbul ketidak harmonisan dalam sebuah hubungan antar manusia. Berjalanlah dengan wajar, agar tidak terbelenggu oleh perasaan yang mengikat.
Cintailah seseorang dengan sewajarnya, karena yang berlebihan akan cepat berubah bentuk rasanya.. katanya begitu…

Miftakhul Saleh adalah penulis yang berasal dari Wonosobo. Kini Ia menekuni pertanian organik.




