Surat untuk Gadis Mandailing

: Tentang runcing resah yang menikam

Hei gadisku, malam ini manis dalam cangkir kopiku tak mampu melarutkan segala resah yang meresap di keningku. Tentu kamu tahu dari layar gawaimu, banyak berita tentang hal-hal baru yang lahir dari balik gedung di Senayan — gedung yang dindingnya dingin dan bebal untuk ditembus parau teriakan kita. ​Tentu kamu sangat mengerti, melalui surat ini aku ingin meletakkan kepalaku di pelukanmu; peluk yang rimbun, serimbun hutan adat penjaga ekosistem alam. Aku ingin mengalirkan semua rasa menuju seluruh pori-porimu: pori-pori yang jadi telaga bagi deras resahku menemukan purna muaranya, sebab. 

ialah kamu kiblat hatiku,
di mana pun kakiku berpijak
padamu rinduku menghadap

ialah kamu liang lahatku,
ke mana pun ragaku bertualang
padamu tempatku berpulang.

​Hari-hari tak henti membuat kita semakin kuat, atau mungkin lebih tepatnya dipaksa menguat. Luka telah menjadi sarapan kita tiap pagi, bukan karena kita saling menikam. Namun kerap kita temui, setiap hari di Indonesia, kita tidak hanya mengunyah nasi dan tempe goreng sisa kemarin, tapi juga terpaksa menelan kebijakan-kebijakan yang pahit di lidah lalu perlahan meracuni badan kita. Kita menelan harga bahan pokok yang terus meninggi dalam diam. Kita menelan pajak yang makin hari makin keras dikunyah, makin susah dicerna oleh lambung kelas pekerja. Tapi setiap kali kita menghabiskan malam berdua, lobang-lobang di sepanjang aspal jalan desa terus mengguncang, guncangnya gedorkan bunyi dalam tempurung kepala kita: ke mana menguapnya keringat rakyat yang diwajibkan itu. Guncangnya melebihi guncangan dada kita saat kita beradu pandang dalam rangka membagi rindu.

Gadisku, tentu masih melekat dalam gendang telingamu, waktu mereka bilang akan mempermudah hidup kita dengan teknologi. Tapi yang kita dapati justru birokrasi berpindah ke aplikasi, mengekang ruang tempat kita dulu bebas menuangkan mimpi: mimpi tentang bunda pertiwi yang tak merelakan data anak-cucunya berceceran di internet seolah nyawa digital kita dijual murah di pasar internasional. Bibir mereka tak henti berbicara tentang kemajuan, namun lambung mereka terus mekar menelan dana pendidikan dengan kurikulum yang berubah-ubah mengikuti egosentris pimpinan, membiarkan anak cucu pertiwi kelaparan intelektual.

Gadisku kamu tentu masih ingat gema di kepalamu, yang timbul dari keyakinan kalau mereka sedang menderita amnesia kolektif akut. Mereka pikun pada janji-janji romantis yang mereka bingkai di pasar-pasar becek saat kampanye dulu. Namun setelah duduk di kursi empuk yang dibalut kulit para petani, telinga mereka mendadak tersumbat himne-himne kekuasaan. Mereka kini gemar berbicara dengan angka pertumbuhan ekonomi yang konon katanya membaik. Namun nyatanya, di dompetmu dan dompetku hanya berisi daun kering dari hutan adat yang lama-lama hilang berganti kebun-kebun minyak, tanpa peduli isi dompet kita menebal oleh kertas hutang mie instan dari warung Mpok Ipeh yang seringkali mati listrik, warung kaki lima di trotoar alun-alun kota. Sebuah warung di mana pikiran Edward Bellamy dan puisi-puisi Wiji Tukul berkelindan di antara lagu-lagu Joan Baez saat malam yang keroncongan kita ganjal dengan sastra dan sejarah.

Kemarin kita dengar pidato-pidato propaganda tentang lingkungan, sayang. Banyak hutan-hutan dikonversi menjadi angka investasi. Napas kita sesak oleh asap, tapi mereka selalu bilang itu adalah aroma kemajuan. Ah, itu aroma kekayaan untuk mereka, bukan untuk rakyat seperti kita. Mereka membangun Ibu Kota baru di atas tanah yang katanya tempat membuang jin, sementara di Sumatra hingga Maluku, Papua, dan daerah lainnya, rakyat diajak berenang dalam air mata setiap kali alam sedikit saja merekonstruksi ekosistemnya. Terlalu keras kepala, padahal semestinya keras kepala milik kita, yang mengeras oleh yakin untuk terus mencintai. Memang terlalu kronis, seolah mereka bisa menyusun cuaca dan mengatur tanah pusaka dengan pasal-pasal karet.

​​Gadisku mungkin hanya di warung kopi, di pinggir-pinggir jalan, tempat sebenar-benarnya romantis bagi demokrasi di negara ini. Di sana, di bawah temaram lampu kuning dan bau asap tembakau tak bercukai, kita membicarakan kejamnya egosentris kepentingan. Hanya di sana rakyat bisa tertawa oleh plot twist komika-komika konstitusi, di saat para aktornya seringkali menyuguhkan lawakan-lawakan yang membuat ingatan mereka lupa akan nama Affan Kurniawan dan nama-nama yang hilang sejak 98. “Negara yang menggemaskan”  katamu kapan hari, sambil menyesap kopi hitam beraroma keringat dari bukit-bukit nan jauh. Namun jelas melalui matamu aku merasakan gemas yang mendidih. Gemas yang membuat kita ingin marah, tapi marah terlalu biasa. Mungkin kita perlu lebih tajam, setajam hukum yang runcingnya memotong lidah 11 warga masyarakat adat di Maba, Sangaji, Halmahera Timur. Sementara lidah mereka, penghisap uang rakyat bermiliar-miliar, dengan bangga masih bicara manis di depan kamera sambil mengenakan rompi jingga, namun bukan jingga dari senja yang kerap kita nikmati berdua, bukan pula dari senja di langit Kanjuruhan. 

Di negara yang seperti ini sayangku, mencintaimu adalah satu-satunya kejujuran yang masih bisa kulakukan dengan bebas. Karena di luar sana, segalanya diatur, diawasi, dan sering dikriminalisasi hanya karena kita terlalu jujur. Dikriminalisasi dengan aturan-aturan yang mencoba menyeragamkan pikiran kita, mencoba menjadikan kita rakyat yang patuh tanpa boleh bertanya mengapa.

​Sementara harga rumah makin melangit, setinggi apartemen mewah di Ibu Kota dengan kebijakan perumahan seolah-olah hanya dibuat untuk para spekulan, sementara kita yang terus berjalan menuju pulang, dipaksa membangun rumah sendiri dalam imajinasi. Mereka bilang kita malas menabung, padahal negara terus-terusan menyuguhkan hal-hal konsumtif tanpa lapangan kerja, tanpa upah yang bisa ditabung. Oleh sebab itu sayang, mari kita terus menumbuhkan hal-hal manis. Di tengah lintang-melintang regulasi yang carut-marut ini, tumbuhkan ruang manis di sudut sempit dalam sunyinya malam. Ruang manis di mana kita bisa bicara jujur tanpa perlu merasa takut dibayangi pasal penghinaan. Ruang di mana lembut belaianku bisa dengan tenang menyisir urai rambutmu, meskipun negara terus menekan; kita akan terus bertahan. Sebab aku dan kamu adalah semesta yang tak bisa mereka rampas. ​Semesta yang terus mengembang di dalam pelukku dan pelukmu, bukan dalam pelukan negara.

Kamu benar, negara ini terlalu penakut untuk menampung cinta kita berdua. Sebab cinta yang jujur akan membuat negara jatuh tersungkur. Meski berat, kita harus terus berdikari. Kita mesti terus menghembuskan gelombang nafas di tengah badai konstitusional, sebagai bentuk antitesis dari warung-warung kopi, dari pinggir jalan, antitesis dari nafas yang paru-parunya muak dengan asap knalpot yang bising tiap malam. Selain itu tentu kamu perlu tau satu hal sayang, ​meski arah kebijakan berubah setiap menteri berganti, tapi arah langkahku akan terus menujumu, telaga jernih di balik bukit barisan — tempat untukku pulang. Ketika mereka terlalu sibuk dengan keras kepalanya, dengan tuli yang mereka ternak, dan dengan bebal yang takan henti kita hantam. Tentu kadang kita lelah, aku pikir itu manusiawi, dan beruntungnya kita masih punya sepasang peluk di sini. Peluk yang hangatnya bukan dari aspal dan beton hasil utang luar negeri.

Gadisku biarkan robekan luka akibat tikaman negara itu sembuh di dalam sepasang hangat pelukan kita. Kita mesti saling menguatkan, sebab kita masih akan menghabiskan malam dengan rindu yang melipat jarak geografis, mungkin saja kita juga masih akan berbagi kenyataan dengan dosis kepahitan yang sama, atau mungkin dosisnya makin meninggi, setinggi rinduku yang terus mengelus langit-langit hatimu. Tentu kita akan tetap meminum pekat kopi, tetap mengayuh di atas gelap arus kekacauan ini. Karena bagi kita, Indonesia melampaui sebuah negara, ia adalah paru-paru ke tiga — tempat nafas dan harapan menuntun kita pada makna sebenar-benarnya makna. Makna tentang hidup, tentang bertahan, serta tentang memahami keberanian. Bukan makna yang disuguhkan mereka yang selalu saja melawan logika manusia. Tentu kamu sadar betul akan hal itu, itu sebabnya aku memilihmu.

​”Jika hari ini negara menikam kita, akan selalu ada tanganku yang membebatnya. Percayalah dalam setiap retak luka yang kita alami, akan menyala api keberanian: berani untuk hidup lebih lama.”

Gadisku di sini pagi sudah mulai merekah. Mungkin saja sarapan luka itu masih akan tersaji di meja makan, di dalam layar gawaimu. Meski begitu ingin kupastikan satu hal, aku akan terus mencintaimu, cinta yang mungkin kadang pahit namun utuh dari sekepal hati, bukan cinta gula-gula yang mekar dari bibir birokrasi. Gadisku demikian surat ini kutulis di tengah tikaman-tikaman resah, di tengah sepi menuju ujung malam, ujung yang selalu menjadi awal rinduku padamu. 

Aku menyayangimu utuh, Gadis Mandailingku.

Kebumen, 04 Januari 2026.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top