
Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil-hamd. Bacaan takbir telah berkumandang pada tiap-tiap masjid maupun surau hampir di semua penjuru Desa Klahang, hal ini menunjukan hari kemenangan sudah di depan mata yang berarti telah genap menjalani ibadah puasa selama 30 hari.
Tidak hanya takbir yang berkumandang, biasanya ditambah dengan bumbu–bumbu perayaan lainnya untuk menyambut bulan syawal tersebut, masing–masing daerah mempunyai cara atau budaya-nya tersendiri untuk melakukan perayaan hari kemenangan itu. Contohnya seperti di daerah saya, Desa Klahang melakukan perayaan malam 1 Syawal dengan diramaikan pawai obor serta tabuh kembang api yang ikut meramaikan langit tepatnya pada 20 Maret 2026 malam harinya.
Kegiatan tersebut diadakan oleh organisasi karang taruna yang ada pada Desa Klahang, Perayaan tersebut tidak memerlukan persiapan yang begitu rumit, pasalnya dengan bermodalkan bambu yang dipotong–potong dan berukuran sama serta mengumpulkan kain–kain bekas untuk nantinya direndam pada minyak tanah yang dijadikan sebagai sumbu nyala api. Di tempat kami perakitan dari semua bahan diatas dinamakan dengan obor. Ternyata adanya perayaan pawai obor selaras dengan yang saya temukan yakni dalam kajian Islam Nusantara, praktik seperti pawai obor merupakan bentuk akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya lokal yang berkembang di masyarakat. Tradisi ini tidak hanya menjadi ekspresi kegembiraan religius, tetapi juga sarana internalisasi nilai-nilai keislaman seperti kebersamaan, akhlak sosial, dan semangat kolektif.
Langkah awal anggota karang taruna tersebut bergotong royong untuk mengumpulkan alat dan bahan pembuat obor, karena saya tinggal di desa jadi masih banyak kebun yang menanam dan ditanami bambu, apalagi kalau kebun tersebut dekat dengan mata air pasti banyak bambu–bambunya. Kemudian salah seorang dari anggota ormas tersebut mencari chanel pemilik kebun bambu dengan tujuan dimintai izin untuk menyumbangkan sedikit pohon bambunya agar dijadikan bahan pembuat obor.
Setelah bambu–bambu sudah didapatkan dan dipotongi sesuai ukurannya, tinggal mencari minyak tanah beserta kain untuk direndam dan di jadikan satu dengan minyak tanah tersebut, pencarian minyak tanah dan kain tidak luput dengan channel dari masyarakat yang memang ada dan mempunyai kenalan untuk memudahkan mencari dua hal tersebut. Pencarian kain biasanya pemuda menyisir masyarakat dengan mata pencaharian sebagai penjahit atau yang berkecimpung dalam bidang konveksi, karena sebagian besar sisa – sisa kain hasil jahitan atau konveksi bisa dan masuk kategori kain yang digunakan untuk menjadi sumbu api pada obor.
Menurut penuturan salah seorang anggota pemuda yang saya tanya–tanya, bahan–bahan seperti bambu dan kain, bisa didapatkan secara gratis dan tanpa pamrih dari orang yang memberikan sumbangan, mereka hanya perlu menyiapkan medangan untuk orang yang berjibaku dalam proses persiapan pembuatan obor tersebut.
Proses persiapan biasanya dilakukan malam hari setelah kegiatan salat tarawih selesai dilakukan, khusus penebangan pohon bambu dilakukan pada siang hari, karena yang saya tahu jika kita akan mengolah pohon bambu perlu dilakukan perendaman dan pencucian bambu tersebut, karena dalam lapisan luar pohon bambu banyak terdapat lugut, pasalnya jika benda tersebut menempel pada kulit, benda tersebut akan menancap dan menimbulkan efek sakit disertai gatal, dan wujud benda tersebut digolongkan benda yang kadang tidak terlihat oleh panca indra kita. Maka dari itu dilakukan proses perendaman agar si lugut tersebut bisa mudah untuk dihilangkan, proses pembersihannya dengan metode menggosok dengan menggunakan pelepah pohon bambunya atau bisa menggunakan amplas.
Lanjut yakni proses penggandaan minyak tanah, dikarenakan bahan bakar ini yang pada zaman sekarang sebagian besar orang tidak lagi menggunakan, ditambah pada masa–masa banyak orang yang mengadakan pawai obor sehingga meningkatkan permintaan minyak tanah dan menyebabkan kelangkaan sehingga dalam prosesnya memerlukan pencarian yang lumayan lama, jika ada yang menyediakan biasanya dibandrol dengan harga yang lumayan, oleh karena kondisi seperti ini pengadaan minyak tanah dipersiapkan jauh–jauh hari sehingga pada saat waktu yang mepet tidak menimbulkan kecemasan bahkan chaos.
Persiapan dan perakitan obor biasanya memakan waktu dua sampai tiga malam tergantung proses pengadaan dan penyediaan barang–barang tersebut, terkecuali pengadaan minyak tanah. Setelah semua bahan lengkap dan semua mekanisme telah maka tindak lanjutnya adalah proses pendistribusian. Hal tersebut dilakukan pada malam satu Syawal-nya yang pada keesokan harinya menjalankan ibadah salat id.
Prosesi pembagian obor masih diberlakukan siapa datang cepat ia yang berhak mendapat bagiannya, karena keterbatasan bahan bakar minyak tanah yang menjadikan penyesuaian pembuatan obor. Rata–rata yang mendapat obor adalah anak–anak kecil tanggung dan remaja tanggung. Ada yang sampai membawa obor sendiri untuk ikut dalam pawai tersebut. Ada juga remaja–remaja tanggung yang membawa minyak tanah sendiri untuk keperluan akrobatik dalam pawai obor, yakni dengan melakukan penyemprotan minyak tanah ke obor yang menjadikan api pada obor berkobar dan besar namun sesaat, biasanya dilakukan dengan arah ke atas yang dipastikan tidak di dekat aliran kabel listrik.
Selain ada rombongan pawai obor, ada juga rombongan penonton yang mengikuti pawai, dari mulai jalan kaki sampai dengan menaiki motor, selain itu ada penonton yang sengaja menunggu di persimpangan jalan yang dilalui pawai tak lain tak bukan untuk menyaksikan salah satunya akrobatik dari obor tersebut.
Lain daripada itu, selain ada pawai obor ada pula kolektif orang yang sengaja membeli petasan atau kembang api untuk memeriahkan pawai obor tersebut, mulai dari yang hanya sebutir kelereng yang dinyalakan mengeluarkan bunyi bising hingga petasan yang kalau dinyalakan seperti seperti rudal yang meluncur dan meledak di langit malam. Ada yang senang-bahagia melihat cahaya warna warni di langit malam karena proses petasan tersebut, dan ada pula yang menangis keras/ histeris karena ketakutan akan suara dan pancarannya, biasanya yang merasakan ketakutan adalah anak–anak dengan status balita (bayi di bawah lima tahun).
Tradisi pawai obor yang dilakukan masyarakat di desa saya tidak hanya menjadi bentuk perayaan semata, tetapi juga mencerminkan nilai gotong royong yang masih kuat terjaga. Hal ini terlihat dari keterlibatan pemuda dan masyarakat dalam mempersiapkan bahan secara bersama-sama tanpa pamrih. Dalam kajian budaya Islam di Nusantara, praktik seperti ini dipahami sebagai bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan tradisi lokal yang berkembang di masyarakat. Pawai obor tidak hanya menjadi simbol kegembiraan, tetapi juga media untuk memperkuat solidaritas sosial dan identitas kolektif masyarakat. Antusias dari kegiatan ini dirasakan dan disaksikan oleh sebagian besar masyarakat desa, karena kegiatan ini diadakan hanya pada malam satu Syawal saja pada tiap–tiap tahunya.
Pada tanggal 21 Maret 2026 saya tuangkan sedikit cerita yang didapatkan pada penghujung ramadan pada tahun ini, semoga dengan adanya catatan kecil ini bisa menjadi cuitan kecil di masa mendatang kelak, karena bisa menceritakan bagaimana keasyikan dan kegembiraan menyambut bulan syawal setelah menunaikan ibadah berpuasa kurang lebih 30 hari lamanya.
Guntur Awal berasal dari Sokaraja, Banyumas-sebuah kota yang terkenal dengan getuk, soto, dan mendoannya yang legendaris. Saat ini ia merupakan mahasiswa aktif di UIN SAIZU Purwokerto pada Program Studi Manajemen Dakwah. Sapa langsung di Instagram: @Gunsss_03.




