Syawal 1447 H: Dari Lebaran hingga Al-Baqoroh Farm

Bulan Syawal menjadi momentum untuk silaturahmi dan bermaaf-maafan. Tentu hal ini dikarenakan adanya perayaan Idul Fitri atau yang akrab juga dengan sebutan lebaran. Ada juga yang menyebut lebaran kecil, sedang idul adha disebut lebaran besar. Eits, bukan lingkaran kecil – lingkaran besar loh ya…  Tapi yang jelas, meminta maaf dan memaafkan tak harus nunggu lebaran. Adegan meminta maaf idealnya dilancarkan secara seketika, sewaktu kita berlaku salah. Sedang memaafkan atau memberi maaf dilepaskan sesaat selepas kata “maaf” terucap. Sulit? Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin.

Meminta maaf tak ubahnya seumpama tahu bulat yang digoreng dadakan. Tak perlu sebuah perencanaan baik besar-besaran maupun kecil-kecilan. Sewaktu-waktu kita menuai kesalahan baik sengaja ataupun tidak, saat itu juga kita mengaku salah dan secepat mungkin meminta maaf. Kalaulah bisa melebihi kecepatan oknum perampas korek api saat tongkrongan terjadi dan secangkir kopi tersaji. Barangkali adegan mengaku salah cum prosesi meminta maaf adalah adegan anak kecil yang sulit dilakukan oleh orang dewasa.

Kali ini saya hendak bercerita perihal pengalaman lebaran yang mungkin agak laen. Umumnya, orang-orang setelah berlebaran dan bersilaturahmi lantas plesir ke sebuah tempat wisata yang memang benar-benar untuk berwisata. Tapi kali ini, selepas drama silaturahmi selesai, justru saya berwisata ke sebuah peternakan sapi. Alih-alih wisata ke pantai, justru kandang sapi yang jadi tempat rekreasi.

Sowan Lebaran 1447 H

Salah satu tradisi dalam lebaran idul fitri adalah silaturahmi atau silaturahim. Sebuah ritual berkunjung ke tetangga rumah, sanak-kerabat, kakek-nenek, guru-guru, teman-teman, mertua (bahkan ada juga yang ke rumah calon mertua), om-tante, dan pakde-bude dan lain-lain. Bukan untuk memperjuangkan THR – mungkin bagi sebagian orang diartikan Tunjangan Hari Raya, tapi bagi sebagian yang lain bisa berarti Tanggungan atau Tuntutan Hari Raya – melainkan agar tali persaudaraan dan keterkoneksian lahir-batin semakin erat terjalin.

Dalam kearifan lokal Jawa, silaturahmi ke orang yang lebih tua atau lebih terhormat, seumpama cucu ke kakek-neneknya, anak ke orang tuanya, dan murid ke gurunya, bisa disebut dengan istilah sowan. Hal ini saya lakukan bersama teman-teman seperguruan pada hari kedua Syawal 1447 H. Dari Kebumen bertolak ke Al-Iman Bulus-Purworejo bersama teman seperkopian untuk sowan ke Ustadz Hasan bin Agil Ba’abud.

Sesampainya di ndalem beliau, kami disambut dengan segelas teh hangat beraroma kasih dan seabrek kudapan dengan varian rasa sayang. Beliau berpesan kepada kami – yang notabenenya sedang dalam usia produktif untuk bekerja – “Wes kerjo opo wae sing penting ojo sampe nganggur”. Seperti gula yang diaduk dalam teh hangat, pesan tersebut melebur ke dalam hati kami.

Peternakan Sapi, Al-Baqoroh Farm

Seusai menunaikan ibadah persowanan, kami pun menemui teman sejawat yang saat ini berstatus sebagai manager di Al-Baqoroh Farm. Al-Baqoroh Farm merupakan peternakan sapi yang ada di dalam Pondok Pesantren Al-Iman Bulus, Gebang, Purworejo. Peternakan sapi yang langsung dikelola oleh santri. Mulai dari pergulatan kandang, suplay makan-minum, hingga ihwal pemasaran, bahkan ajang perkontesan sapi, semuanya diatur sedemikian rupa oleh para santri yang mengabdi di bidang tersebut.

Secara disadari ataupun tidak, di sini santri diajari dan belajar tentang keterampilan berternak khususnya sapi. Karena bagi Ustadz Hasan (selaku pengasuh PP. Al-Iman Bulus), selagi orang memiliki sebuah keterampilan atau skill, ia tidak mati ditelan zaman. Sekalipun zaman seperti telek yang keluar dari dubur ayam yang bentuknya selalu berubah-ubah, ketika seseorang mempunyai skill dalam hidup ia tak akan mudah untuk berputus asa, sombat-sambat, dan klemar-klemer tanpa semangat.

Di Al-Baqoroh Farm, sapi-sapinya beragam, ada sapi lokal, simental, dan belgian blue dll. Di sini kebersihan sapi dan kandang menjadi bagian dari skala prioritas setelah pasokan makanan-minuman. Demi menjaga kesehatan sapi, setiap pagi dan sore, kandang dibersihkan secara teratur. Maka tak heran kemudian, jika berat sapi di sini bisa mencapai 8 kwintal, 9 kwintal, dan bahkan ada yang mencapai 1,2 ton.

Salah satu pengalaman kali pertama yang saya alami di Al-Baqoroh Farm adalah menaiki sapi yang beratnya 1,2 ton yang diberi nama “Gobel”. Mula-mula hanyalah ketakutan yang terpahat di dinding hati, akan tetapi saya coba untuk memberanikan diri untuk melawan ketakutan tersebut dan ternyata berhasil. Memang diawali dengan beberapa percobaan, namun akhirnya berani juga. Mung numpak sapi wae senenge ra umum. Artinya setiap eksperience yang belum pernah kita alami sebelumnya dan ternyata kita sendiri mampu untuk melakukannya, itu adalah kesenangan tersendiri yang belum tentu semua orang miliki.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top