Bersama Seno Gumira Ajidarma: Perihal Wiper, AT Center, dan Selembar Sarung

Dalam foto dari kiri ke kanan: Fajrul Alam (berdiri), Bapak Ahmad Tohari, Ibu Ike, Ibu Syamsiah, Bapak Seno Gumira Ajidarma, Kiki (berdiri).

Awan kelabu menghiasi langit yang menaungi UIN Saizu pada Jumat, 24 Oktober 2025. Hujan sudah turun sejak siang, menyisakan gerimis di sore harinya. Walaupun pagi hari terbentang langit yang biru, tak sekalipun awan kelabu, namun manusia bisa apa di hadapan Sang Maha Kuasa. Meski sudah ada alat untuk memprediksi cuaca, nyatanya masih saja dan sangat mungkin keluar dari prediksi. Apalagi suatu hal yang belum ada alat bantu untuk memprediksinya. Cinta, umpamanya. Ketoke dekne perhatian, tiba e mung mergo kasihan. Wkwkwk.

Waktu itu, saya dan satu teman dibebani tugas untuk menjemput seorang sastrawan beserta istrinya di Stasiun Purwokerto. Dia diundang sebagai Speaker Kebudayaan untuk acara Narasikata 2025 yang diadakan pada Sabtu, 25 Oktober 2025 di UIN Saizu Purwokerto. Acara yang merupakan perasan keringat dari teman-teman Dema FTIK UIN Saizu, sebagai pemain kunci atau striker dan BIL Fest, sebagai pemain sayapnya.

Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman membersamai sosok di balik “Sepotong Senja untuk Pacarku” beserta istri tercintanya selama di Purwokerto. Kota yang kata sebagian orang cukup nyaman untuk menemani masa senja. “Purwokerto iku ga semrawut, Mas. Tur yo enak juga. Panas dikit bisalah main ke Baturaden buat pendinginan”, kata sebagian teman.  

Wiper mati dan gerimis di malam hari

Jumat sore yang tidak terlalu hujan. Sebut saja gerimis, tapi gerimis yang tak teramat deras, yang ketika kita berjalan di bawahnya tak menimbulkan rasa cemas. Lain halnya dengan laku satu-dua pemangku jabatan yang acap kali cukup cakep berakting cum cakap dalam menimbulkan “harap-harap cemas.” (Eh maaf, kalau benar). Saya dan seorang teman bernama Kiki, bertolak dari UIN Saizu ke Stasiun Purwokerto – menggunakan mobil yang disediakan dari panitia – untuk menjemput Seno Gumira Ajidarma (SGA) dan istrinya (Bu Ike), yang tiba di Purwokerto pukul 18.10 WIB.

Sewaktu kami berangkat dari UIN Saizu, tak ada persoalan sama sekali. Namun selang beberapa menit kemudian, awan di langit kian bergumuruh. Gerimis yang tadinya tak sekalipun menimbulkan kecemasan, sekarang cukup piawai melahirkan kecemasan. Sontak seketika, saya menyalakan wiper mobil agar pandangan tidak kabur oleh gerimis yang tak diundang. Saya tarik ke atas tuas penggerak wiper, tapi hanyalah diam terpaku, wiper tersebut. Saya coba tarik ke bawah tuas penggerak wiper, tapi justru yang bergerak cepat adalah jantungku. Barangkali saya yang belum tahu cara menyalakan wiper di mobil ini. Tapi setahu saya, hampir semua mobil caranya sama dalam menghidupkan wiper. Saat itu, hanyalah gas lembut-lembut yang bisa saya lakukan. Berhenti bukanlah solusi, karena harus sampai di stasiun sebelum waktu kedatangan kereta, 18.10 WIB.      

Sesampainya di stasiun, saya langsung mencoba kembali wiper mobil dan me-ngotak-atik-nya. Sedang teman saya berjibaku dengan ponselnya untuk meminta bantuan kepada panitia maupun teman yang sekiranya ada mobil ia punya. Namun segala bentuk upaya, berakhir hampa. Melihat waktu sudah menunjuk pukul 18.10 WIB, kami pun segera menuju ke pintu penjemputan. Sementara rintik hujan masih tabah turut menyemai malam. Selang beberapa menit kemudian, muncullah pria bertopi hitam, berpostur tinggi dan kekar, layaknya panglima tentara berikut dengan seorang perempuan berkacamata dan berparas jelita.  

Sudahlah kami masuk mobil, tapi kondisi wiper masih membisu. Tak bisa dipungkiri, kegelisahan, kekhawatiran, kecemasan sudah seumpama es campur. Teraduk sempurna. Lebih-lebih SGA memilih duduk di depan dan teman saya membersamai Bu Ike, duduk di barisan kedua. Bergeraklah kami dari stasiun menuju warung makan dengan penuh kehati-hatian. Wiper masih saja tertidur, sedang gerimis masih terjaga dan kian turun temurun seumpama kekuasaan. Eits, sekali lagi maaf.

Di dalam mobil, SGA yang menghasrati menikmati malam Purwokerto dihiasi lampu kotanya berujung keinginan belaka. Tak ada yang bisa dilihat kecuali titik-titik gerimis yang justru mengaburkan pandangan dan mumeti. Hanyalah keringat dingin membasahi sekujur lahir-batin selama perjalanan menuju warung makan.

Mobil kupacu sebagaimana sepeda melaju. Pelan, pelan, dan mbaeh pelan. Kepanikan sudah barang pasti, tapi tenang merupakan ciri sorang pemenang. Berkat pertolongan-Nya, sampailah di warung makan dengan selamat sentosa. Bergegaslah saya menukar mobil dengan mobil teman yang sedari tadi sudah ready guna reservasi meja makan. Dalama hati saya, “Akhire iso ambekan di atas tekanan… Huh…”.    

SGA dan AT di Ahmad Tohari Center

Sabtu, 25 Oktober 2025 adalah acara utama SGA di Purwokerto, yakni dialog kebudayaan di event Narasikata 2025 yang digelar oleh DEMA FTIK di UIN Saizu Purwokerto. Kami jemput beliau dari hotel menuju UIN Saizu dengan gegap gempita. Dalam dialog kebudayaannya, SGA menyampaikan tentang definisi budaya yang kerap dikerdilkan maknanya oleh orang kebanyakan. Seringnya kita memahami budaya (contohnya dalam lingkup Banyumas) adalah lengger, ebeg, kentongan, dan sebagainya. Tapi SGA memaparkan bahwa budaya adalah segala hal yang bukan alam. Dengan kata lain segala hal yang dilakukan dan diperbuat oleh manusia tak lain adalah budaya. Masuk kelas telat, juga sebuah budaya (jika ada). Jadi, budaya itu luas. SGA juga menyampaikan, “Ketika pendangkalan berkuasa, pendalaman harus bekerja.”

Selepas acara di UIN selesai, SGA dan istri menghendaki untuk bersua dengan kawan lamanya. Tak lain adalah Eyang Ahmad Tohari (AT).  Namun karena acara selesai dan masih ada waktu yang longgar, bertolaklah kami menuju At Home Coffee & Books karena SGA jebule pingin ngopi dan dari tadi belum kesampean. Sesampainya di At Home, sembari menunggu kopi tersaji ready, SGA tegap berdiri di depan rak buku, dibacanya satu-dua buku dengan mata berbinar menyala. Ini persis seumpama saya di depan Soekarno-Hatta yang tersenyum ramah di selembar kertas merah. Hehe.    

Setelah perjamuan kopi selesai, beranjaklah kami menuju Tinggarjaya, tempat di mana AT berkarya dan turut memberikan warna pada sastra Indonesia. Sesampainya di Ahmad Tohari Center, kami berempat (SGA, Bu Ike, Kiki dan saya) disuguhkan dengan gorengan, kopi, dan kudapan lainnya. Selang beberapa menit kemudian, AT pulang dari kegiatannya mengisi acara di suatu tempat. Mereka berdua (SGA dan AT) saling bertukar kabar dan bernostalgia tentang kisah lamanya sewaktu SGA bermain ke Tinggarjaya. Saya semacam sedang dipertontonkan fenomena dua singa yang bersua dan saling bergembira setelah sekian lama tak berjumpa karena bergelut dengan pengembaraannya masing-masing.

Sementara Bu Ike cukup senang dengan kesempatan bisa bersilaturahmi ke kediaman AT. Bahkan Bu Ike diajak berkeliling – oleh pihak keluarga AT – di sekitar komplek rumah, melihat tanaman-tanaman khas pedesaan sambil saling bertukar cerita. Sesaat sebelum pulang, ada seekor kunang-kunang yang turut menyapa SGA dan Bu Ike, semacam memberi salam pamit. Bu Ike tampak bahagia bisa melihat kunang-kunang. Yo mungkin karena di Jakarta sangat sulit untuk menjumpai kunang-kunang, jadinya beliau senang kepalang. Kami pun pulang dari AT Center dengan segenap perasaan lego dan sumringah.

Di balik selembar sarung

Hari Minggu yang selalu ditunggu-tunggu oleh orang kebanyakan, ngga ada angin ngga ada hujan, tiba-tiba telepon saya mak klunting dan muncul notifikasi pesan WA yang bunyinya, “Ini ada oleh-oleh dari Bu Ike.” Sontak saya terkejut dan terkaget-kaget ria. Bisa-bisanya seorang tamu justru yang memberikan oleh-oleh atau mungkin enaknya disebut kenang-kenangan saja. Sepanjang saya driveri tamu undangan di acara literasi yang bersinggungan dengan BIL Fest belum pernah sama sekali ada sesosok tamu yang begitu baiknya memberikan kenang-kenangan. Dalam hati saya sembari sedikit berkelakar, “Ancene rejeki anak soleh, yo ngene iki, cak. Alhamdulillah.” Saya balaslah pesan tersebut dengan senang hati, “Tolong sampaikan ‘terima kasih banyak’ dulu kepada Bu Ike.”

Waktu itu, memang saya sedang tidak membersamai Bu Ike dan SGA karena adanya acara lain yang juga tak kalah penting (sekali-sekalilah berlagak koyo wong-wong kae). Walhasil saat itu saya hanya bisa membalas “terima kasih” via teman yang mengirim pesan. Sekalipun demikian, tetap nanti di hari Senin, waktu mengantar SGA dan Bu Ike ke stasiun saya akan berterima kasih kepadanya secara langsung, tanpa adanya aling-aling apapun.

Tibalah di hari Senin, 27 Oktober 2025, waktunya mengantar SGA dan Bu Ike dari hotel menuju Stasiun Purwokerto. Sewaktu Bu Ike dan SGA sudah duduk manis di dalam mobil, seketika saya lontarkan terima kasih atas selembar sarung, hadiah dari beliau. Bagi saya pribadi, seburam kaca mata saya, Bu Ike adalah pribadi yang ajer peraupane, sumeh, dermawan, dan ramah ala-ala priyayi Keraton Yogyakarta. Sementara SGA adalah sosok yang serius, disiplin, dan pemikir tidak lunak tapi terkadang humoris dengan melambungkan jokes bapak-bapak. Pada intinya, terima kasih atas segalanya.

1 komentar untuk “Bersama Seno Gumira Ajidarma: Perihal Wiper, AT Center, dan Selembar Sarung”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top