
Langit malam, 16 Agustus 2025 di Desa Winongsari, Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo, terasa istimewa. Bukan sekadar perayaan rutin, malam itu menjadi saksi bagaimana makna kemerdekaan benar-benar dihidupkan. Warga desa berkumpul bersama mahasiswa KKN UMP kelompok 048 untuk sebuah tasyakuran, merayakan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Ini bukan cuma soal upacara, tapi soal kebersamaan dan gotong royong yang terasa hangat.
Kepala Desa Winongsari, Bapak Agung Aryanto, memulai acara dengan mengingatkan semua yang hadir. Ia bercerita tentang pengorbanan para pahlawan dan perjalanan panjang bangsa ini. Pesannya jelas: kemerdekaan itu harus dijaga dengan persatuan. Peresmian alun-alun desa yang baru jadi bukti nyata dari ucapannya. Tempat itu bukan cuma lapangan biasa, tapi ruang baru untuk warga saling bertemu, berinteraksi, dan mempererat silaturahmi.
Suasana semakin khidmat saat Kiai Wahyu Hidayat memberikan tausiah. Beliau mengingatkan peran penting tokoh agama dalam perjuangan bangsa, khususnya saat peristiwa 10 November di Surabaya. Menurutnya, merayakan kemerdekaan itu bisa dengan hal-hal sederhana, seperti pasang bendera atau ikut upacara. Semua itu adalah wujud syukur kita pada Tuhan. Ia mengajak semua orang untuk terus menjaga persaudaraan dan peduli pada sesama, karena itulah jiwa nasionalisme yang sejati.
Malam itu semakin terasa menyentuh saat sebuah puisi dibacakan, “Sebuah Jaket Berlumur Darah” karya Taufiq Ismail. Semua orang terdiam, mendengarkan dengan seksama. Kata-katanya berhasil membawa mereka kembali merenung, membayangkan betapa beratnya perjuangan para pahlawan yang rela berkorban. Ditambah suasana desa yang sunyi dan asri, momen refleksi ini jadi begitu mendalam.
Puncak acara yang paling berkesan adalah saat tumpeng keluar. Bukan untuk dimakan sendiri-sendiri, tapi untuk disantap bersama-sama. Di tengah obrolan dan tawa, terlihat jelas semua orang berbaur: warga, perangkat desa, sampai mahasiswa KKN. Mereka duduk melingkar, makan bersama, seolah menunjukkan bahwa hubungan antara warga di desa itu sangat erat. Kekompakan mereka dalam merayakan kemerdekaan adalah bukti nyata bahwa persatuan bukanlah sekadar kata-kata.
Peristiwa di Desa Winongsari ini menunjukkan bahwa kemerdekaan itu lebih dari sekadar bebas dari penjajah. Kemerdekaan adalah kesempatan untuk bersatu, melestarikan budaya, dan membangun kehidupan yang harmonis. Semangat gotong royong yang mereka tunjukkan adalah bukti nyata bagaimana kemerdekaan bisa dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kebersamaan dan persatuan, desa ini bisa terus maju, menjaga tradisinya, dan menjadi tempat yang lebih baik.
Sofia Rahma, lahir di Purbalingga tahun 2004. Sekarang masih menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Ia juga aktif di Himpunan Mahasiswa PBSI UMP. Mahasiswi yang hobi shoppig dan memasak ini, bisa di sapa melalui Ig: @@sofiarahmaa_______




