Perjuangan Sopir Mikro Bus Purwokerto-Bumiayu Melawan Senjakala Bus Kota

“Dari murahnya DP sepeda motor, ojek online ditambah Trans Banyumas, rasanya makin berat saja mas cari uang. Apalagi sejak demo-demo kemarin”.

Agus, sopir salah satu mikro bus yang pagi itu hanya membawa segelintir penumpang tetap setia memainkan kopling dan gas di tengah kepadatan jalan raya AjibarangPurwokerto. Bangku mikro bus lebih banyak kosong saat bus meninggalkan Ajibarang untuk melaju sampai ke tujuan akhir, Terminal Bulupitu Purwokerto. Bus melaju sesuai Standard Operating Procedure (SOP) dari bosnya, bahkan bangku kosong pun tetap melaju dengan kencang. Mereka menjaga SOP kencang itu sebagai identitas diri -yang sudah diketahui penumpang mikro bus- sejak puluhan tahun yang lalu mengaspal di jalan raya.

Bus yang saya tumpangi pagi itu adalah salah satu mikro bus yang masih bertahan di era gempuran layanan moda transportasi umum berbasis online (ojol), murahnya DP kredit sepeda motor dan Trans Banyumas. Memang saat ini masih ratusan mikro bus yang beroperasi di Banyumas Barat (Terminal Bulupitu-Bumiayu). Namun kondisinya sudah tergerus zaman. Bangku kosong lebih banyak dibawa wara-wiri tanpa ada lagi pemandangan penumpang yang berjejal di dalamnya.

***

Deretan kursi samping sopir kosong. Akhirnya saya pindah duduk di samping sopir -yang lincah menyelip di antara jejalnya pengguna jalan pagi itu. Saya bisa banyak mengobrol dengannya. Meskipun tetap berkonsentrasi di balik kemudi.

Saya berani mengobrol karena sopirnya ramah. Namanya Agus (nama sebenarnya). Ia sudah puluhan tahun menjalani profesi sebagai sopir mikro bus. Sudah mengalami berbagai macam masalah. Awal ia jadi sopir, harus anak kondektur (kenek) yang menerima uang dari penumpang. Saat itu memang penumpangnya banyak. Dari anak sekolah, orang kerja, sampai pedagang. Urusan narik uang harus ada yang ngurus. Sehingga ia bisa konsentrasi di balik kemudi. “Dulu, sehari 3 kali PP bisa dapat 3 juta mas. Sekarang kalau mau dapat sisa setelah dipotong solar dan setoran minimal dapat 600 ribu. Tapi itu kotor lho ya. Baru nanti ada sisa lumayan. Itupun tidak mudah. Saya dan sopir yang lain dari PO ini mungkin lebih beruntung dari yang lain sehari bisa dapat 600 ribu. Karena kami menjaga pelayanan yang diinginkan penumpang. Kami itu cepat dan tidak ngetem.

Saat Trans Banyumas beroperasi, awalnya mendapat penolakan dari sopir-sopir. Dari sudut pandang sopir, adanya ojol ada dampak penurunan penumpang. Sekarang ditambah adanya Trans Banyumas. “Meskipun sekuat apapun kita menolak, lawanya kemajuan zaman sih mas, bukan pemerintah, ya kita pasrah saja sama yang di atas. Rezeki sudah ada yang ngatur. Akhirnya saya dan teman-teman rata-rata nambah nyari pemasukan lewat carteran wisata atau jadi sopir travel panggilan”, seraya ia menyodorkan barcode nomer WA-nya. Ia meminta saya untuk menyimpan kontak WAnya. “Siapa tahu suatu saat butuh bus mas”, baik pak jawabku mantap.

Di tengah digitalisasi moda transportasi, bisa saja mereka beralih jadi non tunai seperti Trans Banyumas. Tapi “pasar” mereka bukan itu. Pasar mereka adalah para pedagang kecil di pasar, kuli panggul, buruh, dan sejenisnya. Yang bukan dunia mereka pembayaran secara non tunai.

Sebenarnya masih banyak yang menggantungkan hidup di balik kemudi seperti dirinya. Karena tidak hanya ia, ada bengkel dan para penumpang yang memang tidak bisa beradapatasi dengan zaman. Agus tidak bisa membayangkan 5 tahun atau 10 tahun ke depan, armada bus seperti yang ia kemudikan seperti sekarang akan seperti apa nasibnya. Apakah masih ada yang beroperasi harian, atau berubah jadi seperti apa.

Sekarang adalah era senjakala transportasi umum konvensional. Apakah para sopir mikro bus dan pengusahanya mampu bertahan atau beradaptasi? Semoga kebijakan pemerintah bisa mengakomodir mereka. Agus dan sesama sopir sudah menerka, jalur operasi bus mereka juga akan dilalui oleh moda transpostasi umum masa kini. Dan itu tidak lama lagi.

1 komentar untuk “Perjuangan Sopir Mikro Bus Purwokerto-Bumiayu Melawan Senjakala Bus Kota”

  1. Irfan Fadhlurrahman

    Salah satu alasan terbesar kenapa sekarang mikro bus sepi penumpang karena ada sebagian kru bus yang seenaknya menentukan tarif atau biasa disebut dengan istilah nutuk. Terutama bagi orang yang jarang naik bus atau orang yang habis turun dari bus malam biasanya menjadi sasaran untuk melakukan tindakan tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top