Cara Mendapatkan Beasiswa Kuliah

Sore hari, saat saya sedang memberi pakan ayam-ayam yang di samping rumah, terdengar suara motor berhenti. Kemudian terdengar suara salam, yang suaranya tidak asing. Ternyata Mas Hasan Ghazali bertandang ke rumah. Dia bersama anak perempuanya.

Setelah saya cuci tangan -karena tangan saya penuh dengan bekatul dan campuran pakan ayam yang lain- saya menyalami mereka. Lalu mempersilakan duduk. Sambil mengencangkan sarung, saya menanyakan kabar mereka. Obrolan basa-basi tentang ayam, pohon pisang, dan air PDAM yang mati, menjadi prolog.

Kedatangan mereka adalah untuk menanyakan tentang cara mendapatkan beasiswa. Padahal, kalau cari lewat internet, sungguh banyak informasinya. Mungkin mereka mencari validasi atas informasi yang bertebaran itu. Meskipun sekarang saya bekerja di sektor non-formal, tapi anggapannya saya bisa diajak sharing. Mereka tahu saya pernah mendapatkan beasiswa untuk kuliah. Adik saya juga begitu. Termasuk beberapa saudara saya. Mungkin kisah itu sampai ke telinga Mas Hasan.

Anaknya sekarang kelas 10 madrasah dan mondok. Sedang izin sehari, karena mengurus KIP (Kartu Indonesia Pintar) katanya. Kemudian saya tanya, di pondok boleh baca novel ngga? Dia jawab boleh, sambil mengangguk. Saya kemudian masuk, mengambilkan novel Sang Alkemis, Paulo Coelho. Ini dibawa ke pondok, dibaca saat senggang. Ia menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu lanjut mengobrol. Inti obrolan adalah tentang mempersiapkan anaknya untuk mendapatkan beasiswa kuliah.

Setelah menyeruput teh yang dihidangkan ibu saya, mulai saya menanggapi. Saya mulai dengan pertanyaan, mengapa ingin menguliahkan anaknya? Dan juga pertanyaan ke anaknya, mengapa ingin kuliah? Itu adalah pertanyaan dasar. Namun, pertanyaan dasar seperti itulah yang harus mendapatkan jawaban yang singkron antara orang tua dan anak. Sehingga cara pandang tentang kuliah, andaikan tidak sama, setidaknya bisa saling memahami.

Pertanyaan saya selanjutnya adalah, apakah ada jurusan atau kampus tertentu yang ingin diraih? Mas Hasan menyerahkan jawaban itu ke anaknya. Ia menjawab sebuah jurusan di salah satu kampus negeri ternama di Yogyakarta. “Okey, bagus itu”, tanggap saya. Pertanyaan saya selanjutnya adalah, apakah harus kampus itu? Bagaimana kalau kesempatan kuliah, malah terwujud di kampus lain yang itu malah sesuai dengan tujuanmu kuliah? Ia mengangguk, tidak masalah, asalkan tetap belajar.

Saya lalu menyampaikan bahwa beasiswa kuliah itu banyak sekali. Ada yang didapatkan sebelum jadi mahasiswa, atau saat sudah jadi mahasiswa. Jika sebelum jadi mahasiswa, tentu persiapannya harus sejak dini. Termasuk sungguh-sungguh saat sekolah, karena penilaian akademik akan menjadi tolak ukur.

Selain itu, saya juga menyampaikan bahwa ada jalur beasiswa lain, seperti prestasi. Biasanya beasiswa ini untuk para atlet dan pemenang lomba. Ada juga beasiswa untuk para penghafal Al-Qur’an. Kalau itu malah bisa kuliah di Timur Tengah. Tapi saya belum pernah mendengar beasiswa untuk seniman atau budayawan muda. Mungkin ada, hanya saja saya belum pernah dengar. Beasiswa untuk penari ebeg atau lengger misalnya. Atau untuk para pemain kethoprak dan para wiyaga.

Ada juga beasiswa karena aktif di organisasi. Sehingga terjalin koneksi dan relasi karena mengikuti kegiatan. Sebenatar. . . ini bukan orang dalam lho ya. . . Jenis beasiswa seperti ini adalah beasiswa yang mengedepankan portofolio. Termasuk yang sudah aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan.

Saya juga menyarankan untuk tertib administrasi sejak sekarang. Karena beasiswa apapun itu, kelengkapannya adalah administrasi. Kalau ikut lomba atau kegiatan yang ada sertifikatnya, disimpan baik-baik. Jangan ditinggal di pondok. Disimpan di rumah. Kalau perlu dilaminating. Lalu scan dan disimpan di Google Drive. Biar kita punya bukti jika ndilalah fisiknya hilang atau rusak.

Asalkan orang tua dan anak sudah kompak begini, saya yakin beasiswa bisa didapatkan. Apalagi niatnya sudah baik. Mas Hasan menambahkan, “Memang kuliah tidak menjamin kesuksesan seseorang, tapi setidaknya akan memperluas kemungkinan seseorang akan berhasil.” Saya menyetujui itu, “Yang penting kamu happy dengan jurusanmu kelak, dan jangan yang memberatkan.” Anaknya Mas Hasan mengangguk, dan novel Sang Alkamis masih dalam genggamannya.

Obrolan kami ditutup dengan saya ingatkan kepada mereka dan diri saya sendiri. “Ketika seorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta bersatu untuk membantu orang tersebut mewujudkan impianya”, ini ada di dalam sini, sambil saya menepuk sampul novel Sang Alkemis.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top