
Cerita ini saya dengar dari orang tua saya. Bukan cerita dongeng, bukan cerita yang dikarang-karang, ini cerita nyata yang sampai sekarang masih bisa kamu buktikan sendiri kalau datang ke Desa Sokanegara, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga.
Waktu itu kemarau panjang banget. Semua kering. Tanah retak, tanaman mati, sumur-sumur warga sudah tidak ada airnya. Orang-orang bingung mau ambil air dari mana. Kondisinya benar-benar susah. Hewan-hewan ternak pun mulai kelihatan lemas. Anak-anak tidak bisa main di luar karena panas yang menyengat. Orang dewasa pergi jauh hanya untuk mencari setimba air. Desa yang biasanya hidup, mendadak jadi sunyi dan lesu.
Tapi di tengah kemarau seperti itu, ada dua orang tua yang namanya Nasidi dan Sukirno tetap pergi ke kebun buat mencangkul. Mungkin sudah kebiasaan, atau memang tidak ada kerjaan lain. Mereka mencangkul seperti biasa sampai tiba-tiba Nasidi lihat ada yang aneh. Di satu sudut kebun, ada rumput yang masih hijau. Padahal sekelilingnya sudah kering semua. Kok bisa?
Nasidi penasaran, terus manggil Sukirno. Mereka berdua mulai bersihkan area itu, terus coba gali. Tanahnya lembab. Makin digali makin basah. Dan tiba-tiba air keluar, deres banget. Dari lubang yang dalamnya bahkan tidak sampai satu meter.
Itu musim kemarau lho.
Nasidi dan Sukirno sampai tidak percaya. Mereka coba raup airnya pakai tangan, nyata. Dingin dan segar. Sukirno bahkan langsung meminumnya begitu saja, tidak peduli belum dicuci dulu. Mereka berdua terdiam sebentar, lalu saling senyum. Entah mau bilang apa.
Warga langsung heboh begitu tahu. Pada berdatangan bawa ember dan jerigen. Ramai sekali. Orang-orang yang sudah berhari-hari susah cari air, sekarang ada sumber air di depan mata. Dari situlah tempat ini mulai disebut Sumur Ajaib.
Nah, yang bikin cerita ini terus diingat sampai sekarang itu bukan cuma soal airnya keluar di musim kemarau. Tapi karena banyak orang yang ngerasain manfaat lain dari air sumur ini.
Yang paling banyak diceritakan itu soal penyakit kulit. Gatal-gatal yang sudah lama tidak sembuh, jerawat yang membandel, masalah kulit lainnya, banyak yang bilang membaik setelah pakai atau minum air dari sumur ini. Cerita ini bukan dari satu dua orang, tapi banyak. Sampai akhirnya orang dari luar desa pun mulai pada datang.
Ada juga yang datang karena urusan jodoh. Yang sudah lama belum ketemu pasangan, datang ke sini, minum airnya sambil berdoa minta dipertemukan jodoh yang baik. Dan katanya tidak lama kemudian doanya terkabul. Entah kebetulan atau memang begitu, tapi ceritanya terus menyebar.
Terus ada juga soal kecerdasan. Katanya kalau minum air sumur ini sambil berdoa minta kecerdasan, pikiran jadi lebih jernih dan lebih gampang belajar. Banyak orang tua yang sengaja ambil air dari sini buat diminumin ke anaknya supaya pintar.
Percaya tidak percaya sih memang tergantung masing-masing orang. Tapi yang namanya cerita seperti ini, kalau tidak ada buktinya sama sekali, tidak akan bertahan sampai sekarang dan tidak akan sebanyak itu orang yang datang.
Yang paling bikin saya heran sampai sekarang adalah sumur itu masih ada. Dalamnya tetap tidak sampai satu meter. Airnya memang sudah tidak sederas dulu, tapi tidak pernah benar-benar habis. Sudah melewati banyak musim kemarau, tapi airnya tetap keluar.
Kalau sekarang memang sudah tidak seramai dulu. Orang-orang tidak lagi berdatangan setiap hari membawa ember dan jerigen. Tapi ada satu malam yang sampai sekarang masih membuat tempat itu terasa berbeda, malam Jumat Kliwon. Entah siapa yang memulai, tapi sudah sejak lama ada saja orang yang datang ke sumur itu di malam tersebut. Mereka tidak selalu ramai, kadang hanya satu dua orang. Tidak banyak yang tahu pasti mereka ke sana untuk apa. Yang terlihat, kadang mereka membawa sesajen. Duduk sebentar di dekat sumur, lalu pergi. Tidak ada yang mengharuskan, tidak ada yang melarang. Tapi tradisi itu terus berjalan, dari tahun ke tahun, tanpa ada yang benar-benar menjelaskannya.
Dua orang tua sederhana yang waktu itu cuma mau mencangkul di kebun, tidak menyangka mereka bakal nemuin sesuatu yang sampai sekarang masih diingat dan dikunjungi banyak orang. Mungkin memang hal-hal luar biasa itu tidak selalu muncul dari tempat yang istimewa, kadang cukup dari kebun biasa, cangkul biasa, dan dua orang tua yang iseng penasaran sama rumput hijau di tengah kemarau.
Rahmat Ari Setio Warso adalah mahasiswa dari UIN Saizu Purwokerto, Jurusan Tadris Matematika. Lahir dan besar di Desa Sokanegara, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Sapa saja lewat Instagram: @rahm.atari12




